Mohon tunggu...
N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Mohon Tunggu...

Gelandangan virtual | Pecandu kata-kata | Perempuan hening dengan pikiran yang mengembara | nspertiwi19@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Capcaisin

1 Oktober 2018   07:33 Diperbarui: 3 Oktober 2018   15:50 0 6 5 Mohon Tunggu...
Cerpen | Capcaisin
Sumber ilustrasi: Pixabay

"Rani siapa, Mak?"

"Raaan, sini, Ran! Ada yang mau ketemu," seru Mak Surti. Suara seorang perempuan muda menyahut dari arah dapur.

"Saya Rani, Kak. Aurani." katanya sembari menangkupkan tangan di depan dada.

"Saya Cakra. Boleh panggil kamu Aura?" tanya Cakra, melupakan sambalnya.

Perempuan itu tersenyum, mengangguk. "Itu juga panggilan dari ibu saya."

"Kok Mak Surti manggil Rani?"

"Kalau panggil pakai nama Aura, Emak jadi keinget Aura Kasih. Aneh aja gitu," jawab Mak Surti, memasang wajah jenaka. Cakra nyengir.

Sejak pertemuan itu, ada gerimis yang seketika menyirami hati keduanya. Tidak butuh waktu lama, sampai mereka menjadi sepasang manusia yang belajar mengeja rasa.

Setelah saling mengetahui bahwa mereka sama-sama menggemari senja, Cakra dan Aura selalu melewatkan sore bersama di atap gedung tua. Konon, bangunan setengah rampung itu calon pusat perbelanjaan yang mangkrak, setelah terjadi kecelakaan yang menewaskan puluhan pekerja.

Tapi, peduli apa. Cakra dan Aura sepakat, senja di sana memiliki pesona magis yang tidak biasa. Menenggelamkan lelah-lelah yang tumpah ruah di seantero kota. 

Menuju malam, lampu-lampu menyala, dan lembayung bergelantungan. Panorama sempurna untuk menjadi suaka jiwa-jiwa resah, yang menahan diri agar tidak melontarkan sumpah serapah, atau sekadar berkeluh kesah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
KONTEN MENARIK LAINNYA
x