Mohon tunggu...
Negara KITA
Negara KITA Mohon Tunggu... Keterangan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Bio

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Skenario Separatis Tunggangi Aksi Damai 22 Mei

28 Mei 2019   15:13 Diperbarui: 28 Mei 2019   15:31 258 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Skenario Separatis Tunggangi Aksi Damai 22 Mei
Soenarko dan Mualem [Foto: Tribunnews]

Masih ingatkah para pembaca dengan mantan Danjen Kopassus Soenarko? Ia adalah Ketua Bidang Ketahanan Nasional Partai Gerindra. Videonya sempat viral karena mengarahkan sejumlah orang untuk mengepung istana negara dan KPU. Rencana tersebut akan diadakan pada Rabu 22 Mei 2019. 

Usut punya usut, ternyata Mayjen (Purn) Soenarko telah ditangkap karena dugaan penyelundupan senjata api (senpi). Senpi ini akan digunakan saat aksi 22 Mei 2019. Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal, Soenarko termasuk ke dalam kelompok penumpang gelap yang menunggangi aksi damai 21-22 Mei. Ia menyelundupkan senjata api ilegal jenis M4 Carbine dengan 2 buah magazine, peredam suara, tali sandang, dan tas senjata. Senpi itu diselundupkan dari Aceh.

M. Iqbal juga mengatakan ada kelompok lain yang turut menunggangi aksi damai 22 Mei. Kelompok tersebut ingin menjadikan 4 tokoh nasional dan seorang pemimpin lembaga survei sebagai target pembunuhan. Sepertinya hubungan kelompok tersebut dengan Soenarko bagai aur dengan tebing. Ada keterkaitan erat antar keduanya.

Kelompok yang merencanakan pembunuhan 4 tokoh nasional ingin menciptakan martir dalam aksi menolak hasil pilpres 22 Mei. Mereka adalah HK, AZ, IF, TJ, AD, dan AF. Muhammad Iqbal mengatakan HK mendapatkan senjata dari AF dan AD. Sebagian senjata tersebut dibagikan ke AZ, IR, dan TJ. Ketiga orang inilah lah nantinya yang bertindak sebagai eksekutor membunuh 4 tokoh nasional. Bahkan TJ diperintahkan untuk membunuh 2 orang. Iqbal menambahkan bahwa TJ merupakan warga Cibinong, Bogor. Ia berperan sebagai eksekutor dan menguasai perakitan senjata api laras pendek dan laras panjang. Dalam menjalankan aksinya sebagai eksekutor, TJ menerima uang Rp. 55 juta dari HK.

Beredar pula kabar di media sosial adanya warga Bogor yang ditangkap bernama Tajudin. Ia ditangkap karena kedapatan membawa senjata api di tengah massa aksi rusuh 21-22 Mei. Kuat dugaan bahwa TJ dan Tajudin adalah orang yang sama. Tajudin sendiri memiliki masa lalu sebagai pecatan marinir dan seorang kriminal. Ia pernah ditangkap karena memeras pemilik tambang di Sungai Danau Tanah Bambu, Kalimantan Selatan. Ia beraksi bersama Kopral Daily Musa dan seorang pecatan Kopassus Serka Inf. Mufki Tulus. 

Maka, kemungkinan Soenarko lah yang menyuruh HK untuk menjadi pengkoordinir rencana pembunuhan 4 tokoh nasional. Untuk menjalankan rencana itu, maka harus ada eksekutor. Soenarko mungkin saja memilih Tajudin karena kedekatan dan informasi dari pecatan Kopassus Mufki Tulus. 

Terkait dengan penyelundupan senjata api dari Aceh, Soenarko memiliki kedekatan dengan Partai Aceh (PA). Partai ini dulunya bernama Partai Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bahkan pada pilkada 2012 lalu, Soenarko menjadi juru kampanye PA untuk pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Mualem). 

Setelah penunggangan aksi damai 21-22 Mei gagal, ada kabar yang menarik dari Aceh. Muzakir Manaf (Mualem) yang juga Ketua DPA PA mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia memandang Indonesia diambang kehancuran dan mengatakan ke depannya Aceh akan meminta referendum mengikuti langkah Timor Leste. Pernyataan itu, Mualem sampaikan pada peringatan Kesembilan Tahun wafatnya Tgk Muhammad Hasan Ditiro di salah satu Gedung Amel Banda Aceh pada hari Senin 27 Mei 2019.

Pernyataan Mualem ditanggapi senator DPD RI asal Aceh Fachrul Razi. Fachrul menilai referendum adalah solusi damai untuk Aceh dan hak konstitusional setiap warga negara. Ia menambahkan, jika rakyat Aceh inginkan referendum, maka sebagai wakil Aceh ia akan memperjuangkannya. 

Dari paparan di atas, kita dapat duga bahwa Soenarko mengantongi kepentingan dari pihak eks GAM dalam upayanya menunggangi aksi damai 22 Mei. Dalam menjalankan aksinya, maka Soenarko berhubungan dengan kelompok lain yang berfungsi sebagai eksekutor menciptakan martir untuk menghasut rakyat Indonesia dan dunia internasional sehingga menciptakan ketidakpercayaan pada pemerintah. 

Akan tetapi, skenario yang mereka inginkan tidak tercapai karena Soenarko dan kelompok pengincar 4 tokoh terciduk lebih awal. Akibatnya, para eks GAM dan simpatisannya mulai bergerak dengan mengeluarkan pernyataan untuk referendum yang didukung pula oleh senator dari Aceh. Dukungan dari senator Aceh itu bahkan berselang tak lama dari pernyataan Mualem. Jadi, apakah penunggangan aksi damai 22 Mei sebenarnya merupakan pintu masuk bagi PA / GAM untuk memisahkan diri dari Indonesia? dan referendum merupakan Plan B mereka apabila skenario awal gagal?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN