Mohon tunggu...
Priyo Joko Purnomo
Priyo Joko Purnomo Mohon Tunggu... Penulis - Hello, World!

Penikmat karya sastra klasik dan warisan budaya lainnya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Legenda Totok Kerot Kediri

20 Agustus 2020   21:57 Diperbarui: 20 Agustus 2020   22:13 1855
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sang putri turun dari pendapa istana menuju ke pedati diiringi oleh inang dan dayang-dayangnya. Ia tampak cantik dengan balutan kain batik bermotif sulur bunga-bunga. Rambutnya terurai panjang dengan mahkota kecil menghiasi kepalanya. Para prajurit istana pun takjub melihat kecantikan Sang Putri.

"Kakang, mari berangkat sekarang agar kita bisa kembali pulang sebelum matahari berada tepat di atas kita," begitulah ujar Sang Putri kepada para prajurit yang akan mengawalnya. 

Ada dua pedati yang telah disiapkan. Pedati pertama tampak megah berwarna keemasan. Pedati itu dinaiki oleh Sang Putri dan Inang. Sedangkan, pedati kedua terlihat lebih sederhana dan kecil. Pedati itu dinaiki oleh keempat dayang Sang Putri. Masing-masing pedati itu ditarik oleh dua kerbau yang dikendalikan oleh seorang prajurit. Prajurit yang lainnya berjalan kaki di barisan depan untuk membuka jalan dan memastikan keamanan rombongan Sang Putri.

Keluar dari gerbang istana, mereka disambut dengan senyum dan sapaan hangat dari rakyat. Rakyat di kerajaan Lodaya sangat mencintai Raja, Ratu, dan Sang Putri. Raja Lodaya terkenal bijaksana dan adil. Meskipun wilayah kerajaan itu kecil, tapi segala kebutuhan hidup rakyatnya dapat terpenuhi dengan baik. Hasil pertanian dan perkebunan di wilayah Lodaya sangatlah unggul. Banyak pedagang dari kerajaan lain yang membeli hasil pertanian dan perkebunan Lodaya. Biasanya, rakyat Lodaya dan para pedagang dari luar itu bertemu di Sungai Brantas.

Sang Putri sangat menikmati perjalanannya ini. Ia senang melihat rakyatnya yang hidup rukun dan saling tolong menolong. Ia tersenyum melihat anak-anak kecil yang sedang asik bermain di tanah lapang. Ada yang bermain lomba lari, ada yang bermain tepuk tangan, ada juga yang menari sambil diiringi bunyi-bunyian dari bambu. Mereka tampak bahagia sekali. Sang Putri pun merindukan masa kecilnya yang penuh tawa dan bahagia.

Tidak terasa, perjalanan mereka hampir sampai di Sungai Brantas. Dari kejauhan sudah terdengar riuh keramaian di dermaga sungai itu. Dermaga itu bernama Darungan. Ukurannya cukup luas. Banyak perahu berukuran kecil dan perahu berukuran sedang yang singgah di dermaga itu.

"Kakang, saya ingin turun sebentar di Dermaga Darungan," ujar Sang Putri.

"Baik, Tuan Putri," jawab pengawal.

Para prajurit yang baris di depan segera membukakan jalan untuk pedati Sang Putri. Rakyat di dermaga itu tampak bersemangat ingin melihat rombongan dari istana. Mereka yang tadinya sibuk dengan aktivitas perdagangan, sejenak mereka berdiri dam memberi salam hormat untuk menyambut Sang Putri. Sang Putri pun turun dari pedatinya. Ia berjalan melihat aneka dagangan di Dermaga Darungan. 

Para pedagang di dermaga ini hanya bisa tersenyum dan tersipu malu ketika dagangannya dilihat oleh Sang Putri. Di dermaga ini ada menjual sayur-mayur, buah-buahan, kain, pernak-pernik, hingga gerabah dan keramik. Barang-barang itu tidak hanya berasal dari Lodaya dan sekitarnya. Namun, banyak barang yang asalnya dari Tiongkok dan Persia. Para pendatang ini sangatlah ramah. Banyak di antara mereka yang memilih menetap di Lodaya dan sekitarnya.

Setelah melihat aneka dagangan di Dermaga Darungan, Sang Putri kembali pedati dengan membawa keranjang berisikan buah-buahan. Sang Putri sangat menyukai buah karena dapat menyehatkan tubuhnya. Sang Putri percaya, buah-buahan dapat menghindarkan dirinya dari berbagai macam jenis penyakit. Sang Putri pun segera mengutus pengawalnya untuk melanjutkan perjalanan menyeberangi Sungai Brantas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun