Mohon tunggu...
koko anjar
koko anjar Mohon Tunggu... Freelancer - Seorang penikmat senja dengan segala romantikanya. Menyukai kopi dan pagi sebagai sumber inspirasi dan dapat ditemui di Hitsbanget.com.

Seorang penikmat senja dengan segala romantikanya. Menyukai kopi dan pagi sebagai sumber inspirasi dan dapat ditemui di Hitsbanget.com.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Cinta Kilat-part 1

21 November 2018   21:05 Diperbarui: 21 November 2018   21:10 733
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Dah kamu istirahat dulu, aku mau ke depan, nanti kamu pulang bareng aku lagi aja. Gak ada yang jemput kan???"

"Iya kak"

Satria ditinggal sendiri di ruang UKS. Posisi ruang UKS yang berada di belakang sekolah membuat ruangan itu terasa sepi. Apalagi waktu itu sudah jelang magrib. Rasa takut dan ingin gabung dengan teman-temannya di lapangan depan mendadak muncul. Akan tetapi kalau ingat bagaimana ia dihukum tadi, membuatnya berfikir lebih baik ketemu setan daripada senior. Satria pun memilih untuk tidur. Lagian kepalanya juga masih pusing.

"Ayok pulang...udah selesai kegiatannya"

Sambil setengah tersadar, Satria terbangun dari tempat tidur.

"Terus tugasku buat besok bagaimana kak? Hukuman dari kak Ivan??"

"Aku dah bilang ke Ivan tadi. Kamu aman kok tenang aja. Nih aku catetin apa yang harus kamu bawa besok. Jangan sampai gak dikerjain. Kamu terlalu kuat buat tidur di ruangan ini."

Satria hanya tersenyum kecut. Dilihatnya daftar tugas yang diberikan Puspita. Ia besok harus membawa buah pir malang biji hitam, indomi rasa jeruk purut, dan air suci. Istilah yang membuatnya mengernyitkan dahi.

"Makasih ya...kamu jadi nganterin aku dua hari ini"

"Eh...kamu pikir ini gratis?"

"Lhah...bayar to?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun