Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Penulis - Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menulis Makna (41): Menumbuhkembangkan Hidup Doa sebagai Komunikasi Batin

5 Agustus 2021   05:06 Diperbarui: 5 Agustus 2021   05:06 116 21 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menulis Makna (41): Menumbuhkembangkan Hidup Doa sebagai Komunikasi Batin
Illustrasi. letterpile.com

Doa adalah memerlukan kehadiran hati, bukan suara. Tanpa hati, kata-kata takkan berarti. (Mohandas K. Gandhi)

Dalam doa ada sebuah relasi dan kedekatan yang mendalam antara manusia dengan Sang Pencipta dalam sebuah komunikasi personal penuh kepasrahan pada Sang Ilahi. 

Kata-kata terangkai dalam tutur doa yang dilambungkan pada-Nya sebagai sebuah jalinan batin yang tak mungkin dilepas sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun. 

Raga dan jiwa terjulur dalam ketulusan pada-Nya yang menjadi awal dan akhir dari kehidupan di dunia penuh berkah dan anugerah yang tak terkira.

Manusia terkadang jauh dari-Nya, bahkan tak jarang menjauh dari-Nya tatkala ketergantungan tak ada lagi di benak manusia karena merasa mampu menjalani hidup tanpa-Nya. 

Ada kesombongan dan keangkuhan yang merasuk dalam jiwa yang menggerakkan raga untuk menikmati euforia dunia dengan segala keglamoran dan fantasi duniawi. 

Manusia merasa begitu hebat dan tidak memerlukan kuasa Sang Ilahi karena kenikmatan duniawi dirasakan begitu dahsyat dan tak lagi memerlukan bantuan siapapun. Manusia jatuh dalam kedosaan karena kesombongan dan manjadikan dirinya berkuasa atas segalanya.

Illustrasi. careynieuwhof.com
Illustrasi. careynieuwhof.com
Manusia terkadang jauh dari-Nya, tatkala keputusasaan hidup merasuki sendi-sendi kehidupan dan melumpuhkan seluruh pikiran, perasaan, nurani, dan tindakan sehingga manusia jatuh pada keterpurukan hidup yang memprihatinkan. 

Ada gejelok batin yang menembus kepercayaan diri pada Sang Ilahi, yang akhirnya melahirkan apatis dan mosi tidak percaya pada kuasa Sang Ilahi. 

Dalam kekacauan hidup, manusia semakin terjerumus dalam jejaring kegelapan kehidupan yang membodohkan nalar, membusukkan rasa, dan membutakan langkah yang tak jelas arah dan tujuan kehidupan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN