Mohon tunggu...
Naufalda Nur Zhafrani
Naufalda Nur Zhafrani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Universitas Negeri Malang

Masih seorang mahasiswi yang masih perlu banyak belajar. Suka segala hal tentang sastra.

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Resensi Buku Andai Pemerintah Mau

23 Mei 2022   12:26 Diperbarui: 23 Mei 2022   12:36 81 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Buku dengan tebal tak sampai 200 halaman ini punya judul yang menarik, Andai Pemerintah Mau. Begitu judulunya. Pembaca mungkin akan langsung menyangkut-pautkan buku ini dengan gejolak politik di negara kita tercinta. Yang untuk kesekian kalinya, membuat kita berandai-andai seperti apa rasanya memiliki pemerintah dan para politisi yang benar jujur berpihak pada rakyat. Mungkin hal itu juga lah yang ingin disampaikan penulis, sebuah 'harapan' akan nasib pemerintah bangsa ini.

Buku seputar sepak terjang politik ini dibawakan dengan gaya bahasa yang santai, benar-benar santai seperti ngobrol di kedai kopi. Bahasanya mengalir dan bahasannya berisi. Buku ini terbagi atas tiga bagian, yang pertama ialah bab "Aturan Tinggal Aturan, Pelanggaran Jalan Terus". Bab ini mengupas aturan negara kita yang sudah terlalu banyak, sampai-sampai terlalu wajar untuk dilanggar, sebab semua aturan tersebut timpang-tindih. Apalagi di negara ini yang tiap-tiap kubu memiliki "kepentingan" masing-masing.

Bagian keduanya memiliki tema "Masyarakat Tak Berdaya, Negara Kuat". Tema yang cukup ironis tetapi nyata ini menguraikan bagaimana usaha untuk memperkuat masyarakat nyaris hilang. Masyarakat yang berdaya justru akan mengancam elite politik yang berkuasa. Kondisi yang membuat gerah para elite politik. Dalam bab ini terdapat 12 judul tulisan, salah diantaranya "Terima Kasih Buzzer", "Ustadz Whastapp", dan "Hobi Kok Demo, Sih?"

Tema bagian ketiga cukup menggelitik kesadaran kita dengan judul "Orang Gila, Makin Dicari Makin Berani." Sama seperti bagian kedua, bagian akhir ini diisi dengan 12 tulisan, seperti "Wong Edan Garis Lucu", "Tiba-tiba Saya Jadi Kangen Vicky Prasetyo", dan "Rambut Klimis Yes, 'Isi Kepala' No."

Penulis dalam menulis bukunya banyak mengambil dari pengalaman pribadi ataupun kisah orang lain, artinya buku ini berlatar belakang dari kisah nyata yang "digodok" dengan kritik-kritik halus.  Salah satu cerita ketika penulis mengikuti acara ""International Conference on Community Development" (ICCD) 2019 di Brunei Darussalam, pelajaran penting yang ia petik banyak merupakan persoalan kecil tetapi jarang diindahkan masyarakat kita; soal membuang sampah, merokok, menyebrang jalan, dan menaruh piring dan gelas habis makan pada tempatnya. Kelihatannya sepele, tetapi perilaku-perilaku kecil tersebut mencerminkan bagaimana peradaban bangsa ini dibangun.

Jika kita protes merokok di Brunei lebih baik tidak usah tinggal di Brunei. Jika aturan dan pemerintahnya komsisten menerapkan aturan itu. Jika pemerintah tidak konsisten tentu akan muncul pelanggaran-pelanggaran. Pemerintah saja melanggar aturan, bagaimana masyarakat diminta untuk mematuhinya? (hal. 26)

Mengapa di Indonesia dianggap perdabannya belum maju? Karena penegakkan hukum tidak dilakukan dengan baik. Hukum ditegakkan secara politis. Mereka yang mempunyai kekuasaan bisa "membeli" hukum dan aturan hukum susah hinggap padanya.

Selama membaca buku ini, saya sebagai mahasiswi yang "kurang" perhatian terhadap politik negeri ini---karena sudah terlalu lelah melihat kejanggalan dan kekacauan para elite politik---jadi memiliki insight baru. Sebuah wawasan yang memberi pencerahan bahwa politik dapat ditilik dan diobrolkan dengan gaya sesantai ini, tidak perlu ribut ala debat-debat di televisi itu. Buku ini menurut saya cocok dibaca untuk mengasah pikiran sekaligus mengkaji ulang perhatian kita terhadap politik negeri ini.

Judul Buku      : Andai Pemerintah Mau

Penulis              : Nurudin

Penerbit           : Intelegensia Media

Cetakan           : 2021

Tebal               : xx + 156 hlm

ISBN                : 978-623-6548-72-1

Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan