Mohon tunggu...
N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Mohon Tunggu... Seniman - Avonturir

Gelandangan virtual

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Miss You] Kaleidoskop Pikiran En

30 Oktober 2018   15:21 Diperbarui: 30 Oktober 2018   17:11 564
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seorang perempuan muda bergumul dengan setumpuk jurnal dan buku-buku tebal. Di matanya, tersimpan bayang-bayang yang sulit hilang.

Riak-riak masa lalu yang butuh penebusan. Petir berpendar di runcing tatapannya, yang tidak pernah sepi oleh kerumunan ambisi.

"Nebula, kamu yakin mereka siap?" Seorang perempuan setengah baya menghampiri. Pakaian mereka hampir serupa. Jas putih berhias emblem bulan sabit perak.

Perempuan berkode nama "Nebula" menghentikan penelusuran dan meletakkan kacamatanya di atas buku tebal bergambar otak.

Ia mengurut pangkal mata yang pegal akibat terlalu lama berjibaku dengan jurnal-jurnal terkait kecerdasan buatan, psikiatri, neurologi, dan segala ilmu yang mereka butuhkan untuk mewujudkan segala perihal yang konon, hanya sebatas mimpi.

"Fiat experimentum in corpore vili. Biarkan percobaan bekerja pada tubuh tidak berguna. Larisa, misi kita tidak akan terlaksana jika kita tidak memasuki dunia nyata," Nebula berkata tegas, menyebut kode nama rekannya.

Wajah tirus Larisa menegang. Matanya nanar menatap tiga tubuh cantik yang tergolek tidak berdaya.

Di tepi ranjang tercantum nama-nama yang kelak, akan menjadi identitas mereka. "Daisy", "Lily", dan "Mica".

Larisa tercenung mengamati Lily, wajah blasteran Jerman-Indonesia yang mirip dengannya terpahat di sana. Selama beberapa detik, Larisa merasakan kakinya melayang, bagai tercerabut dari tubuh sendiri.

Ia berdecak kagum pada karya dokter bedah plastik asal Korea yang berhasil menduplikasi tubuh dan wajahnya pada sosok Lily.

Nebula mengamati ekspresi rekannya. "Larisa, hilangkan sifat melankolis itu. Kelemahanmu hanya akan menjadi mangsa mereka. Bukankah kamu yang bertugas mengawasi Lily?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun