Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Lainnya - ibu rumah tangga biasa dengan 3 dara cantik yang beranjak remaja
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, insyaallah tidak akan mengecewakan...

Selanjutnya

Tutup

Foodie Artikel Utama

Resep Membuat Kari Jengkol Pedas agar Rasanya Enak dan Tidak Bau

18 Mei 2021   16:25 Diperbarui: 19 Mei 2021   14:00 826
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
kari jengkol pedas ala chef bunda tety (dokumen pribadi)


Rasanya sudah lama saya tidak makan jengkol. Saya memang penyuka jengkol. Terlebih jika disemur, wah bisa makan banyak saya. Nikmat banget. Kalau kebetulan lagi makan di warung Sunda atau warung Tegal, saya pasti mencari menu jengkol hehehe...

Saya suka jengkol sejak saya masih kecil. Saat ibu bapak saya masih menumpang tinggal di rumah kakek saya, yang biasa saya panggil Kiking, di Cibadak, Sukabumi. Kebetulan kakek saya punya pohon jengkol. Pohonnya tidak satu dua tiga, tapi banyak. Lahannya cukup luas.

Nyaris setiap hari mata saya disuguhi jengkol. Jengkol-jengkol ini lalu dijual di pasar. Terkadang juga orang yang membeli jengkol berkarung-karung ikut nangkring di pohon jengkol. Kakek saya memang gesit. Kulitnya legam terbakar matahari.

Terkadang saya ikut mengupas kulitnya, lalu saya jemur hingga kering. Kulit jengkol terkadang saya jadikan perhiasan mainan ketika saya bermain rumah-rumahan dengan teman sebaya saya. Biasanya saya jadikan anting yang menggantung di telinga saya.

Oleh nenek saya (biasa saya panggil ummi), jengkol yang tersisa diolah. Kadang digoreng garing setelah dipotong kecil-kecil, lalu ditaburi sedikit garam. Ketika saya mencoba mencicipinya ternyata enak juga, apalagi kalau nasinya dalam keadaan hangat.

Lain waktu jengkol diolah menjadi semur. Setelah direbus, jengkol digeprek hingga gepeng, lalu diolah dengan bumbu semur. Saya coba lagi, eh ternyata enak. Terkadang saya makan tanpa nasi.

Diolah apalagi ya oleh nenek saya? Oh iya, sambel jengkol. Nah, enak juga ini ternyata. Sejak itu saya jadi suka makan jengkol. Tidak peduli aromanya yang menyengat ketika saya buang air kecil.

Tapi terkadang nenek dan ibu saya, juga saudara-saudara ibu saya terutama yang perempuan menjadikan jengkol sebagai lalapan yang dimakan mentah bersama sambal terasi. Kalau yang ini saya tidak suka. Baunya yang tidak saya suka. Rasanya pasti aneh.

Pernah saat saya SMP, ada ulangan dengan pertanyaan bagaimana cara membuat semur jengkol. Karena saya paham, lancarlah saya menjawabnya hahaha...

Nah, hari ini tiba-tiba saya kangen jengkol. Tadi saya masak kari jengkol pedas. Anak saya sih inginnya disemur. Cuma semur jengkol sudah terlalu umum. Rendang jengkol juga sudah sering.

Saya pun mengolahnya menjadi kari. Seingat saya sih, saya belum pernah juga mengolah jengkol dengan bumbu kari. Sepertinya kalau masak kari tidak pakai ribet, apalagi bahannya jengkol.

Kebetulan sebelum lebaran saya sudah sempat membeli jengkol di abang sayur depan kompleks. Belinya tidak banyak, hanya 2 bungkus yang 1 bungkusnya setelah saya timbang beratnya 200 gram.

Tapi saya mau masak 1 bungkus saja. Saya mau lihat respon "pasar" terlebih dulu alias bagaimana tanggaan anak-anak dan suami di rumah. Apakah bilang "enak, maknyus, atau ok" nih?

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Sebelum diolah, kulit jengkol saya bersihkan, lalu bagi dua, cuci deh. Langkah selanjutnya saya rebus bersama 5 lembar daun salam dan irisan satu ruas jahe agar jengkol ketika dimakan tidak menimbulkan aroma yang "semerbak". Rebus dengan api kecil sekitar 20 menit. Setelah direbus jengkol saya geprek. 

Lalu saya ulek 1 sdt ketumbar sangrai, 5 buah cabe merah keriting, 3 buah cabe merah besar, 5 buah cabe rawit merah, 3 siung bawang merah, 3 siung bawang putih, 1 butir kemiri, 1 ruas jahe, 1 ruas lengkuas. Tumis deh bersama 1 batang sereh dan 2 lembar daun salam sampai harum

Masukkan jengkol. Tuangkan sekitar 150 mili air. Biarkan sampai mendidih. Kasih sedikit garam, penyedap rasa, dan gula. Kalau rasanya sudah pas di lidah, masukkan santan. Aduk-aduk agar santan tidak pecah. 

Selesai. Matikan kompor. Kuahnya sengaja saya biarkan tidak sampai menyusut karena suami saya suka dengan makanan berkuah.

Jadi deh kari jengkol. Saya taruh ke dalam mangkok. Taraaa...

Apakah enak? Anak kedua saya sih bilangnya enak, suami mah selalu bilang enak. Tidak pernah bilang masakan saya tidak enak. Dan, selalu habis hehehe...

Eh ternyata jengkol bergizi juga lho karena terdapat berbagai kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, hingga mineral. Jadi, jengkol dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi harian kita.

Tak hanya bisa memuaskan nafsu makan, jengkol juga memiliki beragam khasiat bagi kesehatan. 

Berdasarkan apa yang saya baca di sini, jengkol ternyata mengandung banyak antioksidan yang bermanfaat untuk melawan radikal bebas di dalam tubuh. Sebagaimana diketahui radikal bebas diketahui menjadi salah satu pemicu munculnya berbagai penyakit kronis.

Tidak hanya itu. Berdasarkan penelitian jengkol mampu menurunkan kadar gula darah setelah makan dan mencegah masalah lambung. Kandungan zat besi pada jengkol cukup banyak sehingga dapat membantu mencegah anemia.

Jadi, tidak ada alasan untuk membenci jengkol, bukan?

Bagaimana? Menggugah selera? *kedip

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun