Mohon tunggu...
Pinggala Mahardika
Pinggala Mahardika Mohon Tunggu... Empty

Tertatrik di bidang industri kreatif

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tur Kecil-kecilan

1 April 2019   18:23 Diperbarui: 1 April 2019   18:54 0 1 0 Mohon Tunggu...

Kopi, nongkrong, obrolan yang tidak penting, suara tawa, dan alunan musik payung teduh menjadi rutinitas kami setiap malam. Malam itu malam minggu, tepatnya setelah bagi raport semester ganjil kami nongkrong dirumah Langit. Rumah Langit merupakan markas besar grup "Keraton". Keraton bisa dibilang sebagai genk yang anggotanya merupakan teman-teman dekatku di sekolah.

Malam begitu hening pada saat itu, ditambah lagi dengan alunan mellow music folk jazz dari payung teduh membuat suasana semakin syahdu. Entah mengapa, pada waktu itu masing-masing dari kami seperti enggan mengeluarkan suara untuk memulai percakapan. 

Madi mengisi kekosongan waktu dengan menggosok akar bahar untuk dijual. Akar bahar adalah tumbuhan laut yang biasanya diolah menjadi berbagai kerajinan tangan yang bernilai tinggi.

Ayah Madi merupakan salah satu pengrajin akar bahar yang cukup terkenal di Kota Muntok, maka dari itu ia melakukan hal tersebut untuk menambah uang saku ketika menjelang liburan. 

Beda lagi dengan Gembul, games adalah  santapan yang dilahapnya setiap hari. Ia selalu up to date dengan dunia games. Kalau sudah memgang androidnya, ia tidak bisa diganggu lagi bagaikan batu, tak peduli hujan tak peduli panas. Lain ceritanya dengan Apri, ia adalah seorang madridista sejati. 

Kecintaannya pada Real Madrid tak ada yang bisa menandinginya. Ia rela mengorbankan matanya menahan rasa kantuk demi menyaksikan laga klub kesayangannya itu. Jika ia melewatkan satu pertandingan, ia akan menontonnya lewat youtube tanpa memikirikan berapa banyak kuota yang dihabiskan untuk itu. Pinho, merupakan anak hits masa kini. Ia yang paling modis diantara kami. 

Foto foto yang diunggah di akun instagramnya selalu banjir 'like'. Hal itu membuat followers instagramnya melesat dengan drastis bak selebgram papan atas. Kalau Buluk, masih saja sibuk membalas chat dari berbagai wanita. Handphonenya tak pernah sepi. Ia adalah playboy kelas kakap yang harus diwaspadai setiap wanita. Buluk tak pernah kehabisan amunisi untuk meluluhkan hati wanita. 

Aku bingung mengapa begitu banyak wanita yang terpikat olehnya. Bolehlah kusebut dia sebagai mafia cinta dan asmara kaum abg labil. Sedangkan Langit, masih berjibaku di dapur menyiapkan kopi dan mie goreng untuk kami. Dan aku, hanya bisa termenung dengan gitarku yang memainkan melodi sumbang tak berirama sambil melamuni apa yang harus kulakukan selama liburan nanti.

Tak lama setelah itu, Langit mengantar kopi dan mie goreng ke ruang tamu. Hanya butuh beberapa saat bagi kami untuk melenyapkan mie goreng itu dari piring. Bunyi perut yang tadinya menggerutu seperti orang mau demo perlahan-lahan mulai kondusif dan terkendali. 

Setelah merasa kenyang, barulah obrolan "ngalor-ngidul" keluar dari mulut para ningrat Keraton. Mulai dari kondisi politik, harga cabai, model motor masa kini, nilai rapot semester yang amburadul, skor pertandingan sepak bola, tingkah laku tetangga sekitar rumah, sampai rumah tangga orang menjadi bahan diskusi para ningrat keraton.

Di tengah-tengah percakapan yang ngalor ngidul itu, tercetus satu ide gila yang keluar dari mulut Buluk.

"Liburan masa di Mentok trus, bosen ah. Mending besok kita ke Pkp yok? Modal bensin aja cukup kok." Ujar Buluk.

"Modal bensin? Kau gila ya? Aku lagi gaada duit, mau  makan pake apa? Masa makan batu., ogah ah!", balas Langit.

"Aduh, masalah kaya gitu kok pusing. Gampanglah, yang penting modal badan,aja cukup kok. Aku ikut, duitnya belakangan! Hahahaha.", pungkas Gembul.

"Mumpung aku ada tabungan cadangan nih. Daripada duitnya aku abisin buat yang ga jelas, mending buat ngetrip aja. Aku juga lagi pengen jalan-jalan, sekalian nyari channel baru, hehehehe.", kata Pinho.

"Bener tuh, kalo ada niat pasti ada jalan. Banyak jalan menuju Roma, boii.", Buluk menjawab sambil bersemangat.

"Aku sih yes, mas Anang. Gimana kalo mas Dhani?", jawab Apri sambil tertawa.

"Kalo aku nunggu proyek dari Boss cair. Biar ga kelaperan disana nanti. Hahahah", lanjut Hadi.

"Oke deh kalo gitu, kalo semua mau pergi, aku ikut juga deh. Kebetulan honor manggung minggu kemaren masih aku simpen, sengaja buat liburan.", aku menjawab.

Dengan begitu, artinya semua personil keraton menyetujui ide tersebut. Tapi biasanya, jawaban seperti itu bukan berarti ide tersebut akan terlaksana. Banyak ide-ide serupa tidak pernah terealisasi, tak jauh beda seperti para politikus melontarkan janji-janji manis dari mulut mereka, omong kosong belaka. Namun kali ini, Buluk menanggapi serius jawaban kami dan ia sangat bersemangat mengenai hal itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7