Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Sosok Matahari yang Pergi

23 Maret 2020   17:33 Diperbarui: 23 Maret 2020   17:35 76 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Sosok Matahari yang Pergi
https://images.pexels.com

Ini seperti kedatangan matahari di pagi yang dingin dan berangin
menampakkan diri sejenak untuk memberi kehangatan
tanaman bunga yang menggigil
halaman yang menggigil
dan rumah-rumah yang menggigil,
sebelum akhirnya tenggelam di gulungan awan
pada sebuah musim
ketika hujan datang silih berganti
membekukan hati

Ini adalah ayah yang ingin memberikan pesan terakhir
melalui sorot mata penuh kasih
kepada buah hatinya yang terkasih
bahwa akan selalu ada harapan
pada setiap tetes keringat yang berjatuhan
saat menjalankan amanat kemanusiaan

Dari balik pagar kayu
seorang ayah merasakan lidahnya kelu
melihat keluarganya begitu jauh
untuk direngkuh,
karena dia paham
ini adalah segmen pertemuan
pada sebuah babak perpisahan
dalam sebuah drama yang nyaris tak berkesudahan

"Selamat tinggal nak! Aku ingin memeluk kalian,
tapi itu tidak memungkinkan,
biarlah doaku hidup bersama kalian!"

Selamat tinggal ayah!
kau gugur di palagan, tempat peperangan
tanpa sepercikpun mesiu ditumpahkan
tanpa sebutirpun peluru dimuntahkan
namun atas nama tak terhingganya rasa kemanusiaan
sedang dipertaruhkan
di bumi yang sedang kesakitan

Selamat tinggal ayah
kami bangga bukan karena ayah seorang pahlawan
namun kami berbahagia
karena ayah pergi sebagai syuhada
di hadapan Tuhan.....

Bogor, 23 Maret 2020

Didedikasikan untuk seorang pejuang kemanusiaan, dr. Hadio Ali Khazatsin.







VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x