Mohon tunggu...
Nur Puji Astiwi
Nur Puji Astiwi Mohon Tunggu... Mahasiswa - 🦋

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tiga Hujan yang Berbeda

21 Januari 2022   12:43 Diperbarui: 21 Januari 2022   12:55 367
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Aku ataupun kamu bisa saling mengunjungi kan Ran?” sambung Ben. “Iya, cuma waktu liburan semester dan kalau kamu enggak sibuk.” Jawabku waktu itu.

“Kesan pertamaku bertemu Ben dia laki-laki yang baik Ran, bahkan setelah aku mendengar ceritamu ini dia berusaha ingin membuatmu tenang, kelihatannya dia juga mempersiapkan yang akan kamu butuhkan.” Ucap Gia. “Aku mengenalnya sebagai laki-laki yang baik, ceria, aku selalu merasa aman bersamanya. Aku pun masih mengingat jelas bagaimana saat aku mengantarnya ke Bandara.” Ucapku melanjutkan perkataan Gia

Saat itu Bandara sedikit ramai, orang-orang dari penjuru arah dengan koper ataupun tas gendongnya masing-masing. Ben menarik koper dengan tangan kanan dan tangan kiri menggandeng tanganku dengan berbincang-bincang. “Motor kamu gimana Ben?”. 

“Nanti gampang lah, biar dipaketin Dito ke Bandung. Kalau kamu gak kuliah, kamu yang aku paketin Ran.”         Kata Ben, dengan tertawa. “Jahat banget, kenapa gak dibeliin tiket pesawat?”. 

“Mau? Ayo aku beliin sekarang Ran.” “Enak aja.” Kita saling tertawa. Kemudian Ben menghentikan langkah dan melepas tangannya dari pegangan koper. Tangan kiri yang awalnya menggandengku, lalu berpindah tangan keduanya memegang pundakku. 

“Ran, jaga diri baik-baik ya. Nanti kalau udah ada waktu senggang aku main-main ke Jogja.” Kata Ben. “Iya Ben, semoga sukses ya Kedai kopi kamu yang di Bandung.” Kataku. 

“Tetap fokus kuliah ya Ran, biar cepat wisuda. Nanti di wisuda kamu aku pasti datang dan kita berangkat ke Bandung sama-sama.” 

“Iya Ben, kalau sudah sampai Bandung kabarin ya”. “Pasti Ran, aku berangkat dulu ya.” Pamit Ben dengan melepas tangannya dari pundakku. 

“Hati-hati Ben.” Ucapku dengan tersenyum. Setelah itu, aku dan Ben menjalani hubungan ldr. “Terus bagaimana keadaan kalian saat ldr?” Tanya Gia. 

“Ben selalu memberiku kabar, hanya saja firasatku selalu mengatakan yang berbeda.” Jawabku. “Terkadang kita memang tidak bisa menembak hati dan pikiran seseorang Ran, seringkali kita dibuat bingung antara sikap dan keadaan.” Ucap Gia. 

“Iya, benar Gi. Bahkan dengan seseorang yang sudah kita kenal lama hitungan tahun pun tidak menjamin kita benar-benar mengenalnya.” Jawabku. “Percaya saja Ran, setiap apapun yang terjadi semesta selalu memiliki caranya sendiri untuk menciptakan hal-hal tak terduga. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun