Mohon tunggu...
Aditira
Aditira Mohon Tunggu... Konsultan - Pengembara kehidupan yang mencoba berbuat sesuatu yang lebih baik bagi kehidupan ini

Kehidupan ini akan berjalan seperti apa adanya. Baiknya tidak terlalu memaksakan diri diluar kemampuan kita.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Semakin Punahnya Pertanian Organik Tradisi Kalimantan

20 Mei 2022   19:38 Diperbarui: 20 Mei 2022   19:51 337
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dari keseluruhan desa dan petani yang mengikuti pelatihan ini, belum  dilakukan upaya untuk membentuk kelembagaan ICS secara khusus.  Tetapi kelompok-kelompok tani maupun Gapoktan yang telah ada di masing-masing desa tersebut dapat menjadi cikal bakal kelembagaan ICS jika pada saatnya nanti dibutuhkan, terutama ketika telah ada dan siapnya produk-produk beras kampung atau pangan lokal yang akan dipasarkan ke pasar keluar desa seperti ke kota kabupaten Putusibau, kota kecamatan Badau, Teupai, Kota kabupaten Sintang maupun Melawi.

 

Mimpi Petani ke Depan

Beberapa mimpi yang dihasilkan dari pengembaraan ini, diantaranya adalah Petani kelompok ICS organik di desa Poring bermimpi akan memiliki peternakan ayam kampung organik sebanyak minimal 200 ekor dan dapat membuat pupuk organic sendiri agar dapat menyuburkan tanah untuk kebun-kebun sayur.  Meskipun menurut Pak Ayub-PPL dari Dinas Pertanian dan Perikanan Melawi, "di poring ini memang cukup banyak masalah pertanian, terutama karet dan berladang kering. 

Disini sebenarnya masih organik, karena belum tersentuh barang dan obat kimia dalam pengolahannya. Namun kendala di sini adalah dari alamnya, saat mencoba menanam padi di system persawahan, padi yang ditanam akan berpindah karena banjir. Jadi saat ini system pengairan untuk persawahan masih menjadi kendala untuk di desa Poring. Dan terkait holtikultura juga di desa ini masih pada pertanian local sayur mayur".  

Dan Kepala Desa Poring sendiri menyatakan bahwa "di desa kami ini memang masih kekurangan ilmu dan SDMnya. Kami sangat berterimaksih karena WWF mau bersedia hadir ke desa kami untuk berbagi ilmu terkait pertanian. Kami terus mencoba membangun agar kelompok pertanian ini menjadi icon desa. Kami ingin pertanian dan system pertanian disini menjadi lebih maju. Cita-cita kami kedepan desa ini memiliki Bumdes dan bisa menjual beras kampung".

Komunitas petani Rumah Betang dusun Sei Utik berkomitmen akan berembuk untuk mengembangkan potensi buah lokal dan hasl hutan non kayu mereka untuk dapat diolah menjadi produk organik unggulan terutama untuk minimal kebutuhan turis yang akan berkunjung ke rumah betang tersebut. 

Rembug kan tersebut lebih dimaksudkan untuk mensinergiskan program-program yang didukung oleh berbagai pihak yang masuk dan dikembangkan di desa ini.  Semoga berbagai pihak yang sedang dan akan masuk ke dusun Sei Utik ini dapat membangun sinergis dengan inisiatif produk organik ini.

Komunitas petani dusun Kelayam akan mengembangkan  pupuk alami atau organic dan membuat Pilot project mengenai jenis-jenis tanaman pangan yang berpotensi menjadi produk organik. Dan menurut Petugas Penyuluh Lapangan  yang turut serta dalam pelatihan, rencana ini akan dikomunikasikan dengan Dinas Pertanian kabupaten Kapuas Hulu untuk kiranya bisa mendapatkan dukungan.

Petani dari Desa Tanjung akan membuat Demplot Sayur organik seperti labu, terung, mentimun, kacang panjang dan cabe. Luas lahan minimal setengah hektar, Sayur-sayuran organic Lahan Menetap tanpa Bakar seluas hektar dan Demplot Kopi organik, hektar. Kopi campur ada liberica, robusta dan Ladang Organik Menetap tanpa Bakar Ha.  Jenis/Varietas Lokal/Beras Kampung : varietas Sakak.  

Petani dari Desa Lubuk Antuk akan membuat Demplot Satu petak sawah organik yang ditanami jenis padi Inpari dan Beras Kampung Jawas.  Petani dari Desa Mentawit akan membuat Demplot padi lokal organik  (Beras Kampung Jawas)  dan Beras/Padi Cisadane minimal 1 Ha.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun