Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi: Kabut dan Kopi

3 Maret 2024   21:10 Diperbarui: 3 Maret 2024   21:11 227
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar oleh emilie767 dari pixabay.com

Asap di atas cangkir kopi
luruh di dalam kabut yang menyelimuti lereng bukit.
Hanya kabut sejauh mata memandang
dan pucuk-pucuk pinus yang mengintip sesekali.

Matahari belum juga mampir.
Sepertinya pagi ini dia sengaja membiarkan penghuni desa
melesapkan mimpi sekuat-kuatnya
meresapi dingin sepuas-puasnya
dan menyesap kopi hitam senikmat-nikmatnya.

Ya,
sudah ada suara canda bocah-bocah
lenguh kerbau yang ditarik petani
dan tumbukan lesung dari balik dinding-dinding dapur.
Tapi tirai-tirai kabut yang masih betah menggantung di udara
membuat suasana pagi lebih seperti mimpi daripada realita.

Asap di atas cangkir kopi
luruh di dalam kabut yang semakin pekat.
Kopi hitam dalam cangkir yang tersisa
telah kehilangan panasnya bermenit-menit yang lalu
tapi
aroma kopi masih tercium meliuk-liuk di udara.

Ah,
sebuah teko yang masih mengepul diletakkan di sampingku.
Dari sini rupanya asal aroma harum arabika itu.
Ibu Mertua pun mempersilakan aku menambah kopi.
"Kalau cuaca begini, kopi lebih cepat dingin," ucapnya
lalu beranjak kembali ke dapur.


Kabut dan kopi
yang mengisi bait-bait intuisi
mari ucapkan salam pada jam-jam libur yang hampir usai.

---

barombong, 3 maret 2024

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun