Mohon tunggu...
Puji Astuti
Puji Astuti Mohon Tunggu... Saya adalah seorang yang punya kegemaran mencurahkan isi kepala juga isi hati dalam tulisan

Kehilangan deskripsi tentangku sendiri, yang ku tau "manusia harus berjalan dititian takdir" dan aku juga manusia.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Sepotong Hati Didekap Lara

14 Desember 2019   21:10 Diperbarui: 14 Desember 2019   21:12 31 2 0 Mohon Tunggu...
Sepotong Hati Didekap Lara
Mehtesemyuzil.com



Malam ini,
Malam tidak sendiri
Malam menyatu dengan tetesan hujan yang telah hadir sejak senja belum dimula
Malam resah
Bulan murung sembunyikan wajah.

Di sebuah sudut malam,
Sepotong hati diam terpaku
Hati yang sejak lama di diami begitu banyak kisah resah
Hati yang sejak lama tak pernah lagi berpeluk riang
Meski jutaan tangkai bunga di sajikan sebagai pengindah pandangnya.

Sudah sangat lama,
Sejak sang pemilik hati nyatakan bahwa adanya tiada.
Sudah sangat lama,
Sejak percik-percik luka itu menyatu dalam rasa.
Luka yang diciptakan oleh penyembuh luka
Luka yang digoreskan oleh pencipta rindu
Sudah lama sekali,dan luka itu tetap berdarah setiap kali senja usai rasa sakit selalu kian mendera.

Kini sepotong hati itu tetap sendiri,
Selalu sendiri
Meski sebuah nama telah disatukan dengan nama sang pemilik hati
Oleh sebuah upacara yang berakhir dengan kata "sah"

Kerlingan nakal dan lucu anak-anaknya mampu menghadang genangan air mata nya,
Namun tak mampu membawanya ke singgasana bahagia.
Sudah begitu lama dan tetap terbiar begitu saja
Raga hati itu melepuh,
Terbakar setiap kali matahari hampir tenggelam jelang senja.

Oh Tuhan...
Sampai kapan, mengapa rasa itu tiada iba terus terjaga lalui setiap malam dengan butir-butir air mata yang bahkan tak mampu ia tangis kan.
Sampai kapan...
Tuhan

Kepahiang, 14 Desember 2019
20.34 wib

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x