Mohon tunggu...
N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Mohon Tunggu...

Gelandangan virtual | Pecandu kata-kata | Perempuan hening dengan pikiran yang mengembara | nspertiwi19@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Capcaisin

1 Oktober 2018   07:33 Diperbarui: 3 Oktober 2018   15:50 0 6 5 Mohon Tunggu...
Cerpen | Capcaisin
Sumber ilustrasi: Pixabay

Untuk kesekian kalinya, Cakra menyingkirkan sambal terasi dari sebungkus nasi kuning yang baru saja ia beli. Sambal yang digandrungi hampir seluruh rekan kantornya itu, tidak pernah membuat Cakra berselera. Bukan, bukan karena tidak enak. Hanya saja ...

"Kau ada masalah lambung?" tanya Tizar, menadah sambal dari Cakra.

"Bukan soal kesehatan, Zar. Dia ini cuma mau makan sambal buatan pacarnya saja," seloroh Andre, langsung menghujam di benak Cakra.

Alasannya hampir tepat seperti kelakar Andre. Di lidah Cakra, tidak ada sambal yang enak selain buatan Aura. Dia sendiri tidak tahu pasti, apa yang berbeda. Dia juga tidak paham, apa yang membuat sambal Aura begitu mencandukan.

Aura dan sambalnya, bertindak seperti ganja. Pada setiap seruakan capcaisin, Cakra digelayuti buncah yang membuatnya berdebar. Kencang. Perasaan aneh yang menuntun jiwanya pulang, sekaligus menyesatkan.

Namun, Andre salah paham. Cakra dan Aura tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Cakra hanya tahu bahwa Aura mencintainya. Lebih tepatnya, mereka saling berbagi cinta, dengan cara yang tidak sama.

Sepasang kasih yang pincang, tertatih-tatih menjalani kisah yang janggal.

"Kita tidak bisa bersama. Pergi saja yang jauh, aku akan tetap tinggal di kota ini," tegas Aura pada suatu senja di atap gedung tua. Matanya mengangkasa, tidak cukup tangguh untuk beradu pandang dengan Cakra.

"Aku ingin kita menikah. Membangun keluarga, di Makassar. Kita akan menyaksikan senja terindah di tepian Losari. Apa kamu tidak penasaran?" Cakra berupaya membujuk Aura.

Kegembiraan atas kelulusannya menjadi ASN di Sulawesi Selatan, kandas diterpa patah hati berkepanjangan. Melanjutkan hidup tanpa Aura setara dengan mimpi buruk bagi Cakra. Kengerian yang harus dihadapinya selama puluhan tahun mendatang.

"Anggap saja kita tidak pernah bertemu, dan aku tidak pernah membuat pengakuan apapun padamu," suara Aura bergetar. Keperihan Cakra tidak ada apa-apanya dibanding sayatan di hati Aura.

"Apa yang akan kamu lakukan setelah aku pergi? Menikahi pria lain yang kamu cintai?"

"Aku bukan apa-apa dan tidak berhak mencintai siapa-siapa."

Perempuan manis penjaga warung nasi ini membuat Cakra sakit kepala. Berawal dari sambal terasi yang memikat lidahnya, Aura dengan mudah menjerat hati Cakra, lalu membantingnya hingga remuk seketika.

"Untuk apa kamu tetap di sini? Kamu bisa membuka restoran bersamaku. Tinggalkan saja warung nasi tua itu. Buatkanlah masakan untuk aku, untuk anak-anak kita. Sambal buatanmu akan membuat kami selalu merindukan rumah."

Aura menggeleng, beranjak pergi. "Kamu pergi saja. Temukan perempuan yang bisa membuatkanmu sambal yang lebih enak. Tidak perlu memikirkan aku."

"Tidak bisa! Seumur hidup aku terbebani pencarian, tanpa mengetahui apa yang ingin aku temukan. Dan, bersama kamu, aku merasakan kelegaan yang begitu membebaskan. Jika itu bukan jodoh, lalu apa lagi namanya?"

"Percayalah Cakra, itu bukan cinta yang kamu inginkan." Derap langkah Aura menggema, menuruni tangga.

Cakra tidak mendapatkan logika yang tepat untuk menggambarkan situasi mereka. Dua tahun lamanya, Cakra bekerja di kantor yang berjarak 50 meter dari warung nasi Mak Surti. Cukup sekali mencoba, ia merasakan ikatan khusus pada sambal terasi yang tersaji di sana. Sambal yang menjadi pengikatnya dengan Aura.

Setidaknya dulu, sebelum angin menguji kerapuhan hubungan mereka.

"Mak, ini sambal termantap yang pernah saya coba. Beda banget rasanya. Emak yang buat?"

"Bukan, Nak Cakra. Sambal buatan Emak yang sambal ijo. Sambal terasi buatannya Rani. Dulu ibunya yang bantu masak di sini. Setelah sakit-sakitan, jadi Rani yang gantiin."

"Rani siapa, Mak?"

"Raaan, sini, Ran! Ada yang mau ketemu," seru Mak Surti. Suara seorang perempuan muda menyahut dari arah dapur.

"Saya Rani, Kak. Aurani." katanya sembari menangkupkan tangan di depan dada.

"Saya Cakra. Boleh panggil kamu Aura?" tanya Cakra, melupakan sambalnya.

Perempuan itu tersenyum, mengangguk. "Itu juga panggilan dari ibu saya."

"Kok Mak Surti manggil Rani?"

"Kalau panggil pakai nama Aura, Emak jadi keinget Aura Kasih. Aneh aja gitu," jawab Mak Surti, memasang wajah jenaka. Cakra nyengir.

Sejak pertemuan itu, ada gerimis yang seketika menyirami hati keduanya. Tidak butuh waktu lama, sampai mereka menjadi sepasang manusia yang belajar mengeja rasa.

Setelah saling mengetahui bahwa mereka sama-sama menggemari senja, Cakra dan Aura selalu melewatkan sore bersama di atap gedung tua. Konon, bangunan setengah rampung itu calon pusat perbelanjaan yang mangkrak, setelah terjadi kecelakaan yang menewaskan puluhan pekerja.

Tapi, peduli apa. Cakra dan Aura sepakat, senja di sana memiliki pesona magis yang tidak biasa. Menenggelamkan lelah-lelah yang tumpah ruah di seantero kota. 

Menuju malam, lampu-lampu menyala, dan lembayung bergelantungan. Panorama sempurna untuk menjadi suaka jiwa-jiwa resah, yang menahan diri agar tidak melontarkan sumpah serapah, atau sekadar berkeluh kesah.

Di atap gedung itulah, segala kisah mereka bermula, lalu berakhir tanpa kata bahagia. Berita duka tentang kepergian ibu Aura. Momen yang melemparkan Aura jauh, jauh sekali dari Cakra.

Tidak merasa perlu menyampaikan alasan, Aura bersikap seolah-olah tak pernah mengenal Cakra.

Selama berbulan-bulan, hanya ada lara di antara mereka berdua. Cakra sempat mengira, Aura membutuhkan kepastian. Tapi, lamaran demi lamaran hanya bersambut dengan penolakan demi penolakan. Cakra mengobati nyeri hatinya dengan bermangkuk-mangkuk sambal buatan Aura yang ia pesan dari Mak Surti.

Untuk satu piring nasi putih dan tempe goreng saja, Cakra membutuhkan tujuh sendok makan sambal terasi. Siapa saja yang melihatnya bisa menebak, hidup Cakra lebih menyakitkan dari sekadar panasnya lidah dan rasa perih di organ-organ pencernaan.

Lelah menghapus Aura, Cakra memutuskan pergi. Berupaya menanggalkan ingatan di bandara.

Ya, sia-sia belaka. Tiga tahun berselang, Cakra masih saja menjadi tokoh dalam mimpi buruk yang kelewat nyata. Sejak menjalankan tugas sebagai abdi negara di Makassar, tidak ada lagi sambal dalam hidupnya. Ada yang hilang. Ada yang kopong dan hampa. 

Dia tidak ingin menerima capcaisin dari sambal lain, atau dari cabai lain. Cakra hanya menginginkan sambal buatan Aura, dari kebun cabai yang dirawat oleh Aura.

Cakra mengambang di tengah-tengah samudera dongeng yang terlalu fana. Mengada-ada, menurut istilah Andre. Sebagai satu-satunya kawan yang mengetahui sepotong cerita tentang Aura, Andre bahkan menganggap Cakra sudah gila. Katanya, cinta bertransformasi menjadi parasit yang memangsa logika.

Semakin parah, Cakra melihat kabar pernikahan Aura pada linimasa Mak Surti. Marah, khawatir, tidak rela, cemburu, merasa dikhianati, entah apa lagi gelombang hitam yang berkecamuk di benak Cakra.

Pada pesawat, kereta, bis, dan becak, Cakra melemparkan perasaannya yang penuh luka menganga. Raga Cakra kalap mengikuti kehendak instingnya yang meliar. Kembali ke kota yang menjanjikan kekecewaan.

Tiba di sana, Cakra seperti memasuki lorong waktu. Tidak ada waktu untuk nostalgia, kaki Cakra melangkah tergesa-gesa. Berkali-kali, ia hampir tersungkur, tersandung bebatuan.

Kendati harus compang-camping, mudah bagi Cakra untuk menemukan Aura, lalu memaksanya ke atap gedung tua yang belum juga berganti nuansa. Masih muram, masih kelam.

"Maksudmu apa?" Mata Cakra menyala, merah.

"Buat apa kamu kemari?" Angin menerbangkan kerudung hitam Aura. Jantungnya berdegup menyakitkan. Nafasnya tersengal. Tangan kanan Aura mengurut tangan kirinya yang ngilu ditarik Cakra begitu kasar.

"Tidak mencintai siapa-siapa, katamu! Ini apa?" Tangan Cakra membanting undangan pernikahan berwarna jingga.

Aura menggeleng. "Kamu tidak mengerti Cakra. Hanya itu satu-satunya caraku melupakanmu."

"Omong kosong, Aura! Buat apa kamu lupa? Aku tidak pernah meninggalkan kamu. Kamu bisa hidup bersamaku dan bahagia!"

"Sudah, Cakra. Sudah. Aku mencintaimu, benar. Masih. Tapi, kita tidak terlahir untuk menjalin kisah cinta."

Gusar, Cakra mengacak rambutnya. Pikirannya buntu. Tidak paham apa yang selalu dibicarakan Aura perihal "tidak bisa bersama". 

Cakra berteriak, menyalurkan luapan energi dengan meninju pagar pembatas. Retak.

Aura geming, menahan perih di ulu hati. Pasrah tergores tajamnya rindu yang membabi buta. Hasrat untuk menghambur pelukan hanya dapat tertahan di ujung pikiran.

Sementara Cakra sibuk mengendalikan kemarahan, agar tidak sampai menyakiti Aura. Cakra memaki, menghujani tembok dengan kepalan tangan, hingga membanting apa saja yang ia temukan.

Setelah tenaganya menipis, Cakra terengah-engah. Kakinya lunglai, terduduk. Bersandar pada pagar yang merapuh, lalu tertunduk. Kata-kata menguap menjadi deru nafas yang melemah.

Aura memejamkan mata. Menguatkan dirinya untuk mengeluarkan isi Kotak Pandora. Mengambil sesuatu dari sakunya.

"Cakra... bisa kamu dengarkan aku?" Hati-hati, Aura duduk di samping Cakra. Menginjak serpihan pagar yang tercecer di lantai atap. Tangannya menyodorkan selembar foto lama. "Aku mendapatkan foto ini dari Ibu."

Foto itu lusuh, berusia puluhan tahun. Berliter-liter air mata ibu Aura dan remasan tangannya membuat foto itu memburam. Namun, Cakra masih sangat mengenalnya. Foto itu sama dengan foto balita yang ada di rumah orang tuanya. Sosok itu, Cakra 28 tahun yang lalu.

Cakra diam, terlalu kelu meminta penjelasan.

"Cakra, aku tidak tahu sejauh apa kamu mengingat sejarahmu. Tapi.. Ibu mengenalimu. Ibu tidak bisa melupakan seseorang yang lahir dari rahimnya."

Cakra menggeleng lemah. "Tidak mungkin," sahut Cakra, nyaris berbisik. Lelaki berkulit sawo matang ini tidak punya daya lagi untuk meluapkan kemarahan. Kesedihan dan kegetiran memeluknya bersamaan.

"Ibu menitipkan maaf padamu. Kamu tahu, kondisi ekonomi di tahun 98, memaksanya untuk menyerahkanmu pada majikannya dulu."

Cakra geming, berusaha mencerna keriuhan dalam dirinya. "Ini lelucon, kan?"

Aura menggeleng. Tidak, ini kenyataan. Suara Aura dan suara hati Cakra menggumamkan hal yang serupa. 

Rasa sambal Aura terasa amat familiar, karena mengandung sentuhan ibunya. Aura menggenapi hidupnya, karena mereka berbagi galur yang sama. Semua bukan cinta yang Cakra pikirkan, bukan cinta yang mereka inginkan.

"Cakra ..." Tangan Aura hendak menyentuh pundak Cakra. Baru seulas jari Aura mendarat di kemeja biru yang kusut masai itu, tangan Cakra mengelak. "Jangan sentuh!"

Aura kaget, terentak ke belakang. Ia menjerit. Punggung Aura beradu dengan pagar pembatas yang telah retak. Keduanya rapuh.

Bersama kepingan batu dan debu-debu. Aura terjun bebas.

Berlepas dari segala rahasia. Terempas.

***
Ribuan hari berlalu. Tidak pernah ada pesta pernikahan. Tidak ada pula tangis di pemakaman. Aura yatim piatu, maka Cakra pun begitu. Selepas Makassar, Cakra kembali ke kota yang selalu menggerutu karena menyimpan kisah cinta yang tragis dan jauh dari romantis.

Di kota ini, Cakra memilih hidup sendiri, dalam rumah besar yang pandai menyimpan misteri. Senyum Cakra tidak pernah lepas, mengurusi setumpuk tugas tanpa merespon tubuh yang menjerit ingin berhenti. Perasaan Cakra tak lagi bernyawa, mati bersama Aura.

Dan Cakra, masih selalu menyingkirkan sambal dari warung-warung di pinggir jalan.

Karena bagi Cakra, tidak ada sambal yang lebih enak selain buatan Aura.

Ralat.

Tidak ada sambal yang lebih enak, selain sambal yang berasal dari Aura.

Kini, Cakra tidak pernah kehabisan eskapisme dari masa lalu yang berkejaran menjadi hantu-hantu. Cakra tahu, bagaimana cara melarikan diri dari lelah dan rasa bersalah.

Lahan seluas satu hektar ini menjadi kuncinya.

Ratusan cabai telah dipanen, Cakra tumbuk sendiri sedari dini hari. Ketika panas capcaisin menusuk lidah dan perutnya, Cakra merasakan sergapan hawa tubuh Aura. Ya, raga perempuan yang lambat laun terurai di bawah rimbunnya belukar cabai merah.

Pada setiap kunyahan, kerling Aura hadir, membanjiri Cakra dengan endorfin yang memabukkan. Sel-sel Aura seolah menyatu dengan dirinya.

Dengan beringas, ratusan cabai itu ia lahap tanpa nasi putih, tempe, tahu, atau lalapan. Pada cabai ke-512, sesuai tanggal lahir Aura, tubuh Cakra memanas, semakin panas, memuncak, lalu perlahan menghangat.

Di alam dendam yang mencekam, bayangan Aura mendekapnya erat-erat.

Asmara mereka telah usai, tanpa pernah dimulai.

***

Cimahi, 30 September 2018

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
KONTEN MENARIK LAINNYA
x