Mohon tunggu...
Meidesta Pitria
Meidesta Pitria Mohon Tunggu... Mahasiswa -

Master Student, Architecture and Urban Science, Chiba University, Megacity Design Lab, Japan

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Sepakbola sebagai Media Edukasi bersama Komunitas Pemuda dan Anak-anak di Kampung Cikini

27 Desember 2015   14:49 Diperbarui: 27 Desember 2015   17:14 309
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Education is teaching our children to desire the right things.” – Plato

Minggu pagi satu dekade lalu adalah rentetan film kartun sejak subuh hingga siang hari. Minggu pagi hari ini adalah tentang bermain dengan anak-anak dan mengamalkan edukasi dengan media sebuah permainan populer di seluruh dunia, sepakbola.

Hari ini matahari terbit lebih cepat di Jakarta. Semua anak-anak di Kampung Cikini berhamburan seperti biasa. Minggu adalah hari kesayangan semua orang, tidak terkecuali bagi anak-anak. Mas Ai, salah seorang ketua kelompok pemuda di Kampung Cikini sejak pagi sibuk mengumpulkan belasan pemuda-pemudi Kampung Cikini dan puluhan anak kecil di Kampung Cikini. Se-spesial apakah hari ini?

Sekitar sepuluh mahasiswa Jepang dan enam mahasiswa Universitas Indonesia sibuk membaur dengan pemuda-pemudi. Pembagian tugas seperti mempersiapkan furniture multifungsi: kursi yang bisa menjadi tempat sampah dan memanggil warga untuk meramaikan acara hari ini dibagi dengan sangat baik. Mahasiswa Indonesia yang tentu saja lebih pandai berbahasa Indonesia mencoba menjelaskan kepada warga tentang momen penting hari ini. Mahasiswa Jepang yang sebagian baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta terlihat antusias dan menikmati gurauan dengan anak-anak meski sebatas bahasa tubuh saja.

“Yak! Hari ini kakak-kakak dari Jepang dan juga guru dari Jepang datang untuk bermain sepak bola bersama kakak-kakak dari UI dan dari Cikini. Hari ini spesial karena kita akan menyaksikan pertandingan persahabatan sepakbola Indonesia-Jepang. Oiya, semua sudah mandi?” Amira, mahasiswi UI membuka percakapan dengan anak-anak Cikini. “Sudaaaaah”. “Sip! Nah, adik-adik, biasanya buang sampah dimanaaaa? Hayooo?”

Sebagian menjawab dengan berbisik dan sebagian menjawab dengan senyum. “Yuk, sebelum kita siap-siap nonton kakak-kakak main bola, kita bareng-bareng bersihin sampah di Cikini. Kita bagi kelompok ya, lalu saling membantu mengumpulkan sampah dan taruh di tempat sampah ini!” Amira menunjuk tempat duduk yang memiliki dua fungsi, tempat duduk sekaligus tempat sampah. “Yuuuuukkkk! Asik! Habis ini nonton sepakbola kan ya kaaak? Mau liat kakak-kakak main bolaaaa!” Sahutan semangat dan antusiasme anak-anak memang natural dan membahagiakan.

 
Universitas Indonesia, Chiba University, The University of Tokyo, dan Toyo University berkolaborasi untuk mengadakan Sepakbola Cikini 2015. Idenya sangat sederhana, ingin mendekatkan hubungan dengan warga Kampung Cikini lebih dari sekedar hubungan proyek riset semata. Sudah kurang lebih lima tahun UI-Jepang berkolaborasi dalam berbagai proyek riset dan pemberdayaan masyarakat di Kampung Cikini. Selama ini hubungan yang dibangun dan diskusi yang dilakukan lebih banyak berangkat dari ide riset dan pertemuan formal. Untuk menutup tahun 2015, muncul inisiatif untuk mengadakan acara santai namun tetap edukatif.

Acara utama Sepakbola Cikini 2015 hari ini memang sepakbola. Seragam sepakbola dibagikan, spanduk tidak lupa dicetak, dan juga lapangan Universitas Bung Karno sudah siap untuk menjadi arena sepakbola. Namun, mengumpulkan anak-anak dan kelompok pemuda untuk kerja bakti membuat tempat sampah dan mengumpulkan sampah yang tercecer di sekitar Kampung Cikini adalah acara sampingan yang memiliki peran penting dalam memaknai edukasi. Anak-anak yang antusias menonton pertandingan diajarkan tentang pentingnya memerhatikan lingkungan sekitar.

Membuang sampah selalu menjadi isu yang sepele namun belum banyak menemukan solusi menjanjikan. Sistem pemilahan sampah yang belum ada memaksa lingkungan untuk terbiasa menampung sampah yang tercecer di sembarang tempat, tidak terkecuali di Kampung Cikini. Beruntungnya, sudah sekitar tiga bulan Kampung Cikini menerapkan aturan wajib buang sampah ke tempatnya kepada warga. Peraturan tersebut telah ditaati oleh sebagian warga Kampung Cikini.

Bagi anak-anak, memahami peraturan dilarang membuang sampah sembarangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. ‘Belajar dengan melakukannya secara langsung’ adalah satu cara yang termudah dalam mengedukasi anak-anak. Dalam Sepakbola Cikini 2015, anak-anak diajak untuk menikmati sekaligus menyadari. Edukasi pengumpulan dan pemilahan sampah dengan menggunakan media menyenangkan seperti furniture multifungsi adalah satu cara untuk mengajak anak-anak dan kelompok muda menyadari begitu sederhana dan pentingnya menghargai lingkungan. Meski hanya satu hari, acara Sepakbola Cikini 2015 diharapkan dapat memberikan kebahagiaan sekaligus membagi pesan tentang menjaga lingkungan yang harus dimulai dari diri sendiri.

Antusiasme yang hadir diharapkan dapat memberikan efek jangka panjang, bahkan mungkin hingga seumur hidup mereka. Kita masih ingat bukan, bahwa Indonesia Emas adalah 30 tahun lagi, 17 Agustus 2045, ketika anak-anak ini, para generasi penerus bangsa sedang berada dalam usia produktif, sedang menjadi tumpuan harapan pembangunan Indonesia di masa depan.

Info lebih jauh tentang Megacity Design Lab: https://www.facebook.com/Megacity.Design.Labratory/

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun