Mohon tunggu...
Pakde Amin
Pakde Amin Mohon Tunggu... Penulis - Perjalanan Dalam Mencari Harmonisasi Kehidupan Diri

Belajar menikmati dan memaknai kehidupan melalui kata-kata

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Mahameru

5 Desember 2021   20:19 Diperbarui: 5 Desember 2021   20:29 149
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

MAHAMERU

Mahameru menjulang tinggi
Tingginya Bagaikan tangga menuju puncak langit
Menyusuri tapak mendaki untuk para pencari cinta sejati
Karena cinta tak mudah di dapati

Taman surgawi nampak di diri mahameru
Yang memberikan keelokan dan kedamaian hati para penyeru
Tak salah jika dirimu
Menjadi kiblat yang menggebu untuk pencari cinta yang baru

Tawa dan gembira menjadi gambaran kemurahanmu
Tangis dan duka menyertai ritual perjalanan yang menapakimu
Kedua kabar ini semuanya... Menuturkan gambaran atas cinta yang bertemu
Bagai siklus kehidupan yang ditempuh

Banyak diri yang lalai dan lupa akan dirimu
Terperdaya oleh pesona kehidupan yang palsu
Kemurahanmu memperdaya diri yang haus akan "ilmu"
Bukan sebagai bekal hanya beban yang dibawa untuk bertemu denganmu

Dorrr.... Kemurkaanmu mengagetkan semua
Kemurkaanmu karena lalainya diri semua
Kemurkaanmu memberikan keputusasaan
Kemurkaanmu bukan dianggap pelajaran, maka diri masih terus berbuat dosa

Mahameru adalah taman cinta
Bagaikan penyaluran hasrat dan kerinduan
Datang untuk memberi perhatian dan perlindungan
Kepada jiwa-jiwa yang mencari cinta

Ooii  diri baru tersadar
Telah melupakan dan melepas cinta Sang Pencipta
Menjadikan diri terlena
Sibuk sana kemari mencari yang tak jelas

Namun dirimu terlanjur murka
Menghempaskan peringatan untuk manusia
Agar tidak tersesat dalam perjalanan di dunia
Karena hanya sebagai sarana persinggahan belaka

Hai diri ... mahameru telah murka
Tangga langit sudah tak bisa dilihat
Tertutup kabut dan awan yang hitam
Yang merupakan kumpulan dosa para manusia

Sadarlah...
Jangan diri terlena
Mungkin masih ada kesempatan
Merenung dan baca semua yang ada

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun