Mohon tunggu...
Matawam
Matawam Mohon Tunggu... Seniman - Medioker Profesional

Penikmat musik, pecinta film, penggemar seni, penggila sepakbola.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Wajah Rinduku

16 September 2015   18:14 Diperbarui: 16 September 2015   18:14 78
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Suasana perlahan mulai cair. Hampa yang sebelumnya sempat mendera Guntur perlahan hilang. Guntur mulai bercerita mengenai pekerjaannya, mengenai hidup dengan antusias. Sang bapak mendengarkan dengan seksama sambil sesekali memberikan nasihat mengenai hidup. Sesuatu yang sangat Guntur rindukan dari sosok bapaknya itu, yang membuat Guntur terdiam beberapa saat.

“Halo? Tur..”

“Pak, Guntur kangen sama bapak.”

“Halo? Tur.., Guntur. Halo?”

“Pak, halo pak.., halo?”

“Tur? Halo? Guntur..”

“Iya pak, Guntur masih disini.”

Tiba-tiba sambungan telepon ayah dan anak itu terputus. Guntur menatap telepon genggamnya. Ia berusaha menelpon bapaknya lagi tapi tidak berhasil. Air mata menetes di layar telepon genggam Guntur.

Perlahan, Guntur mulai menangis tersedu-sedu. Air matanya jatuh deras. Telepon genggamnya kembali berbunyi. Guntur dengan sigap mengangkatnya.

“Assalamualaikum,” kata Guntur.

“Waalaikumsalam. Tur, ini ibu.”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun