Mohon tunggu...
MAD KHATULISTIWA
MAD KHATULISTIWA Mohon Tunggu... Nelayan - muhammad al dilwan

pelajar

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Rasis Sejak dalam Pikiran

19 Agustus 2019   13:13 Diperbarui: 19 Agustus 2019   13:26 127
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
pinterest.com/Elhipermiope

Dila bertemu Rudi di parkiran kampus. Mereka berdua adalah mahasiswa baru dan baru kali ini Dila melihat secara langsung lelaki berkulit coklat tua dengan rambut hitam keriting. Ia risih dengan perjumpaan ini, takut terjadi sesuatu.

Dalam pikirannya, Rudi adalah orang yang patut diwaspadai. Orang semacam dia mudah tersulut emosinya. Mereka memiliki nyali yang tinggi dan tak segan mengakhiri masalah dengan kekerasan.

Watak mereka tidak terbentuk dari lingkungan peradaban modern. Mereka hidup jauh dari akses pendidikan dan kesehatan. Pengetahuan mereka minim dan bisa mati karena kelaparan.

Tebakan Dila tidak keliru, lelaki itu pasti berasal dari Timur Indonesia. Wilayah tertinggal dari segi pembangunan infrastruktur. Sumber daya manusianya juga selaras dengan pembangunan wilayahnya.

Di pikirannya, Papua adalah bukti nyata sedimentasi semua material ketertinggalan. Bahkan Dila tak habis pikir, bagaimana mungkin di era digital ini masih ada masyarakat yang tinggal di hutan dengan teknologi sederhana. Saat orang kota memesan makanan melalui aplikasi, orang Papua masih ada yang hidup berburu dan meramu.

Dila seketika teringat buku yang ditulis Jared Diamond, Profesor Geografi di Universitas California, yang berjudul Guns, Germs, and Steel. Dalam buku itu dituliskan kalau pola kehidupan orang Papua di era teknologi digital adalah pola kehidupan yang sama pada ribuan tahun silam di Eropa.

Dila buru-buru menghidupkan mesin motornya dan bergegas pergi. Ia memang telah berpindah tempat, tapi wajah Papua masih terngiang di pikirannya.

"Pantas saja bila relawan pendidikan dan kesehatan sering menjadikan Papua sebagai wilayah program kerja mereka," pikir Dila.

Meskipun orang Papua telah banyak yang menempuh pendidikan tinggi baik di dalam dan luar negeri, penilaian terhadap orang seperti Rudi cenderung tidak jauh berubah.

Rudi menyalakan mesin motornya dan dengan mudah mengendalikan kendaraannya di kemacetan jalan perkotaan yang penuh polusi pikiran. Polusi yang akan tetap ada walau hutan Papua dicabut dan dipindahkan ke kota.

Sampai di rumahnya, Rudi bersalaman dengan Ibunya yang Jawa dan Ayahnya yang Sumatera.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun