Mohon tunggu...
Mohamad Irvan Irfan
Mohamad Irvan Irfan Mohon Tunggu... Penulis - Penulis dan Aktifis Sosial

Sedang belajar jadi Penulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Akhirnya Sang Kayu Sempat Mengatakan Kata yang Tak Sempat Diucapkan kepada Api yang Menjadikannya Abu

29 Juli 2020   23:22 Diperbarui: 6 Agustus 2020   23:00 711
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Begitu pula ketika dia ngajak saya ke sekolah naik bis umum, saya gak mau, berat di ongkos, 3 kali naik bis (Depok-Ps. Minggu, Ps. Metro Mini S62 jurusan Minggu-Manggarai turun di simpang Jl. Tebet Barat Dalam nyebrang jalan, lanjut naik metro mini S60 jurusan manggarai-kp. melayu).

Awalnya dia beberapa bulan naik bis, sementara saya naik kereta KRL dari Stasiun Depok Baru turun di Stasiun Tebet, dari stasiun tebet jalan kaki sekitar 500 meteran nyebarng rel kereta. Lalu pada akhirnya dia ikut saya, naik kereta KRL, karena lebih asik dan seru, banyak teman seperjalanannya.

Naik kelas 2 SMA. pada saat memilih penurusan minat saya memilih jurusan A4 atau jurusan Budaya. Pada waktu itu penjurusan di SMA terbagi atas 4 jurusan yaitu jurusan A1 itu jurusan Fisika, A2 itu jurusan biologi, jurusan A3 itu jurusan IPS, dan A4 jurusan bahasa dan budaya. Tapi jurusan A4 ini tidak wajib untuk semua SMA.

Pada waktu itu SMA Negeri 37 memiliki Laboratorium bahasa termasuk yang paling bagus di Jakarta. Saya memilih jurusan tersebut karena mulai tertarik dengan bahasa asing, terutama bahasa inggris. Ketika Iko bertanya ke saya mau milih jurusan, saya bilang jurusan A4 Bahasa dan Budaya. Ternyata dia sepaham dengan saya. Jadilah kita sekelas kembali sampai kelas tiga, karena jurusa A4 hanya satu kelas.

Nah saat kelas 2 SMA jurusan bahasa dan budaya ini lah saya menngetahui kepenyairan bokapnya Iko yaitu dari guru bahasa dan sastra Indonesia. Namun waktu itu saya lebih suka Chairil Anwar dan Rendra, mungkin karena jiwa muda memberontak yang terkandung dalam puisi-puisi kedua penyair tersebut.

Saat kelas 3 SMA, beberapa bulan menjelang EBTANAS (Sekarang UN, saya dan 3 teman sekelas yang tinggal di depok, yaitu Aru, Slamet, dan Almarhum Zulfahri mendapatkan les gratis dari Ibunya Iko.

dok. pribadi
dok. pribadi
Tahun 1989 lulus SMA, melalui ujian seleksi nasionan UMPTN, saya diterima di jurusan Sastra Jerman FSUI, dan Almarhum Iko diterima di sastra Inggris UGM. Namun dua tahun kemudian, tahun 1991, dia pindah ke jurusan Sastra Inggris FSUI. Jadilah kami kembali bersama di FSUI namun beda jurusan dan beda angkatan, saya angkatan '89, sementara Iko angkatan '91.

Awal tahun '90 an saya malah lebih suka membaca novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer. Baru ketika terbit kumpulan puisi nya Sapardi Dkolo Damono, yaitu "Hujan Bulan Juni" saya mulai menyukai puisi-puisinya.

Selain "Hujan Bulan Juni" saya juga menyukai kumpulan puisinya yang lain yaitu "Perahu Kertas. Dan menurut saya kumpulan puisinya "Hujan Bulan Juni" adalah karya masterpiece-nya.

Ada yang saya sesalkan yaitu tak bisa mengambil mata kuliah sosiologi sastra, yang mana Pak Sapardi yang jadi dosen pengajarnya karena, tapi berbenturan waktunya dengan mata kuliah wajib jurusan, yaitu bahasa Jerman.

Pada waktu Pak Sapardi jadi Dekan FSUI, saya sekali ke ruangannya untuk meminta persetujuan cuti kuliah satu semester. Cuti tersebut saya manfaatkan untuk kursus filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ( Rektornya waktu itu masih Romo Franz Magnis).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun