Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Prabowo Menggali Lubang Kekalahannya Sendiri

18 Mei 2019   08:27 Diperbarui: 19 Mei 2019   13:36 0 33 22 Mohon Tunggu...

Sejak kemarin, berseliweran Prabowo berada di luar ngeri melalui pesan percakapan. Hampir semua grup ada kiriman, bahkan grup lingkungan gereja pun ikut-ikut. Padahal sejak siang melihat isu itu masih belum sepenuhnya yakin. Malam baru makin banyak percakapan dan pemberitaan itu.

Media arus utama pun sudah mencari-carikan konfirmasi. Orang-orang terdekat mengatakan tidak benar, photo tahun lampau, dan ada dari juru bicara resmi BPN yang mengonfirmasi benar ada di Brunei menyikapi perkembangan terbaru. Entah apa maksudnya toh media itu juga berhenti pada itu saja.

Isu dan photo Prabowo dkk ke luar negeri hanya kisah sangat kecil dibandingkan lobang yang digali oleh Prabowo cs selama ini. Lima tahun waktu yang cukup panjang sebenarnya jika mau membangun citra baik dan menjanjikan sebagai seorang calon presiden yang berkompetisi dengan lawan yang sama.

Modal awal pemiihan 2014 dan memiliki kecenderungan fanatis, sayang malah tidak diolah dengan baik. Narasi kebencian, asal bukan Jokowi, dan pemerintah gagal selalu menjadi refrein yang diulang-ulang, dan akhirnya, puncaknya dalam pemilu pemilih maaf menjadi muak dan menghukum dengan cukup telak. Minimal ada dua pukulan, partisipasi naik yang cukup lumayan dan itu cenderung ke pasangan lain. Kedua, keterpilihan Prabowo menurun.

Fokus hanya pada Jokowi dan kursi kepresidenan, bukan membangun citra diri pemimpin jauh lebih baik dari rivalnya. Padahal ia sudah kenal siapa Jokowi, siapa pemilihnya, dan apa yang harus dibuat. Apa daya, hanya kursi dan kursi yang dipandang. Jualanya malah membuat nama Jokowi makin naik dan melambung.

Bagaimana tidak, ketika capres dan cawapres, BPN, semua senada mengatakan kegagalan dan keburuka pemerintah sepanjang massa kampanye. Tidak ada satu pun kisah kesuksesan dan gagasan serta wacana yang mereka tawarkan sebagai sebuah solusi dan terobosan bagus untuk bangsa lebih baik. Ini jelas menawarkan dagangan dengan menjatuhkan dagangan pihak lain. strategi penjualan kuno yang sudah usang.

Pilihan untuk mereduksi pmiih rival, berkaitan dengan yang awal tadi, dengan membela bak babi buta atas penegakan hukum oleh pemerintah dengan jajarannya. 

Bagaimana hingar bingarnya mereka yang kemudian malu dengan kisah Ratna Sarumpaet, Rizieq Shihab, Ahmad Dhani, dan banyak kisah serupa. Namun mereka kemudian melupakan begitu saja ketika sudah dalam persidangan. Nista.

Kebersamaan dengan kelompok-kelompok yang sudah mulai menjadi "musuh publik", jelas pilihan yang menjadi bumerang fatal. Cukup bisa dimengerti memang bahwa politik itu semua adalah kawan dan perlu dirangkul ketika berbicara potensi pemilih. 

Namun reputasi mereka yang ada di sana, termasuk pembelaan mati-matian pada ormas yang di mana-mana dilarang itu jelas parah. Potensi  yang tidak seberapa malah merugikan adanya kemungkinan pemilih lain yang lebih besar.

Lima tahun yang ada bukan memperjelas visi misi, gagasan besar, namun malah mengekor ala Trump dan melupakan identitas dan karakteristik bangsa sendiri. Lihat bagaimana di Jawa secara umum, bahkan DKI sebagai "miliknya" pun lepas. Apalagi dengan pilkada DKI yang menjadi rujukan, itu malah makin dalam galian yang ia ciptakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2