Auliya C Sutanto
Auliya C Sutanto

A Food Technologist and Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Belajar Ilmu Perkopian di Bogor

10 September 2018   19:30 Diperbarui: 10 September 2018   19:36 692 0 0
Belajar Ilmu Perkopian di Bogor
Rumah Kopi Ranin Taman Koleksi Bogor (sumber: @rumahkopiranin)

Kemanakah Anda menghabiskan weekend kemarin? Having me time di rumah, jalan-jalan dengan orang terdekat, pergi ke kajian pekanan atau belanja bulanan?

Nah, kalau saya dan seorang teman kemarin, kami memutuskan untuk menambah pengalaman dengan belajar ilmu perkopian di @rumahkopiranin, Bogor.

Rumah kopi ini memiliki pusat di Bantarjati Bogor. Namun, yang kami tuju ialah yang berlokasi di pusat kota, tepatnya di perbatasan Kampus IPB Baranangsiang dan Mal Botani Square (Botas), yang mana letak keduanya berada di jalan lingkar Kebun Raya Bogor.

Berlokasi di lingkar Kebun Raya, rumah kopi ini cukup mudah diakses kendaraan umum ataupun pribadi. Kami yang mengendarai roda dua pun memilih parkir di Gedung Alumni IPB, lalu berjalan menuju lokasi. Anda sendiri bisa memilih parkir di area Kampus IPB Diploma, Kampus IPB Pascasarjana, Botas, ataupun Gedung Alumni seperti kami.

Cukup berjalan tiga menit, kami pun tiba.

Berdiri di tengah hamparan hijau bernama Ta-kol alias Taman Koleksi, rumah kopi ini menyatu dengan Cafe & Resto Ta-kol. Kita bahkan bisa memesan kopinya dari cafe berdinding kaca ini.

Tapi, kalau Anda melirik sedikit ke area terbuka cafe, di pojokan mungil yang dihiasi tanaman, dilapisi lantai bambu dan diterangi cahaya temaram ala kedai kopi, disitulah tempat belajar yang kami tuju berdiri.

Septian dan Dwi, barista yang bertugas kala itu, bukanlah sembarang barista. Mereka berdua merupakan mahasiswa tingkat akhir Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB yang mengambil spesialis di bidang perkopian. Keduanya dilatih langsung oleh Pak Uji dan Pak Tejo, dua orang ahli kopi Indonesia yang juga pendiri Rumah Kopi Ranin. Mendapat barista yang berpengalaman secara akademis maupun non akademis di bidangnya, kita pun bisa bertanya banyak hal-- baik dari sisi sederhana maupun science.

Pertama-tama, tentu kami dipersilahkan duduk di depan meja barista, yang penuh dengan aneka hiasan alat penggiling, pengekstrak manual, maupun pemfilter kopi.

Meja Barista di Rumah Kopi Ranin Bogor
Meja Barista di Rumah Kopi Ranin Bogor
Karena kami belum terbiasa datang ke rumah kopi, kami pun bingung memilih jenis kopi yang akan dipesan. Septian pun dengan baik hati menjelaskan lebih dulu tentang aneka jenis kopi serta perbedaan kopi arabika dan robusta.

"Jenis kopi itu ada Arabika, Robusta, Excelsa dan Liberica. Walau perbedaan Excelsa dan Liberica masih diperdebatkan." Jelas Septian, yang lalu meraih dua toples kopi dibelakangnya, membuka tutupnya, lalu menyodorkan isinya kepada kami. "Nah, ini Robusta. Bijinya gendut. Buat rasanya, dia punya body yang strong. Kalau ini Arabika, bijinya lebih kecil dan panjang, di crack-nya juga ada kelokan seperti huruf S. Rasanya lebih multidimensional, berlapis-lapis gitu. Unik lah."

Dwi pun menambah semarak pengetahuan kami dengan berbagi cappucino house-blend Ranin untuk dideskripsikan rasanya.

Dwi (kiri) mengekstrak kopi, sedang Septian (kanan) memberi penjelasan
Dwi (kiri) mengekstrak kopi, sedang Septian (kanan) memberi penjelasan
"Enggak ada deskripsi yang salah. Karena kopi itu soal kepekaan dan perjalanan sensori seseorang." Ujar Dwi.

Setengah jam, satu cappucino, satu ekstrak Arabika murni dan beratus kata kemudian-- kamipun jadi berdiskusi tentang teknik penyeduhan dua tahap, pengaruh suhu terhadap pelepasan rasa kopi, alasan mengapa rasa kopi instan berbeda dengan kopi specialty yang digiling di tempat, hingga perbedaan rasa varietas-varietas kopi di Indonesia. Semuanya dilakukan sambil menyaksikan tangan-tangan terampil Septian dan Dwi bekerja.

Barista Septian meracik kopi di Rumah Kopi Ranin
Barista Septian meracik kopi di Rumah Kopi Ranin
"Kita seneng kalau ada yang nanya." Jelas keduanya.

Didirikan di negara penghasil kopi terbesar ke-empat dunia, Rumah Kopi Ranin menyediakan berbagai varietas kopi lokal dan teh. Dari kopi Robusta dan Arabika Cibulao yang asli Bogor hingga kopi Wamena yang beraroma serai. Totalnya ada sekitar 12 kopi single origin dan 4 jenis teh yang disediakan.

Namun, karena belum terbiasa dengan kopi tubruk yang sebenarnya diklaim mampu mengeluarkan citarasa kopi terkompleks dibanding teknik pengekstrakan lainnya-- kami pun meminta kopi yang tidak terlalu kuat dan bercitarasa manis. Septian menyarankan kami memesan Caramel Latte-- salah satu es kopi favoritnya. Sambil menyajikan minuman tersebut, ia juga menjelaskan bahwa rasa sirup pendamping latte tidaklah dipilih sembarangan, melainkan dari rasa yang ada di dalam kopi itu sendiri, semisal hazelnut dan karamel.

Dengan baiknya pula Septian meminta kami mencicip Piccolo house blend Ranin kesukaannya. Piccolo sendiri merujuk pada campuran susu dan ristretto, yaitu kopi yang diekstrak dengan waktu yang lebih singkat dibanding espresso. Teknik ini akan memaksimalkan pengekstrakan flavor multidimensional kopi tanpa membawa terlalu banyak rasa pahitnya. Septian mengklaim bahwa Piccolo house-blend Ranin yang diseduhnya akan memiliki rasa khas wafer coklat yang lezat, tanpa gula sekalipun!

"Jangan tambah gula dulu. Coba deh dicicip mumpunganget. Nanti kalau dingin, rasanya beda lagi. Soalnya tiap kopi itu, beda suhu, beda juga pelepasan flavor-nya." papar Septian.

Piccolo house-blend Ranin, ada flavor wafer coklat-nya!
Piccolo house-blend Ranin, ada flavor wafer coklat-nya!
Dan kami pun dibuat takjub dengan rasa Piccolo tersebut yang mirip wafer coklat di awal, namun berubah menjadi fruity lalu berubah menuju chocolatey lagi di akhir. Ketakjuban kami juga semakin bertambah ketika Septian menyodorkan pot kopi yang biasa digunakan untuk menyeduh Linthong.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2