Mohon tunggu...
Swasti
Swasti Mohon Tunggu... Lainnya - Swasti

Hari ini aku belajar dan berlatih merangkai kata, karena aku ingin menjadi seorang penulis kelak.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cinta Austerity

20 Maret 2017   20:06 Diperbarui: 21 Maret 2017   06:00 264
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

***

Beberapa hari ini Nadia telah mempertimbangkan masalah ini, di atas platformasmara dan konsistensi. Namun Nadia benar-benar merasa gagal paham atas perubahan sikap Dio.

“Kamu sudah tak sama dengan yang dulu lagi,” tuduh Nadia pada kekasihnya.

Dio berbalik memandangnya dengan sabar,” Apanya yang berubah, Na?”

“Kamu di bawah tekanan ekonomi ya.. Tak pernah membelikanku segelas limun lagi. Juga martabak panas langganan di malam Minggu. Dan lebih dari itu kamu jarang berbagi cerita melalui telpon lagi,” rajuk Nadia dramatis.

"Tak berbagi kisah, berarti aku tak bisa berbagi beban," begitu Nadia melanjutkan. "Bukankah curhat bisa melegakan benak?"

Spektrum nada Nadia berwarna-warni. Merah jingga kuning hijau biru nila ungu, haa… Mejikuhibiningu, batin Dio, terasa lucu.

Nadia cemberut seakan tahu bahwa martabatnya atas permintaan martabaknya, ditertawai Dio,

“Sayang…” Dio berusaha menetralisir.

Aku harus menceritakan alasan yang sesungguhnya, batin Dio.

“Aku sedang cari kerja, sedangkan iklim bisnis sedang surut nih. Nampaknya, ini adalah jaman emergensi,” jelas Dio. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun