Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Menjaga Hati Nurani

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Strategi Licik Rezim Panik?

13 Agustus 2020   12:26 Diperbarui: 13 Agustus 2020   12:30 749 47 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Strategi Licik Rezim Panik?
Detiknews.com

Amin Rais geram dengan politik belah bambu rezim yang kini sedang berkuasa. Wajar Amin Rais geram karena PAN sebagai partai yang diinisiasi oleh dirinya pun diserang politik belah bambu tersebut. 

Abdillah Toha juga pernah menulis tentang cinta Jokowi dengan kritik. Mencintai Jokowi bukan cinta buta. Orang orang bernalar mencintai Jokowi dalam bungkus sikap kritis.  Sikap yang memang sangat dibutuhkan dalam demokrasi yang sehat. 

Oposisi sudah mati. Semua masuk dalam rezim berkuasa. Akhirnya, tak ada keseimbangan politik yang sehat.  Bisa bisa fungsi kontrol akan diambil alih oleh rakyat dalam bentuknya yang destruktif jika saluran resmi wakil waktu Senayan telah dilumpuhkan. 

Seharusnya rezim berkuasa tak usah panik jika ada orang bernama Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang terkesan bandel.  Paling tidak, aspirasi rakyat yang ada bisa diwakili mereka. Karena aspirasi tak pernah tunggal. 

Tak mungkin dia manusia itu bisa menggerakkan demonstrasi besar, apalagi revolusi.  Biar dua orang itu bernyanyi sumbang. Karena kesumbangan mereka juga dibutuhkan sebagai sisi lain. 

Jangan sampai ada kesan licik dari rezim yang saat ini berkuasa hendak menundukkan mereka berdua juga.  Tak baik untuk sebuah demokrasi yang sedang tertatih ini. 

Ada yang berkuasa, ada yang mengawasi. Ada yang bekerja, ada yang menyinyirinya. Walaupun nyinyir merupakan kritik paling gak bermutu, tapi masih mending daripada semua diam, seolah olah segalanya sudah beres. 

Mari kita semakin dewasa dalam berdemokrasi. Mari kita berdiri dengan posisi masing-masing. Jangan terus dibuat menjadi tanpa yang lain. Kehidupan tanpa yang lain tak mungkin dalam sebuah demokrasi.

Biarkan mereka berdua tetap kritis ( boleh dibaca nyinyir). Daripada terlalu banyak yang nyinyir, biarkan mereka berdua mewakilinya. 

Tak perlu takut. Tak perlu panik. Tak perlu bertindak licik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x