Nurul Hidayati
Nurul Hidayati Dosen

Ordinary woman; mom; wife; lecturer; psychologist; writer; story teller; long life learner :) Hmm, nice to meet you! :)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Stop "Sharing" Tayangan Kekerasan! Belajar dari Kasus "Live Streaming" Bunuh Diri via Media Sosial

20 Maret 2017   12:18 Diperbarui: 21 Maret 2017   19:27 152 5 1
Stop "Sharing" Tayangan Kekerasan! Belajar dari Kasus "Live Streaming" Bunuh Diri via Media Sosial
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Mengapa Seseorang Berpikir tentang Bunuh Diri (Suicide)?

Munculnya pikiran-pikiran untuk melakukan bunuh diri (suicide) biasanya terkait dengan peristiwa yang membuat seseorang stres (stressful events) dan perasaan sedih yang tak kunjung berlalu. Sebagian orang mampu dengan cepat melampaui periode penuh tekanan dalam hidup mereka. Namun, sebagian lainnya terus-menerus larut dalam duka. Kemudian, muncul perasaan kewalahan, kesedihan yang kian memburuk, dan mulai muncul pikiran dan perasaan bahwa kondisi mereka tidak akan membaik.

Peristiwa-peristiwa apa saja yang bisa menjadi stimulus bunuh diri? (sumber dalam Bellenir, 2010)

  • Meninggalnya seseorang yang dicintai
  • Melihat dan mengalami kekerasan
  • Perpisahan (perceraian) orang tua / mengalami perpisahan (perceraian)
  • Mengalami saat-saat sulit di tempat yang berarti baginya (di sekolah, perkuliahan, tempat kerja)
  • Permasalahan terkait kecanduan (NAPZA)
  • Kemarahan yang mendalam terhadap sesuatu
  • Perasaan jauh dari / terisolasi dengan keluarga / teman
  • Perasaan ditinggalkan / dijauhi / dikucilkan                    

Bunuh Diri: Bagaimana dan Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Beberapa waktu lalu, seseorang berinisial I melakukan bunuh diri dan fatalnya ia menyiarkan perbuatan tersebut secara live (via live streaming di media sosial Facebook). Dia menyampaikan beberapa pernyataan terkait kesedihannya ditinggal pasangan yang sangat dicintainya, kemudian dia memberikan pernyataan lanjutan: bahwa mungkin dia akan bunuh diri (mungkin juga tidak).

Sungguh sebagai seseorang yang concern terhadap permasalahan subjective well being individu dan masyarakat, peristiwa ini mengguncang diri.

Pertama, terkait keputusan untuk melakukan live streaming di internet. Bunuh diri itu menular. Sila baca artikel-artikel terkait hal ini, baik di media populer maupun di literatur ilmiah. Seseorang tidak bisa menganggap remeh tayangan bunuh diri orang lain, apalagi hal itu sesuatu yang nyata (bukan fiksi). Hal ini sesuatu hal yang serius, dan berdampak serius pula. Tak jarang, seseorang yang tengah depresi akan "terinspirasi" untuk melakukan bunuh diri sebagai dampak tayangan tersebut. Tentu korban sudah tidak mungkin kita harapkan untuk berpikir jernih, dalam kondisi stres berat (dengan indikasi depresi) seperti itu. Namun, masyarakat kita (khususnya netizen) yang kemudian dengan ringan berkomentar, memberi tanggapan “heboh-hebohan” ala audience yang sedang menayangkan sinetron di layar kaca atau drama percintaan ala Awkarin, hal itulah yang sangat menyedihkan bagi saya.

Terus terang, saya seorang yang tak cukup punya hati untuk menyaksikan adegan sarat kekerasan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Namun, saya sangat terpanggil untuk menggali data tentang fenomena ini. Maka, berhari-hari saya kumpulkan kepingan demi kepingan tentang kasus ini. Tidak untuk memuaskan “rasa kepo” / rasa keingintahuan berlebihan saya sebagai manusia, namun untuk memberikan sedikit sudut pandang bagi kita semua. 

Bahwa dalam hal kita telah bebal / membebalkan diri terhadap segala bentuk adegan / tayangan kekerasan / merusak diri (dan orang lain) / menyakiti diri (atau orang lain) lalu menyebarkannya dan menanggapinya sama ringannya dengan ketika kita memperbicangkan gaya fashion terbaru atau kita sedang ingin makan apa dan di resto mana, maka kita semua sedang berada dalam frekuensi yang sangat berbahaya. Kita dengan (atau tanpa) kita sadari sedang mendaftarkan diri menjadi bystanders, menjadi penonton (yang abai / yang aktif bersorak-sorai / apa pun), yang perlahan dan pasti mengarahkan masyarakat kita menjadi masyarakat yang “sakit” secara psikologis.

Kedua, terkait pemahaman kita terhadap korban. Mengapa dikatakan korban? Bukankah dia pelaku? Depresi adalah penyakit psikologis. Orang yang sedang kita soroti tersebut sedang menderita suatu penyakit. Dia memang pelaku, sekaligus korban.

Cukup banyak masyarakat kita (khususnya netizen) yang memaki-maki, menghujat, dan melabel korban dengan berbagai label yang buruk. Apakah hal itu suatu hal yang baik?

Tidak. Mengapa? Karena kita tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik dengan melakukan hujatan-hujatan atau pelabelan tersebut.

Lalu, cukup banyak netizen yang menyalahkan keluarga korban (khususnya pasangannya). Apakah hal ini juga baik? Saya katakan: tidak.

Kembali ke poin sebelumnya, bahwa keputusan bunuh diri tersebut dilakukan oleh seseorang yang sedang sakit secara psikologis. Kalau dilihat dari beberapa pernyataan korban, dan beberapa status yang diunggah korban sebelumnya, indikasi bahwa korban mengalami depresi itu ada.

Artinya, kalau masyarakat kita peka, orang-orang di sekitar korban bisa menangkap ada gejala-gejala stres ataupun depresi pada diri korban, maka hal yang sangat urgent dilakukan adalah mengajak orang tersebut (pada waktu itu) ke psikolog atau psikiater. Namun, justru hal tersebutlah yang tidak pernah dilakukan.

Jangan Menangisi Susu yang Sudah Tumpah: What Next?

Karena depresi merupakan gangguan dan tidak bisa berlalu dengan sendirinya, untuk membantu orang-orang yang mengalami depresi dibutuhkan bantuan profesional (psikolog dan / atau psikiater). Namun setidaknya, pengetahuan kita tentang beberapa gejala khas depresi dapat membantu kita untuk melakukan identifikasi dini terkait seseorang yang mengalami depresi.

Stres merupakan bagian dari kehidupan kita saat ini. Namun, ketika batas ambang toleransi stres manusia terlampaui, maka ia akan mengalami kondisi distress (stres). Apabila kondisi stres ini berlangsung berkepanjangan, apalagi disertai gejala-gejala khas depresi seperti:

(1) Mengharapkan yang terburuk (pesimis); (2) Membesar-besarkan konsekuensi dari kejadian-kejadian negatif; (3) Mengasumsikan tanggung jawab pribadi untuk hasil yang negatif walaupun tidak beralasan; (4) Secara selektif hanya memperhatikan aspek-aspek negatif dari berbagai kejadian.

Sesuatu hal yang khas terkait depresi, yakni learned helplessness. Orang yang mengalami depresi secara selektif fokus pada hal-hal negatif. Suatu kejadian yang negatif seperti kegagalan meraih grade tertentu dalam ujian, bisa merambat pada penilaian negatif terhadap berbagai hal lainnya. Rasa tidak bisa mengasuh anak secara baik, rasa kecewa terhadap peran suami dalam pengasuhan anak pun demikian, bisa meluas ke hal-hal lain sehingga hampir semua hal dipersepsikan negatif. Generalisasi yang terlampau luas dari suatu hal yang negatif menjadi suatu bentuk keyakinan bahwa “Aku orang yang gagal”; “Aku orang yang tidak berguna” ; “Aku bodoh” ; “Aku tidak punya masa depan” merupakan salah satu mekanisme berpikir yang terdistorsi (tidak tepat /tidak sesuai kenyataan) khas orang yang mengalami depresi.

Depresi tidak sama dengan kesedihan pada umumnya. Sedih, senang, marah, takut, jengkel: semuanya merupakan emosi yang wajar dimiliki manusia. Depresi memiliki karakteristik khusus, dan biasanya tidak berlalu dengan sendirinya sehingga membutuhkan bantuan professional: psikolog dan / atau psikiater.

Beberapa hal yang khas dari gangguan depresi selain perasaan sedih, yakni munculnya perasaan tidak berdaya, pola berpikir yang terdistorsi, kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri terkait hal-hal negatif yang terjadi, self esteem dan self confidence yang lebih rendah dibandingkan orang lain yang tidak mengalami depresi.

Gejala lain yang sering dilaporkan muncul yakni adanya episode kesedihan, sering menangis, merasa apatis, pola tidur berubah (sulit tidur atau terlalu banyak tidur), pola makan berubah (terlampau banyak atau tidak mau makan), dan kelelahan yang berkepanjangan. Bisa kemudian disertai pikiran-pikiran atau upaya bunuh diri.

Depresi bisa terjadi pada siapa saja, tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa. Anak-anak dan remaja pun dapat menderita gangguan depresi.

Stop Stigma! Stop Sharing Tayangan Kekerasan!

Tidak ada yang lebih buruk dari memberikan stigma terhadap seseorang yang tengah membutuhkan bantuan! Maka, Stop stigma terhadap seseorang yang mengalami depresi.

Kalau tidak mau (tidak bisa) membantu, setidaknya kita bisa berupaya berempati terhadap kondisi yang tengah dialami penderita depresi. Dalam kasus seseorang yang bunuh diri dan meninggal, maka kita perlu stop memberikan stigma terhadap keluarganya, baik itu pasangan (atau mantan pasangan) ataupun anak-anaknya.

Guilty feelings (perasaan bersalah) keluarga yang ditinggalkan juga biasanya amat tinggi sehingga stigma dan penilaian yang menghakimi adalah hal terakhir yang mereka inginkan. Dan stop sharing identitas serta foto-foto (apalagi video) korban dan keluarga! Perlakukan keluarga korban secara empatik. Mereka sangat membutuhkan empati dan dukungan kita.

Beredarnya tayangan kekerasan sudah cukup cepat, tanpa kita ikut berpartisipasi di dalamnya. Seseorang yang sering melihat tayangan kekerasan walaupun ia tidak meyakini dirinya bukan pendukung kekerasan, lama-kelamaan batas ambang toleransi kekerasan dalam dirinya tanpa ia sadari akan berubah. Dan kita sesungguhnya sulit mengetahui, sejauh mana dampak tayangan kekerasan tersebut terhadap perilaku kita, bukan? Kalau kita sudah mulai permisif terhadap berbagai tayangan kekerasan, yang ditunjukkan dengan komentar-komentar ringan kita (bahkan menertawakan hal tersebut), saya katakan hal itu bukan pertanda baik. Kita semua perlu waspada dan mengevaluasi diri.

Apa pun yang bisa dan sanggup kita lakukan untuk mencegah kekerasan, lakukanlah. Apa pun yang bisa kita lakukan untuk membantu meringankan stres seseorang, lakukanlah! Apa pun yang bisa kita lakukan untuk mendukung keluarga yang sedang tertimpa musibah, lakukanlah! Apa pun langkah, sikap, atau perkataan empatik yang bisa kita munculkan, lakukanlah! Bisa saja, satu langkah kecil Anda menyelamatkan masa depan sebuah (atau banyak) keluarga! Bukankah kita semua manusia?

Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam hangat.