Himam Miladi
Himam Miladi Penulis

Freelance Content Writer| Blogger | Editor | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Buatlah Artikelmu Mudah Dibaca dengan Memperbaiki Tingkat Keterbacaannya

13 Maret 2019   00:04 Diperbarui: 13 Maret 2019   00:18 257 13 8
Buatlah Artikelmu Mudah Dibaca dengan Memperbaiki Tingkat Keterbacaannya
sumber foto ilustrasi : unsplash.com/@johnschno

"A mathematical theory is not to be considered complete until you have made it so clear that you can explain it to the first man whom you meet on the street." - David Hilbert

Sebuah esai yang bagus itu harus menarik dan mudah dibaca. Menarik untuk dibaca tidak sama dengan mudah dibaca. Esai yang menarik untuk dibaca tergantung pada kualitas isi atau gaya penulisan. Sedangkan esai yang mudah dibaca itu ditentukan oleh tingkat Keterbacaan/Readibility.

Apa itu Keterbacaan/Readibility?

Perhatikan contoh berikut:

"Ani membeli sedikit mentega. Tapi mentega yang dibeli Ani ternyata pahit. Jadi, Ani kembali lagi membeli mentega yang lebih baik daripada mentega yang Ani beli sebelumnya. "

Sekarang, pertimbangkan contoh berikut ini:

"Ani membeli sedikit mentega.

Tapi mentega yang dibeli Ani ternyata pahit.

Jadi, Ani kembali lagi membeli mentega yang lebih baik daripada mentega yang Ani beli sebelumnya."

Yang mana yang kamu sukai? Yang kedua lebih menarik secara visual dan mudah ditangkap mata kita, bukan? Ini karena format penulisan kedua lebih jelas dan lebih mudah dibaca.

Sekarang perhatikan gambar tangkapan layar berikut ini. Sebut saja tangkapan layar yang pertama (atas) namanya Sarah. Dan tangkapan layar yang kedua (bawah) namanya Laura.

Tangkapan layar 1

sumber tangkapan layar: dokumentasi Himam Miladi
sumber tangkapan layar: dokumentasi Himam Miladi
Tangkapan layar 2

sumber tangkapan layar: dokumentasi Himam Miladi
sumber tangkapan layar: dokumentasi Himam Miladi
Misalnya kita sedang berbicara dengan Sarah, yang memiliki kosakata yang mengesankan. Hanya saja, saat kita berbicara dengannya, kata-kata yang diucapkan Sarah seolah hanya melintas di kepala. Sedangkan arti/pesan yang hendak disampaikan Sarah malah tidak kita pahami. Di sisi lain, bayangkan kita berbicara dengan Laura, yang berbicara dalam bahasa yang lebih sederhana. Apa yang diucapkan Laura bisa kita mengerti dengan lebih baik.

Dengan Sarah, kita bisa jadi sering berpikir bahwa bahasa kita ternyata tidak sesuai dengan standar bahasa yang digunakan Sarah. Jadinya, alih-alih terlibat aktif dengan berbalas kata, kemungkinan kita hanya akan menutup mulut dan tersenyum saja sampai pembicaraannya selesai.

Berbeda bila kita berbicara dengan Laura, yang bahasanya mudah dicerna. Kita bisa proaktif menimpali pembicaraan tersebut. Berbicara dengan Laura yang memakai bahasa sederhana dan mudah dipahami membuat kita merasa setara dan tidak rendah diri.

Dua ilustrasi diatas membawa kita pada arti dari Keterbacaan:

Keterbacaan konten adalah penanda yang membantu kita untuk menentukan apakah konten/artikel yang kita buat mudah dibaca atau tidak.

Gagasan tentang Keterbacaan muncul pada 1920-an di Amerika Serikat. Ketika itu jumlah anak yang bersekolah di sekolah menengah di sana meningkat. Para pendidik mulai membicarakan apa yang seharusnya diajarkan pada anak-anak sekolah ini.

Sebuah saran diajukan oleh Thorndike dalam bukunya "The Word Teachers' Word Book" (1921). Buku itu mencantumkan 10.000 kata, masing-masing memberikan nilai berdasarkan perhitungan luas dan frekuensi penggunaannya. Idenya adalah buku ini dapat memberi tahu para guru tentang kata-kata mana yang harus mereka tekankan dalam pengajaran mereka sehingga kata-kata yang paling umum digunakan dapat ditanamkan dalam kosa kata siswa mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5