Mahendra Paripurna
Mahendra Paripurna Berkarya di Swasta

Pekerja Penyuka Tulis Baca, Pecinta Jalan Kaki dan Transportasi Umum yang Mencoba Menatap Langit

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Benarkah Guru SMAN 87 Jakarta Mendoktrin Anti-Jokowi, Hoax atau Fakta?

12 Oktober 2018   06:12 Diperbarui: 12 Oktober 2018   08:27 508 1 0
Benarkah Guru SMAN 87 Jakarta Mendoktrin Anti-Jokowi, Hoax atau Fakta?
Kompas.com & Tribunnews.com

Berita menghebohkan kembali terjadi. Seorang Guru dari SMAN 87 Jakarta berinisial N dikabarkan telah mendoktrin siswa-siswanya  untuk anti-Jokowi saat pelajaran sedang berlangsung di sekolah. Peristiwa ini ramai diperbincangkan publik setelah sempat viral di medsos.

Seperti di kutip dari Kompas.com, informasi tersebut awalnya diterima oleh Kepala SMAN 87, Patra, melalui pesan singkat dari seseorang yang mengaku orang tua siswa yang telah menjadi korban doktrinisasi anti-Jokowi. Menurut sms yang diterima, murid-murid dikumpulkan kemudian diputarkan video tentang gempa dan berujung pada doktrinisasi anti-Jokowi.

Karena kesibukannya, Patra baru dapat menindak lanjuti pengaduan tersebut beberapa hari kemudian dengan membentuk tim investigasi dan mengumpulkan data-data pendukung. 

Dari investigasi dengan Guru N, dia mengaku memang mengumpulkan murid-murid di masjid untuk melakukan kegiatan belajar mengajar tentang jenazah dengan memutar video tentang gempa di Palu. 

Guru N menyangkal bahwa materi yang diajarkan berisi doktrin untuk anti-Jokowi. Tapi mengakui bahwa mungkin ada salah satu kata-katanya yang salah ucap ataupun yang mungkin ditafsirkan berbeda oleh muridnya.

Disisi lain ternyata orangtua yang mengadukan telah membuat viral kasus tersebut di medsos. Dan menyebarluaskan nomer hp Kepsek Patra. Tapi sehari kemudian orangtua siswa yang menyembunyikan identitasnya tersebut menghapus postingannya dan no hp nya juga tidak dapat dihubungi.

Melihat perkembangan kasus tersebut Patra kemudian melaporkan kepada Sudin Pendidikan Jakarta Selatan. Yang berlanjut dengan pertemuan di SMAN 87 bersama dengan Bawaslu untuk mendengarkan keterangan Guru N. Dan walaupun menyangkal telah mendoktrin anti-Jokowi namun berujung dengan kesediaan N untuk membuat surat permohonan maaf diatas meterai karena mungkin merasa materi pelajarannya selama ada yang telah membuat tersinggung dan bermasalah bagi seseorang.

Bawaslu yang coba menggali lagi lebih dalam kasus ini belum menemukan bukti-bukti yang cukup kuat karena pelapor sendiri tidak bisa dihubungi dan nomer hp nya mendadak tidak aktif. Menurut Bawaslu jika memang pelapor benar orang tua siswa harusnya merespon dan memberikan keterangan dan bukti untuk menguatkan.

Melihat fakta-fakta yang ada timbul pertanyaan, benarkah laporan tersebut bahwa Guru SMA 87 tersebut telah mendoktrin anti-Jokowi siswa-siswanya ?

Jika melihat dimana ada ketidakjelasan identitas dari si pelapor dan lemahnya bukti yang ada sepertinya kasus ini berpotensi untuk lanjut menjadi episode drama sensasional hoax berikutnya. Kalau kita bandingkan dengan kasus hoax Ratna Sarumpaet (RS) potensi kemiripannya bisa dibilang hampir 90%.

Pada kasus ini bisa diibaratkan RS adalah Si pelapor yang mengaku orang tua siswa sebagai korban sedangkan Guru N dapat diibaratkan sebagai orang atau pelaku yang di akui RS menganiaya wajahnya. Kenapa demikian karena berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh detik.com kepada beberapa orang siswa yang diwawancarai secara acak kesemuanya tidak ada yang melihat ataupun mendengar adanya ungkapan anti-Jokowi dari Guru N pada saat mengajar.

Ketertutupan dari si pelapor yang tidak ingin diketahui identitasnya dan tidak dapat dihubungi saat akan dikonfirmasi lebih lanjut juga menjadikannya mirip dengan RS. Memang tidak menutup kemungkinan hal ini karena si pelapor takut dirinya ataupun anaknya di bully. Tapi yang tahu persis peristiwanya tentu adalah anak si pelapor karena dia yang ada disana bukan si orang tua. 

Siswa ini yang harus diinvestigasi tentang kebenarannya. Karena si pelapor selaku orang tua baru mendengar dari satu mulut siswa dan masih banyak siswa yang hadir pada saat kejadian dan dapat didengar kesaksiannya.

Jika selama ini pelapor punya bukti kuat dan tidak asal ngomong kenapa harus takut karena laporannya pasti dapat ditindak lanjuti. Dan sebaliknya jika memang tidak ada bukti dan data yang kuat bukan tidak mungkin akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Sementara itu di sisi lain dukungan untuk Guru N terus mengalir dari murid-muridnya. Mereka melakukan demo Kamis kemarin di lapangan depan kelasnya pada saat istirahat. Dengan menenteng spanduk bertuliskan "Save Bu N, Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan" dan "You're Never Walk Alone"

Ketua OSIS SMAN 87, Gilang, seperti dilansir tribunnews.com juga mengaku kecewa dengan pemberitaan tersebut karena Guru N dikenal selalu mengajar dengan baik selama ini oleh siswa-siswanya.

Bawaslu juga kabarnya akan meminta bantuan kepolisian untuk menelusuri si pelapor. Karena sama seperti RS kunci semuanya ada pada si pelapor akan ke arah mana kasus ini berkembang berdasarkan bukti dan fakta yang ada.

Semoga kepolisian bisa mengusut tuntas kasus ini seperti pada kasus RS termasuk jika ternyata berkembang menjadi episode hoax jilid berikutnya. Agar jika memang tidak bersalah citra Guru N dapat bersih kembali seperti semula. Karena bagaimanapun sebagai pengajar nama baik seorang guru tentu sangatlah penting.

Dan bagi yang pro maupun kontra Jokowi biarlah Bawaslu dan aparat seperti kepolisian bekerja, harap berhati-hati jangan sampai blunder dan terpancing dengan berita yang belum jelas kebenarannya. Cukuplah episode Ratna Sarumpaet yang mengadu domba antar pendukung capres jangan ada lagi episode hoax berikutnya.