I Ketut Merta Mupu
I Ketut Merta Mupu pelajar/mahasiswa

Alumni UNHI. Lelaki sederhana dan blak-blakan. Blog pribadi: Voice of Merta Mupu Facebook : I Ketut Merta Mupu Instagram; merta_mupu

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Rina Kembang Hati

14 Maret 2018   19:13 Diperbarui: 15 Maret 2018   05:35 437 1 0
Cerpen | Rina Kembang Hati
unduhan-1-5aa66241dcad5b462f77c032.jpg

Kehadiran Rina ke dalam duniaku mengubah jalur asmara yang berkelok dipenuhi tanjakan dan berlubang sana-sini, di pinggirnya hadir jurang yang curam. Bersamanya duniaku hijau royo-royo, awan putih berkilauan sedap dipandang mata, burung-burung bernyanyi ria, menghadirkan ketenangan jiwa, meneduhkan. Hari-hari dilalui canda tawa, memenuhi goa hampa yang sunyi dalam relung hati dulu, kini bergaung kebahagian dan kedamaian. Kicauan hati tercurahkan hanya padanya seorang, melupakan wanita-wanita cantik lainnya. Mungkin benar, cara mudah melupakan orang yang disayang yang mengabaikan kita dengan mencarikan penggantinya dengan yang lain.

Sang Ayu yang dulu selalu bercokol di otakku seperti tumor selalu menggerogoti pikiranku, kini seperti kapas di atas kertas, sekali ditiup ia terhempas. 

Aku mempelajari perbintangan Rina, sifat-sifat baik memang pembawaannya, di bawah pengaruh bintang yang membawa keberuntungan. Tak luput ilmu perjodohan aku perhitungkan. Berdasarkan perhitungan dari keseluruhan petung perjodohan, dominan cocok, serasi, saling mencintai. Sungguh dia gadis yang layak kuperjuangkan.

Dengannya hidupku lebih berarti, meski di dunia nyata baru berjumpa, di dunia maya pernah akrab sejak lama.

Sepulang dari dinas sosial Bangli, aku menyambangi indekos Rina, hari ini ia piket malam. Aku tak mengerti, jantungku berdebar-debar saat aku miscall Rina dari depan pintu gerbang kosnya. Tak lama kemudian kulihat Rina keluar dari kamarnya. Aku dipersilakan masuk.

"Kong, kong, kong.. " aku terkesiap mendengar guk-guk  menggong-gong. Untung anjing itu terikat rantai.

"Wee..." ledekku menjulurkan lidah. Dia berusaha menerkamku.

"Jangan dibegitukan, Bli. Nanti dia lepas!"

"Kenapa memelihara anjing, bukankah Islam melarangnya?"

"Seneng aja sih.. anjing juga ciptaan-Nya, dan anjing juga punya hak untuk dikasihi seperti yang lain. Dari segi kesehatan dan juga ajaran Islam, sebenarnya air liurnya saja yang tak boleh mengenai tubuh kita." Ujarnya sambil mempersilahkan aku duduk di sofa depan kamarnya.

"Ternyata sama saja dengan di Hindu. Di Bali hanya orang-orang tertentu yang tak boleh memelihara anjing, seperti Sulinggih: orang suci. Dan bagi orang melik, memiliki kemampuan khusus, tak boleh kena air liurnya, terutama tubuh bagian atas. Bila itu terjadi, misalnya dicium anjing, maka kita akan sakit carub, seperti sakit mata, sulit menelan air ludah, dan lainnya."

"Masak sih, Bli?"

"Ya.. bli pernah dicium anjing, malamnya mimpi berpakaian kotor. Itu pertanda tubuh kita leteh, kotor!"

"Wuihh.. bli bisa menafsirkan mimpi?"

"Baru belajar sih. Seneng aja."

"Minum dulu!" pintanya.

Rina ternyata sudah mempersiapkan suguhan makanan ringan untukku. Di mejanya ia menaruh bunga segar. Aku iseng menyentuhnya. Ternyata hanya bunga tiruan terbuat dari kain. Kira bunga sungguhan. Kosnya tak sesederhana yang aku pikirkan, ternyata kos-kosan elit. Bau harum tercium di sekitarnya. Mungkin gara-gara aku menghubunginya sebelum mau kesini, sehingga Rina mendesain tempatnya jadi indah, atau mungkin memang berjiwa seni. 

"Indah juga suasana disini."

"Aku memang penikmat keindahan, Bli."

"Seindah wajahmu" selorohku tersenyum sembari menyedot fresh tea.

"Iihh.. Bli bisa aja ngegombal!"

"Bicara apa adanya."

Dekat dengannya menghadirkan rasa nyaman. Rina tak seperti gadis lain yang sok jual mahal padahal dalam hatinya merindukan orang yang dicueki. Ia bersikap dewasa, pemikirannya luas. Sering aku merasa kalah ketika chat dengannya di WA ataupun di facebook.

Aku memperhatikannya, Rina sedang menggigit kue pelan. "Oya, di atas dahimu apa tuh?"

"Dimananya?" Rina tampak kaget. Ia menghusap dahinya. Aku mendekatinya.

"Ini loh! Rambutmu indah."

Aku menyeka rambutnya yang hitam, menyentuh dahinya yang lembut.

"Kau cantik!"

Rina tersipu. Sepertinya ia sadar aku hanya bergurau.

"Maaf ya.. bli hanya bercanda. Gak marah, kan?"

"Jelaslah aku marah. Sembarangan banget menyentuh kepala orang. Emang bli siapanya aku?"

Aku terperangah melihat sikapnya, wajah tampak kesal. Mungkin beneran dia marah.

"Maaf, maaf, Diajeng."

"Gak mau.. aku bukan orang murahan yang dengan mudahnya memaafkan kamu!" sungutnya cemberut. Aku terbelalak dibuatnya. Aku kira Rina bisa diajak bercanda sebagaimana di media sosial, ternyata dugaanku salah.

"Sekali lagi, maafin bli. Bener tadi cuma bercanda. Habis di facebook demen banget bercanda!"

"Hehehe.. ketipu deh. Bli suka bercanda, aku lebih dari itu!" ledeknya tersenyum manyun. Hatiku gemas melihatnya, aku terkam dia, menggelitik pinggangnya. Rina kegelian, tubuhnya berliuk. Aku mendorong tubuhnya, menangkap tangannya. Ia  kubaringkan di sofa. Rina mendorongku. Tangannya kupegang erat. Aku terjatuh ke lantai, menengadah. Rina menindihku. Rina kaget hidungnya hampir menyentuh hidungku. Aku menyambar bibirnya dengan kecupan manis.

Plaak..

Sekonyong-konyong tangan Rina menempel di pipiku. "Berani banget ya sama aku. Nanti bli tak pernah kuijinkan kesini lagi" ancamnya, bergegas bangkit.

"Ya deh.. maaf!"

Sepertinya Rina marah diperlakukan seperti itu. Kejadian barusan tak terencana, terjadi begitu saja, dan aku menikmatinya.

***

Jujur kumengagumi. Pantas kuberi seribu pujian buat kamu. Jauh di dalam hati selalu kurasa bersyukur aku mengenalmu. Karena cinta dari kamu jadikan aku wanita terbahagia di dunia..

*Sing a song*

Seusai makan malam bersama keluarga, aku berselancar di dunia maya mengintai facebook Rina, membaca beberapa statusnya, di atas itu salah satunya. Aku tak meninggalkan jejak meski terlihat banyak orang berkomentar. Disitu aku melihat Nur Indah juga berkomentar, "Ciee.. mbak yu lagi jatuh cinta ni yee?" Aku klik facebooknya, tambah pertemanan dengannya.

Aku mengecek pemberitahuan, aku membalas komentar-komentar temanku. Kadang aku memeriksa pesan, khususnya 'permintaan pesan. Sering aku menemukan pesan lama disana. Dugaanku benar, ada satu pesan tak terbaca, pesannya sudah dua hari lalu. Nama akunnya Widya.

"Smbong bingits skrg ya?!"

"Emangne kamu siapa?" Tanyaku.  Aku klik profilenya. Jantungku berdegup, ternyata Sang Ayu Widya Pujayanti. Status terakhirnya kemarin pukul 22:00:

Entah kenapa aku merindukan seseorang yang sudah melupakanku. Mungkin dulu aku memang salah mengabaikannya. Mungkin ini yang namanya 'Karma'. Sejujurnya aku tak sejahat yang dia kira, dari dulu aku sebenarnya sayang padanya, tapi aku malu, malu karena terlalu sering menghinanya. Itulah kebodohan yang pernah aku lakukan. Mungkin karena waktu itu sifatku masih kekanak-kanakan. Kini tinggal penyesalan tiada guna. Air mataku meleleh teringat dengannya. I am sad.

Entah ditunjukan ke siapa status itu, namun yang pasti membuat hatiku tersentuh. Aku diamkan, tanpa add dia. Aku tak mau kisah kelam terulang kembali meski sejujurnya aku masih mencintainya.

Aku melihat satu pesan masuk.

"Enken kabare, bli?" (Apa kabar, Kak?).

Ternyata pesan dari Sang Ayu. Dia menambahkan pertemanan denganku, aku terima. Aku tak mau berlagak sok jual mahal.

"Kabar biasa aja, sama saja seperti hari2 sebelumnya, hanya isi kantong yang berbeda. Hahaha. Balik kanan, geg?"

"Lagi sedih.. oya bli, kenapa ya beberapa waktu lalu aku memimpikan bli"

"Memangne mimpi gimana?"

Pikiranku bergejolak membaca pesannya karena beberapa minggu lalu aku juga memimpikannya. 

"Ceritanya aq berada di swatu tmpat yg tidak begitu diketahui, samar2 seperti di Bangli. Disitu aq melihat bli berpakaian pengantin payas agung, berpasangan dgn sesorg yg tak kukenal. Tempat itu bukan tempt resepsi, tetapi pura. Setelah aq masuk, aq melihat orang sedang sholat. Lalu mereka menghiasa dua ekor ayam; jantan-betina, ayam itu dinikahkan!"

"Kok bisa ya Wi memimpikan bli begitu. Memimpikan seseorang menikah itu pertanda tak baik, tetapi kadang mimpi muncul sebagai bahasa isyarat, bahkan bercerita apa adanya."

"Aq takut bli.."

"Takut kenapa?"

"Gak tahu, takut gitu aja!"

Aku tak melanjutkan obrolan dengan Sang Ayu, aku melihat pesan dari Rina.

"Udah bobok bli? Kok gak inbox aku?!"

"Belum.. wong bli nunggu Diajeng untuk inbox bli."

"Iihh jahat banget sih! Kan gak enak cewek duluan?"

"Hello.. bangun, bangun! Sudah tahun berapa sekarang, Diajeng? Sekarang sudah jaman milenial, 'Jaman Now'.. jaman emansipasi perempuan!"

"Aku kan tipe wanita Jaman Old. Hehehe."

Tanganku terasa keriting mengetik pesan. Lalu aku menelepon Rina, obrolan berlanjut.

***

"Asalamualaikum"

Suara nyaringnya terdengar di seberang. "Walaikumsalam" jawabku.

"Bisa juga bli ya?"

"Haha.. kan sering dengar di TV, di film-film gitu. Bahkan anak tetangga bli juga bisa bilang begitu, tapi kadang diplesetkan. Udah pulang dari tempat kerja?"

"Udah tadi sore keles! Hari ini aku sif pagi. Bli lagi ngapain?"

"Lagi tidur-tiduran, soalnya hati ini demam."

"Sudah dikompres dengan air hangat?"

"Gimana mau dikompres, orang lagi demam rindu padamu. Hehe"

"Buseet.. ternyata masih sama seperti dulu. Aku masih inget dulu bli pernah gituin aku. Boleh tanya-tanya gak?

"Tajam juga daya ingatmu, diajeng. Mau tanya apa? Tapi gak boleh ah... kalau ada hadiahnya baru mau."

"Mau hadiah apa? Aku mau tanya hal serius."

"Cup dulu pipi bli"

"Adaahh.. Ya dah, dekatkan pipinya!" Ujarnya seperti hendak tertawa. Aku pun mendekatkan pipiku di hp.

"Cuuupp. Muaah.. muah. Udah?"

Kecupannya terasa menyentuh meski ciuman angin. Aku mempersilakan bertanya sepuas hatinya. Katanya, Rina sudah banyak belajar tentang Hindu sejak dulu di internet, tetapi banyak hal yang mengganjal dalam hatinya, dan belum menemukan jawaban yang memuaskan.

"Kenapa umat Hindu memuja patung?"

"Adeehh.. pertanyaannya langsung menohok. Intinya begini; dalam ajaran Hindu Tuhan disebut Saguna Brahman; beliau berkepribadian, berwujud, dan Nirguna Brahman; beliau tak berwujud, bukan ini bukan itu, nehi-nehi, tak terpikirkan, di Bali disebut Sanghyang Acintya. Beliau itu maha gaib, lebih umum dikenal dengan sebutan Sang Hyang Widhi. Ajaran Islam sama dengan konsep ini, tetapi Islam tidak mengajarkan konsep Tuhan berpribadi, sehingga Tuhan tidak boleh dipuja dengan bentuk patung atau citra apapun." Ujarku menghela nafas, "Sudah paham?"

"La! Bli kan belum menjelaskan pertanyaanku."

"Ya. Ya... Patung atau Arca merupakan simbolis dari Tuhan dalam wujud Saguna Brahman. Sebagaimana bendera pusaka merah putih sebagai lambang negara, demikian pula arca simbol dewa yang agung. Padahal bendera merah putih hanya sebatas kain, tetapi dalam konteks bernegara maka merah putih sangat dihormati. Bila ada yang berani merobek-robek merah putih maka itu dianggap perbuatan makar, bisa dipidana." Terdiam sejenak, "Mau contoh analogi lebih masuk akal lagi?"

"Kalau dalam Islam haram hukumnya." Celetuknya.

"Bli tahu itu. Tetapi kalangan sufi mengakui Tuhan berpribadi. Kalau boleh bli tanya, saat Diajeng sembahyang memikirkan apa? Jawab dengan jujur ya!"

Rina terdiam, lama tak menjawab. Mungkin masih berpikir menjawabnya.

"Kata orang, saat sembahyang pikirannya khusuk. Tetapi aku tak tahu bagaimana khusuk itu. Ada juga yang bilang pikirannya kosong. Jujur saja, kalau aku kadang pikiran dialihkan ke jemuran. Hahaha."

"Hihihi... bikin tertawa aja. Disitulah jawabannya. Tuhan dibuatkan arca dengan tujuan memudahkan pikiran untuk berkonsentrasi, meditasi. Bahkan dalam meditasi itu kita disarankan memvisualisasikan Tuhan ke dalam wujud cahaya. Orang-orang tertentu bahkan mampu memasuki pikiran tak sadar dengan cara itu, hilang kesadaran."

"Mulai paham sedikit, tetapi masih bingung. Karena dalam ajaran Islam benda-benda seperti batu, kayu, bisa dihuni jin, setan, iblis."

"Betul.. dalam ajaran Hindu pun begitu. Kayu ataupun emas, perunggu, yang mau dijadikan arca harus melalui proses penyucian, disakralisasi. Kalau pelinggih untuk dewa juga ditambah mendem pedagingan. Kalau tidak begitu, maka palinggih tersebut palinggih bhuta kala: iblis."

"Berarti esensinya sama saja kalau begitu."

"Ya begitulah.. coba diajeng renungkan! Kenapa Tuhan disebut Allah?"

"Ya karena memang begitu disebutkan dalam Al-Quran."

"Maksud pertanyaan bli begini: Tuhan yang maha gaib, tak terpikirkan, tak terbatas, sedangkan kemampuan manusia terbatas. Dengan kata lain, para bijak melalui pengetahuan rohaninya Tuhan dijabarkan dengan berbagai perwujudan, sifat ataupun nama, supaya kita mampu memahami Yang Tak Terbatas. Seandainya Tuhan tak diberi nama, bagaimana kita memuja-Nya?"

"Iya juga ya.. haha. Baru paham. Lalu kenapa Hindu India berbeda dengan Hindu Indonesia?"

"Diajeng yang manis senyumnya, pertanyaanmu mematikan. Hehe. Dalam ajaran Hindu dikenal ajaran Dharma Sidhyarta, artinya dalam menerapkan ajaran agama tergantung pada Iksa atau tujuan, Sakti atau kemampuan, Desa atau wilayah, Kala atau Waktu, dan Tattwa atau kebenaran, kebenaran yang diambil berdasarkan mufakat orang suci. Kelima hal itu akan membentuk perbedaan penerapan ajaran hindu di berbagai daerah. Yang paling besar menyebabkan perbedaan itu akibat ajaran Hindu sudah disebarkan sejak jaman dahulu sehingga mengalami kulturasi budaya dan mengalami interpretasi sedemikian rupa. Islam di Arab dengan Islam Nusantara saja sudah berbeda, padahal penyebarannya jauh belakangan daripada ajaran Hindu. Intinya begitu. Benar gak?"

Tak ada jawaban, "Hellooo"

"Haa? Bilang apa tadi? Sempat ngantuk."

"Weleh, weleh.. kalau begitu met bobok ya sayang. Cup muah."

"Cup muah.. suara bli menenangkan jiwaku."

"Gombal!"