Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... Buruh - buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Negeri Tulang Belulang (Lolos dari Maut)

30 September 2019   19:06 Diperbarui: 30 September 2019   19:12 63
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Pohon dan tumbuhan di sekitar kita ini tidak ada semua dalam catatanku. Kita harus mencari agak lebih jauh ke dalam hutan," Tet memberikan informasi kepada kawan-kawannya setelah memperhatikan dengan teliti tumbuhan di sekitar mereka.

Ben dan Rabat mengiyakan.

"Salah satu harus tinggal di sini menemani Ran. Biar aku dan Ben saja yang mencari makanan. Rabat kau tinggal," Tet melanjutkan.

Kembali Ben dan Rabat mengiyakan. Kedua orang itu lantas berkemas. Mereka tidak tahu harus sejauh apa memasuki hutan. Jadi lebih baik jika mereka berjaga-jaga. Tapi berhubung nyaris semua ransel dan perlengkapan mereka tertinggal di atas bukit seberang sungai tempat mereka diserang oleh makhluk mirip kingkong tadi, maka mereka mempersiapkan diri dengan seadanya. Sebilah pisau yang masih terbawa dan pentungan kayu tentu saja.

"Tunggu!" Ran rupanya terbangun mendengarkan perbincangan kawan-kawannya.

"Balurkan remasan daun ini terlebih dahulu ke tubuh kalian. Ini akan sangat berguna untuk menghindarkan diri jadi makanan beberapa jenis pemangsa di pulau ini. Daun ini langka. Jadi kita harus berhemat," Ran menjelaskan panjang lebar.

Keempat tim ekspedisi tangguh itu membalurkan remasan daun yang dicampur air agar lebih hemat pemakaiannya. Meskipun belum teruji secara klinis, mereka percaya sepenuhnya pada penjelasan Ran.

Sementara Tet dan Ben berangkat mencari makanan, Ran berbincang dengan Rabat untuk mulai membangun rencana meloloskan diri dari pulau maut ini sekaligus berupaya mencari dan membebaskan Cindy.

-----

Tet dan Ben berjalan dengan ekstra hati-hati. Mereka tidak mau terlalu jauh masuk dalam hutan. Karena itu mereka girang bukan main saat baru beberapa puluh meter masuk dalam hutan telah menemukan sisa buah berry yang masih sangat banyak dan belum dihabiskan oleh pasukan monyet yang banyak terdapat di pohon-pohon sekitar situ.

Buru-buru kedua orang ini memanen buah berry secepatnya. Mereka tidak bisa memprediksi gejala alam maupun fenomena berbahaya yang menyertainya di pulau ini sama sekali. Karena itu lebih baik jika mereka melakukan panen buah ini dengan cepat dan segera kembali ke tepi sungai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun