Mohon tunggu...
Martino
Martino Mohon Tunggu... Administrasi - Peneliti dan Freelance Writer

Gemar Menulis, Penimba Ilmu, Pelaku Proses, Penikmat Hasil

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Refleksi Insiden Tolikara: Ketika Media Sosial Meredam Bara

14 September 2016   23:58 Diperbarui: 15 September 2016   02:26 141
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Ditengah kondisi yang begitu panas, beruntung masih ada pihak yang memfungsikan media sosial dengan bijak untuk menenangkan dan meredakan bara permusuhan. Lewat media sosial pula suara pesan damai agar setiap muslim menahan diri dan bersikap benar disebarkan. Atas kesadaran bahwa menanam kebencian dan membalas dendam hanya akan menimbulkan kekerasan yang terus belanjut, berantai tak henti.

Rekonsiliasi Media Sosial

         Kemajuan teknologi yang menghadirkan internet dan media sosial sebagai dimensi penting dalam arus komunikasi, selayaknya dimanfaatkan secara bijak dalam berkehidupan dipelbagai bidang. Selain berperan dalam sistem  komunikasi, internet dan media sosial juga berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan berbagai informasi. Melalui media ini, distribusi informasi secara cepat dan luas menjadi keunggulan.

 Di ranah ini pula keterbukaan dan kebebasan dalam menyampaikan ekspresi, opini dan pendapat mendapat ruang yang terbuka. Hal ini yang menjadikan internet dan media sosial sebagai pedang bermata dua. Tergantung siapa dan bagaimana menggunakannya, media sosial dapat menghadirkan efek konstruktif ataupun destruktif. Termasuk dalam upaya merawat kerukunan beragama.

          Pada era modern, media sosial memiliki riwayat kemampuan untuk membentuk persepsi dan opini publik dalam menyikapi sebuah fenomena yang terjadi dimasyarakat. Lewat media sosial pula, gelombang aksi untuk menggerakan masa kerap terjadi. Kekuatannya dalam menyebar informasi melintas batas terbukti mampu menimbulkan reaksi dalam lingkup lokal, nasional bahkan global. Hal ini pula yang terbentuk ketika insiden pecah di Tolikara.

 Isu intoleransi beragama sebagai isu sensitif yang melatarbelakangi insiden Tolikara begitu cepat menyebar dan menuai reaksi dari banyak pihak, khususnya umat muslim. Tanpa ketepatan menyaring informasi dan bijaksana menyikapi kabar yang beredar, setiap orang cenderung terpancing untuk menghakimi. Inilah yang dapat menjadi ancaman bagi upaya merawat kerukunan beragama.

          Reaksi keras terhadap insiden Tolikara banyak berdatangan dari media sosial khususnya Twitter. Lewat media Twitter berbagai ujaran yang berusaha menenangkan maupun yang meneriakan balas dendam menjadi perbincangan di media sosial. Dari sekian reaksi keras dan kecaman di media sosial, juga bermunculan gelombang aksi simpatik pengguna media sosial yang menggunakan hashtag #SaveMuslimPapua sebanyak 65.000 tweet dan #SaveMuslimdiPapua lebih dari 19.000 kali di Twitter sebagai bentuk dukungan bagi para muslim di Papua pasca insiden Tolikara.

          Masyarakat pengguna media sosial juga tidak mau terjebak pada isu liar yang berkembang dari sikap reaktif dan emosional tetang kabar Insiden Tolikara. Hal ini tergambar dari upaya pengguna media sosial yang mencoba mengklarifikasi apa dan bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Hal ini penting dilakukan agar tidak menimbulkan persepsi yang sesaat tentang fakta yang sebenarnya. 

Merujuk hasil pemantauan pada platform Evello Intelligent Tagging System, pada 18-19 Juli 2015 tercatat 26.065 tweet perbincangan tentang peran GIDI dibalik kerusuhan yang terjadi di Tolikara. Berkaitan dengan hal tersebut sebanyak 5.651 tweet juga memperbincangkan surat edaran yang diterbitkan oleh GIDI. Sementara 1.893 tweet pengguna media sosial mengkonfirmasi bahwa surat edaran yang melatarbelakangi insiden tersebut adalah asli, bukan hoax sebagaimana kabar yang beredar.

          Dukungan untuk melakukan pengungkapan kebenaran dan keadilan juga mengalir lewat media sosial twitter. Ada dorongan masyarakat agar aparat keamanan segera menangkap pelaku dan melakukan proses hukum bagi pihak-pihak yang terlibat dibalik insiden tersebut. Dengan harapan bahwa praktik intoleransi dengan apapun bentuknya tidak lagi menjadi batu sandungan dalam merawat toleransi beragama di masyarakat karena hukum yang berkeadilan. Hal ini tergambar lewat 1.229 ujaran di twitter yang memberi dukungan kepada polisi untuk segera menangkap pelaku dan memproses secara hukum. Disamping itu juga terdapat 886 ujaran twitter yang menyatakan bahwa pelaku penyerangan di Tolikara adalah pelaku teror yang sengaja dilakukan untuk memecah kerukunan umat beragama di Papua.     

Merawat Kerukunan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun