Mohon tunggu...
Nur Haniifah
Nur Haniifah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

a student majoring in tourism who values leadership and other organizational-related skills

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tulisan buat Tuhan

20 Agustus 2022   06:10 Diperbarui: 20 Agustus 2022   07:49 213
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

09:16 PM Selasa, 02/23/2021 

Dalam perihal: Surat buat Tuhan saya 

“Tuhan, sebetulnya saya bingung mau apa perlu ditulis.”

Kemarin pagi, rumah saya ribut sekali, Tuhan. Tidak perlu dijelaskan bagaimana, saya yakin Kau tahu kan. Tentu saja menjelang malam masih perkara yang sama. Uang-kerja-uang-kerja-capek. Putaran paling jauh ya tentang gudang rumah yang kepenuhan. Saya masih menunggu besok apalagi yang lebih besar, jangan-jangan rumah petak ini juga seluruhnya dibawa perkara. 

Saya bangun tidur. Saya berdoa. Saya bersyukur. 

Saya mengusap layar ponsel yang beku. Saya tilik jam berapa hari ini saya terbangun. Kadang saya buka aplikasi telekomunika, membangun perasaan baik dengan melihat pesan dari teman saya yang sangat saya sayangi, yang belum sempat saya baca. Ya karena saya ketiduran. Semudah itu saya bahagia setiap hari Tuhan. Bahkan lebih bahagia dari sarapan mie instan rasa ayam bawang. 

Tadi malam saya mimpi Tuhan. Saya tidak ingat detailnya, yang saya ingat punya rumah dengan bufet coklat besar. Tapi kemudian saya langsung lupa. Saya berjalan ke kamar mandi, cuci muka, wudhu, sholat subuh, dan bergegas untuk menghadapi keributan selanjutnya. Biasanya saya sempat merebus 3 ikat sawi dan satu bungkus mie untuk sarapan. Saya memeriksa kembali jadwal kuliah hari ini dan sampai sore saya hanya duduk di depan komputer ini. Ya untuk kuliah, Tuhan. 

Sore hari, saya mandi sebelum jam 4. Saya sholat. Saya berdoa. Saya Bersyukur. 

Kalau bisa, saya mematikan komputer. Tapi memang tugas tidak bisa diam sebentar, jadi saya tetap membukanya sampai malam. Daripada tugas yang diam, malah laptop saya yang jadi lebih sering diam, Tuhan. Kadang saya kesal sampai tepuk-tepuk tangan sendiri, macam orang gila. Karena sudah kebiasaan, ya saya biarkan saja. Maksudnya kebiasaan tepuk tangan itu, Tuhan. 

Malam hari, saya minum susu kotak, rasa coklat. Saya Sholat. Saya berdoa. Saya bersyukur. 

Sekitar seperempat malam, saya masih mengerjakan tugas yang belum bisa diam. Kalau migrain saya sudah berteriak, baru saya berhenti. Saya tiduran. Melihat-lihat ponsel sebentar dan mengucapkan beberapa hal kepada teman yang sangat saya sayangi. Saya berdoa. Saya bersyukur. Baru saya tidur. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun