Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis

Penulis Konten | warungwisata.com | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Bila Ingin Berkata Kasar, Belajarlah Bahasa Surabaya

1 September 2020   23:59 Diperbarui: 2 September 2020   10:18 312 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bila Ingin Berkata Kasar, Belajarlah Bahasa Surabaya
Meski dianggap sebagai bahasa paling kasar, bahasa Surabaya menunjukkan karakter penutur yang tegas (ilustrasi diolah dari depositphotos.com)

Sewaktu kecil, setiap kali aku mudik ke desa di kabupaten Blora, Jawa Tengah, aku sering dinasihati ibu,

"Kalau bicara sama anak-anak desa, jangan pakai bahasa Surabaya."

"Lho, kan sama-sama bahasa Jawa toh Bu?" protesku saat itu.

"Iya, tapi logatnya kan beda. Bahasa Surabaya itu kasar, kurang halus dibandingkan bahasa Jawa Tengahan."

Dan benar saja. Saat bermain dengan anak-anak sebaya di desa ibuku itu, aku seperti makhluk asing. Dianggap aneh karena logat bahasa Jawaku yang kasar. Bahkan pernah ibuku mendapat keluhan dari salah satu orangtua temanku. Katanya aku mengajarkan kata-kata tidak pantas pada anak mereka.

Padahal aku hanya berkata "koen gocik!" (kamu penakut!). Mungkin karena tidak terbiasa mendengarnya, orangtua teman-temanku di desa menganggap frasa itu seperti kata-kata makian.

Bahasa Surabaya Paling Kasar di Antara Bahasa Jawa Lainnya

Bagi orang Jawa Mataraman (masyarakat Jawa yang tinggal di Jawa Tengah & Yogyakarta, dan perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah),  dialek Jawa Timuran dianggap sebagai dialek bahasa Jawa yang kasar. Dan di antara beberapa dialek Jawa Timuran, dialek Surabaya sering dianggap yang paling kasar.

Penggunaan bahasa Jawa halus (madya sampai krama) di kalangan orang-orang Surabaya juga tidak sehalus di Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta. Generasi orang tua di Surabaya sudah banyak mencampurkan kosakata Jawa ngoko yang lebih kasar dalam penggunaan bahasa Jawa madya dan krama yang mereka gunakan sehari-hari.

Boleh dikatakan, secara struktural bahasa Jawa, dialek Suroboyoan menduduki tingkat bahasa paling kasar. Meski begitu, bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya, sebagai bentuk penghormatan atas orang lain.

Ciri khas Bahasa Surabaya

Salah satu ciri khas yang membedakan bahasa Jawa Surabaya dengan bahasa Jawa standar adalah penggunaan partikel tanya "rek". Partikel ini berasal dari kata "arek", yang dalam dialek Surabaya menggantikan kata "bocah" (anak) dalam bahasa Jawa standar. Partikel "rek" jika digunakan dalam kalimat diucapkan dengan ekspresi bertutur yang tegas dan menunjukkan semangat. Berbeda jika menggunakan "cah" (dari kata bocah) yang terdengar lebih kalem atau santai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x