Mohon tunggu...
Muhammad Anang Widodo
Muhammad Anang Widodo Mohon Tunggu...

Membawa nusantara setara bermartabat dengan Jepang!

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Belajar dari Ratu Jodha

14 Januari 2015   21:33 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:08 0 0 0 Mohon Tunggu...

Film Jodha Akbar mulai merebak di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya kaum hawa. Film yang menceritakan asal mula berdirinya Taj Mahal ini menceritakan perjalanan cinta seorang ratu dari Amer yang dinikahkan dengan seorang raja Jalaluddin dari Mughal. Namun, belakangan penulis baru paham bahwa film ini membawa unsur dakwah Agama Hindu. Tapi, hal tersebut tidak menyurutkan niatan penulis untuk mempelajari sejarah salah satu Mahakarya dalam Tujuh Keajaiban Dunia ini. Dalam postingan ini, penulis ingin berbagi hal yang dapat dipetik dari kisah Jodha Akbar, lebih khusus lagi pembahasan dipersempit kepada sang tokoh utama yakni Ratu Jodha. Bagi yang belum mengetahui jalan ceritanya, penulis sarankan untuk menyaksikan film nya di ANTV setiap pukul 08.00 WIB. Background cerita kerajaan pastilah tidak jauh dari kisah percintaan yang tercampur dengan konspirasi serta intrik politik. Ratu Jodha yang memiliki ketenaran hidup di lingkungan kerajaan, tidak larut dan takabur dengannya. Kelahirannya sebagai Putra Rajpur selalu dideklarasikannya dengan sifat jujur, peka dan pantang menyerahnya dalam kebenaran. Rakyat kerajaan telah menaruh hati padanya, namun tidak sedikit pula pihak yang membenci sepak terjang Sang Ratu karena mengganggu tujuan mereka dalam menaklukkan Kerajaan Mughal dari dalam. Fokus Menyelamatkan dan Pantang Menyerah Episode yang menceritakan hubungan antara Ratu Jodha dan Raja Jalal sedang mengalami keretakan akibat konspirasi dari PM Maham. Hal ini berimbas kepada hilangnya kepercayaan Raja kepada Ratu Jodha. Momentum ini kemudian disusul dengan hadirnya sang penari kerajaan dari Abul Mali bernama Benazir, yang digunakan PM Maham sebagai pion untuk memisahkan secara telak hubungan mereka. Namun, seiring perjalanan waktu, sepak terjang Benazir mulai terkuak. Sosoknya sebagai wanita penghibur ternyata juga adalah sesosok manusia beracun melebihi ular dalam arti yang sebenarnya. Rahasia ini baru diketahui oleh Ratu Jodha, dan dengan segera dilaporkannya kepada Raja untuk diadakan sidang istana. Raja Jalal yang masih memiliki kepercayaan kepada Ratu Jodha menyetujuinya dan mengadakan sidang istana untuk membuktikan sosok Benazir yang sebenarnya. Namun, dengan pandainya Benazir mampu menutupi rahasianya ini di depan sidang. Sidang yang dilaksanakan dua kali pun keduanya gagal membuktikan tuduhan Ratu Jodha. Dengan sistematis tuduhan justru berbalik kepada Ratu Jodha yang dianggap mengajukan tuduhan palsu kepada Benazir. Rasa kepercayaan Sang Raja sudah benar-benar hilang dan menganggap Ratu hanya merasa cemburu kepada Benazir. Seketika keluarga kerajaan sudah mulai mengabaikan dan tidak percaya pada Sang Ratu. Dan itulah yang dirasakan Ratu Jodha. Kini dia merasa sendiri, tidak ada yang mempercayainya, dan hampir sangat putus asa. Semua orang mencemoohinya, terutama Raja Jalal. Konspirasi untuk menjatuhkannya semakin kuat. Sedangkan, di sisi lain hatinya sangat mengkhawatikan keselamatan Raja yang sedang terancam. Di sini lah kita dapat mengambil pelajaran. Sang Ratu akhirnya tetap kekeuh memilih untuk menyelamatkan nyawa Raja apa pun risikonya. Meski dia harus mendengar cemoohan dari orang-orang terutama dari Raja sendiri, dia tidak peduli. Dia tetap fokus menyelamatkan Raja, meski pada akhirnya, dia harus mati karena membuktikan kebenaran dengan meminum manisan Raja yang telah terkontaminasi oleh racun Benazir. Berkata Benar meski pun Pahit Kita kembali ke episode sebelumnya, ketika Sang Panglima Adam Khan menginginkan seorang anak pegawai kerajaan bernama Tasneem untuk melayani nafsunya. Adam Khan adalah saudara angkat Raja Jalal, dan juga putra dari PM Maham Anga. Singkat cerita, Ratu Jodha mengetahui hal ini dan melaporkannya kepada Raja untuk dibawa ke ranah sidang istana. Hingga pada akhirnya disebabkan karena Adam Khan adalah putra dari PM Maham, maka sulit untuk menghadirkan keadilan di hati PM Maham. Sang Raja yang kemudian mengesahkan UU yang melarang menikah dengan anak di bawah 14 tahun. Hukum ini kemudian dijadikan Adam Khan untuk menyudutkan Raja yang dijodohkan dengan Ratu Utama, Ratu Ruqayya, semasa kecilnya dan menuntut untuk Raja menceraikannya. Menjaga Hubungan Baik Pemilihan Ratu untuk Harem dibuka. Kandidat terdiri dari dua kompetitor, yakni Ratu Ruqayya dan Ratu Jodha. Ratu Ruq adalah penjabat ratu utama sebelumnya alias incumbent. Banyak dari warga kerajaan yang memilih Ratu Jodha untuk menduduki posisi sebagai ratu utama. Namun, semalam sebelum pemilihan digelar, Ratu Jodha mendatangi kamar beberapa keluarga kerajaan terutama Raja Jalal dan meminta agar mereka memilih Ratu Ruq sebagai pemenangnya karena jika hanya sedikit yang memilih Ratu Ruq, terutama Sang Raja yang tidak memilih Ratu Ruq sebagai pemenangnya, maka Ratu Ruq akan merasa sedih dan dan rusaklah hubungan baik antara Ratu Ruq dan Raja Jalal yang dibangun sejak kecil, terutama atas sikap Raja yang sudah tidak menginginkannya lagi. Masih banyak yang bisa kita pelajari dari film ini. Jangan berhenti belajar. Teruslah belajar, dari mana pun sumbernya. (Bersambung)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x