Mohon tunggu...
Rd. Syarani
Rd. Syarani Mohon Tunggu... Lainnya - .

tentang buku, sepeda, debian, motor tua, musik, makanan, bubin LantanG dan bang Rhoma

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pulang

6 Maret 2023   21:05 Diperbarui: 6 Maret 2023   21:13 140
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
foto dari peakpx.com

Meja bundar yang rangkanya dari besi, di atasnya adalah kaca doff berpola gelombang.  Kaca buram, sanggahmu selalu.  Kamu yang selalu senyum tertahan tapi selalu khusuk saat bertemu dengan Choco loco favoritmu, dan senyummu semakin lebar saat menikmati bagian puncak yang selalu dilakukan di bagian terakhir, yaitu menggigit pelan-pelan sendok kecil yang juga terbuat dari cokelat.  Manisnya pas, ucapmu selalu, ..dan unik.. tambahmu lagi.

Spot yang kamu pilih selalu dekat jendela, tak jauh dari pintu masuk, walaupun pemandangan di luar tak kelihatan dengan jelas karena tertutupi oleh aliran air yang dibuat seperti terjun menutupi nyaris semua bagian jendela putih terang itu.  Justru itu seninya.. katamu .. sembari menengok motormu di parkiran, biar tidak hilang..  sambungmu lagi sembari terbahak.  Tentu sambil menutup mulutmu dengan tangan kiri, entah kenapa selalu begitu.

Jalan Cik Ditiro baru dua belas menit beranjak dari pukul sebilan malam, selusin tahun silam.  Saat semua fragmen di atas tergambar di kala Jogja baru saja usai hujan.  Selalu saja hujan yang dijadikan alasan untuk pulang agak malam.  Caramu menikmati minuman dengan sederhana, sesekali menunduk malu-malu, lalu di menit lain asik bercerita tentang masa-masa akhir di kampus sembari menegaskan rencana dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan.. denganmu.. jawabmu tanpa ragu, saat aku bertanya caranya.

Mata lebarmu yang selalu saja terlihat bersinar, memercik binar kembali, dan parasmu menunduk tatkala perlahan telapak tanganmu yang dingin aku genggam, tanpa berusaha menarik dan pelan-pelan melepasnya, seperti yang biasa kamu lakukan.  Rasanya tak ada yang tidak bisa kita gapai saat itu, menaklukan dunia pun rasanya hal yang tak telampau sulit.

Hanya pukul sebelas yang menyebabkan genggaman tangan harus terurai, dan tak seperti biasanya, dirimu membiarkan diriku mengikutimu dari belakang, mengantarmu ke selatan.  Ke arah rumah joglo di tengah persawahan yang biasanya hanya aku lihat dari pinggir jalan, dari gerbang masuk kampung.  Nganternya sampai sini saja dulu, ya.  Begitu selalu pintamu.

Sampai pertengahan November itu, setelah satu tahun menikmati udara Jogja, baru motorku pelan menapak di jalan tanah yang sebagian dicor itu, yang nyaris tanpa ada penerangan.  Di dekat pertigaan, motormu menghilang di tikungan.  Aku hanya tersenyum, dan pelan ikut membelok ke kiri.  Lalu berhenti di depan pagar tembok, yang dipisahkan oleh halaman yang tak seberapa luas dan sedang ada keramaian di teras rumah.

Seorang bapak tua, yang tampak bijak menghampiriku.  Matanya bertanya-tanya.  
"Masnya, siapa?"
"Saya teman dekatnya Fleur, pak.."
"Mas Jalu, bukan?.."
"I-iya, pak.  Tadi saya ke sini barengan sama Fleur, sekalian tadi dia minta antarkan pulang.."
"Mas Jalu, matur nuwun telah mampir, tapi Fleur, putri saya sudah pulang duluan tadi sore.."
"Maksudnya, pak?"

Aku cuma bingung, dan hanya bisa terpaku, setelah menyadari ada bendera hijau dengan lafadz lelayu terpasang layu di depan pagar.  

"..tadi sore, Fleur pamit mau menemui mas Jalu, cuma di perempatan Kentungan, ada bis dari barat..."

Aku tak bisa lagi menyimak ucapan bapak tua yang semakin terbata dan tak begitu jelas, dan langit kembali menurunkan jutaan titik air hujan yang menjelma anak panah, menancap di dua titik: hati dan kesadaranku.. Dunia pun tiba-tiba gulita.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun