Mohon tunggu...
Nur Janah Alsharafi
Nur Janah Alsharafi Mohon Tunggu... Konsultan - Seorang ibu yang menyulam kata dan rasa dalam cerita

ibu 4 anak dengan sejumlah aktivitas . Tulisan-tulisan ini didokumentasikan di blog saya : nurjanahpsikodista.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Oktober Sweet Oranges (A Psycho-Story by Nur Janah AlSharafi)

4 Oktober 2017   02:50 Diperbarui: 13 Oktober 2017   01:13 528
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kepada Ra

Selalu saja aku merasakan manisnya jeruk dari apapun yang kau sajikan. Meski baki cinta yang kusajikan kau isi dengan 'garam laut yang luar biasa asin', begitu sampai di 'lidah hidupku' tetap saja terasa kesegaran sebuah jeruk manis. Lain waktu sengaja kau buatkan aku segelas 'juice pare' pengalaman yang teramat sangat pahit mungkin ?  Sekali lagi di 'lidah perjalananku' akan didaur ulang menjadi kenikmatan gurihnya ulas demi ulas sang jeruk manis.

Kau tentu akan bertanya mengapa ? Atau mungkin kau telah bosan melahap senyum di bibirku yang sebenarnya tulus ikhlas, meski sering kau katakan senyum plastik. Jiwaku telah kutempa di panasnya bara, lewat sederet noktah hitam dan putihnya perjalanan. Setiap noktah yang kulewati selalu saja memberikanku pelajaran berharga, sehingga aku diberikan anugerah kelenturan jiwa seperti ini.

Pertama kali aku bertemu denganmu di sekolah ketika kita sama sama SMA. Aku paham siapapun akan lumer hatinya mendengar renyahnya bincangmu dan meronanya pipimu, dan itu juga perasaanku. Perasaan laki-laki normal yang tentu tak kuasa untuk tidak jatuh di depan angkuhnya kecantikanmu.

Sederhana saja Ra, aku kemasi cintaku dalam sebuah buku kosong kehidupan. Aku tulis dengan tinta emas yang aku dapatkan dengan menggandaikan mimpiku sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluargaku. Jika kau kemudian menerima proposal lamaranku , mungkin itu karena Allah swt memang menakdirkan bahwa kita berjodoh. Kata orang aku ganteng Ra, kata orang aku ini pria yang pintar dan punya segudang energi untuk merancang dan meraih kesuksesan hidup duniawi.  Hal itu juga kudapat pada dirimu Ra. Kamu adalah sosok perempuan pintar, cantik, ambisius dan punya visi untuk maju. Itu yang dulu kitangkap dari sosokmu. Terus terang Ra pada saat aku memutuskan untuk meminangmu, aku telah melaluinya dengan melewati sebuah pertimbangan yang matang dan panjang. Beberapa kali aku shalat istikharah mohon petunjuk sang Khaliq,  aku tak tahu pasti apakah istikharahku berhasil atau tidak namun aku tetap pada keputusanku. Aku juga telah bertanya kesana dan kemari tentang sosokmu yang sebenarnya. Dan yang paling penting aku juga kemudian memutuskan cintaku pada Za, sosok perempuan sholehah yang ceria dan menyejukkan hati meski dengan kecerdasan biasa saja. Apapun dan bagaimanapun toh kemudian aku memilihmu sebagai istri, pendamping dan belahan jiwaku.

Ra, akhirnya kita lalui hari hari bersama setelah kita resmi menjadi suami istri. Aku bangga Ra, kata orang kamu cantik dan aku ganteng atau entah apalagi pujian para tetamu undangan kepada kita. Aku merasakan tatapanmu indah, tatapan yang aku belum pernah melihat sebelumnya. Terlalu indah, kelap kelip dan berwarna warni bagiku. Sehingga dari tatapanmu saja, energi cintaku berlari kencang serasa tak sabar menjemputmu untuk hampir dan menyatu dalam jiwa ragaku.

Ra, awal kehidupan perkawinan kita aku rasakan seperti dua anak kecil yang menjadi teman bermain.  Kita bagaikan anak kecil yang lompat kesana kemari sambil bicara, nyanyi, tertawa dan ceria. Kita bahkan berani membentang harapan dan  cita-cita setinggi bintang dan bulan. Bagi kita saat itu rasanya tak ada yang tak bisa kita lakukan sekalipun kita harus menyelam sangat dalam atau mendaki sangat tinggi untuk menggapainya. Ra, jika orang bertanya apakah aku bahagia ? dengan bangga dan gagah aku jawab dengan teriak lantang bahwa aku bahagia dan mmang bahagia.

Ra, anak kecil yang lompat ceria kesana kemari ternyata bisa lelah juga. Aku mulai rasakan tahun tahun sesudahnya kau mulai berubah. Bagiku secara fisik kau tetap cantik Ra, bahkan kini kau lebih anggun dan pandai berdandan. Jika dulu wajahmu yang ayu cukup kau lumuri dengan bedak merek murahan yang terjangkau dengan kantong kita, kini kau rasanya tak percaya diri jika belum membubuhkan kosmetik mahal merek nomor satu. Tak apa Ra, kau punya uang aku juga punya uang, beli saja sekeranjang kosmetik buat kecantikanmu. Yang aku rasakan berubah adalah jati dirimu Ra. Kau tak lagi  Ra ku yang dulu, kau tak lagi jiwa putih berselempangkan pelangi ceria. Kau tak lagi symphoni indah yang merdu penuh canda dan tawa. Kau tak lagi harumnya aroma ketumbar dan cengkeh dari dapur rumah kita. Kau kini orang asing Ra, aku makin tak kenal siapa engkau sebenarnya.

Ra, perkenalanmu dengan Ji membuat segalanya berubah. Kau profesional Ra di ilmumu di bidangmu, tapi kau paksakan dirimu jadi bintang layar putih. Jika dulu kau bicara dengan anggun dan tulus, kini kau bicara berkibar dan berbinar dengan bungkus topeng kepalsuan. Kau kemas setiap episode tampilmu di layar putih untuk sebuah pajak gadai kemunafikan. Aku mual Ra, Aku mules. Ijinkan aku ke toilet dulu untuk lemparkan dan setorkan kotoran perut dan lambungku karena membicarakan dirimu.

Ra, aku masih mau tegar sebagai laki-laki sehat yang normal. Aku masih ingin ekspresikan emosi positif atau negatifku secara wajar. Aku tak mau seperti penderita sindrom Moebius[1].  Aku marah Ra, apalagi kau begitu dekat dengan Ji. Ji adalah laki-laki sepertiku, ia juga punya nafsu dan aku paham itu. Kau bilang aku jadikan kau komoditi, itu salah Ra. Aku hanya ingin kau beraktualisasi diri, aku bahkan tak pernah menuntutmu untuk bekerja. Sebagai istri, kau kuberi kebebasan untuk memilih jalanmu. 

Namun kau benar-benar nekat Ra, kau lari ke pelukan Ji. Kau cabik-cabik kanvas lukisan cinta kita yang telah kita poles bersama dengan aneka cat warna kehidupan.  Dalam kanvas cinta kita telah hadir beberapa bocah cilik  polos yang tak berdaya.  Bocah bocah itu adalah anak kita Ra, buah cinta kita. Kau campakkan jiwa kasih sayangmu padaku dan pada anak  anak kita, kau ganti dengan ekspresi sadis psikopat yang tak pernah kusangka. Cantikmu tak ubahnya seperti cantiknya Elizabeth Bathory[2].  Kau tinggalkan aku dan anak-anak Ra, kau ceraikan aku. Aku kalah Ra, aku pecundang, hatiku patah Ra hancur berkeping seperti arang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun