Lugas Wicaksono
Lugas Wicaksono Swasta

Butiran debu twitter: @lugaswicaksono

Selanjutnya

Tutup

Regional Pilihan

Cahaya di Pesisir Malang Selatan

8 September 2017   17:36 Diperbarui: 9 September 2017   02:26 879 2 1
Cahaya di Pesisir Malang Selatan
Rumah pohon yang sudah terpasang lampu dari listrik yang dihasilkan solar cell adalah salah satu fasilitas yang bisa dinikmati pengunjung untuk menginap di Pantai Sendiki. FOTO/LUGAS WICAKSONO

Pagi menjelang siang Sutikno bersama kolega-koleganya bersiap memasang Photovoltaic (PV)/ Solar Cell atau panel surya di jalan setapak menuju Pantai Sendiki, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (8/9/2017). Ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Sendiki Singo Lelono ini memasang batang-batang pohon yang akan digunakan sebagai tiang penyangga solar cell agar bisa menyerap sinar matahari dengan maksimal sebagai energi listrik.

Pokdarwis yang beranggotakan 40 orang ini beberapa hari sebelumnya baru saja menerima 10 solar cell rakitan dari Universitas Brawijaya (UB) Malang. Setelah menerimanya mereka tidak langsung memasangya karena masih belum memotong kayu sebagai tiang. Mereka kemudian memasangnya sehari sebelum akhir pekan sebagai persiapan menyambut wisatawan yang biasa ramai setiap hari Sabtu. 

Solar cell itu dipasang di sepanjang jalan setapak menuju pantai yang sebelumnya cukup gelap ketika malam hari karena tidak ada penerangan. Melalui solar cell itu energi listrik akan diproduksi memanfaatkan panas matahari yang bisa digunakan untuk memasang lampu penerangan jalan. Solar cell ini berdaya 100 WP dan dalam kondisi normal bisa bertahan sampai 10 jam. Alat ini bekerja dengan mengumpulkan panas dari sinar matahari kemudian menyimpannya dan mengubah panas matahari menjadi energi listrik.

Salah satu solar cell yang dipsang di jalan setapak menuju Pantai Sendiki. FOTO: LUGAS WICAKSONO
Salah satu solar cell yang dipsang di jalan setapak menuju Pantai Sendiki. FOTO: LUGAS WICAKSONO

Sudah dua tahun warga yang tergabung dalam Pokdarwis ini mulai membuka dan mengelola Pantai Sendiki. Pantai ini satu dari puluhan pantai lain di pesisir Malang Selatan. Di pantai berpasir putih yang memiliki panorama cukup indah ini Pokdarwis menambahkan beberapa fasilitas penunjang untuk menarik minat wisatawan mengunjunginya. Antara lain lima rumah pohon, area kemah dan kamar mandi.

Dengan fasilitas tambahan semacam itu mereka memberikan kesempatan wisatawan untuk bermalam sehingga aktivitas di pantai itu 24 jam nonstop. Tentu saja ketika malam hari mereka butuh penerangan baik untuk rumah pohon, tenda-tenda, kamar mandi dan warung-warung di sekitar pantai. Namun sudah sekian lama sampai kini kawasan pantai itu belum teraliri listrik. Setahun lalu Sutikno bersama kolega-koleganya bertemu seorang Dosen Jurusan Teknik Elektro UB, Eka Maulana dan mereka sepakat untuk menggunakan solar cell sebagai penerangan pantai.

Salah satu warung di kawasan Pantai Sendiki memasang solar cell di atapnya. Foto: Lugas Wicaksono
Salah satu warung di kawasan Pantai Sendiki memasang solar cell di atapnya. Foto: Lugas Wicaksono

Eka Maulana bersama sejumlah dosen lain dan mahasiswa UB kemudian memasang tiga solar cell sebagai langkah awal. Satu di pasang di Kantor Desa Tambakrejo, satu di pantai dan satu di jalan setapak menuju pantai. Pemasangan solar cell ini cukup bermanfaat bagi masyarakat. Meskipun dayanya masih rendah tetapi setidaknya bisa sebagai energi listrik lampu penerangan. Di Pantai Sendiki lampu-lampu untuk penerangan rumah pohon, tenda-tenda, kamar mandi dan warung-warung menggunakan listrik yang bersumber dari solar cell. Pantai yang awalnya gelap gulita kini menjadi bercahaya dari lampu-lampu yang dialiri listrik dari solar cell.

"Listrik belum masuk di sini dari dulu, awalnya di sini gelap sekali, tahap pertama UB kasih dua di pantai lumayan bisa buat lampu-lampu di warung-warung, rumah pohon sama kemah jadi tamu bisa nginap aktivitas sampai malam," kata Sutikno.

Desa Tambakrejo yang berlokasi di wilayah pesisir Malang Selatan ini sebenarnya sudah teraliri listrik sejak 1992 lalu setelah desa ini diterjang tsunami. Kecuali di pinggiran desa seperti di Pantai Sendiki sebanyak 1.500 kepala keluarga (KK) rumah-rumahnya sudah teraliri listrik. Namun aliran listrik di desa ini sampai kini tidak maksimal. Warga sudah biasa merasakan pemadaman listrik hampir setiap hari yang satu harinya bisa sampai lima kali pemadaman. Terutama ketika sore dan malam hari.

Warga bersama mahasiswa memasang solar cell di atas rumah warga. Foto: Eka Maulana/UB.
Warga bersama mahasiswa memasang solar cell di atas rumah warga. Foto: Eka Maulana/UB.

Tentu saja dengan seringnya pemadaman ini aktivitas warga yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan ini terganggu. Dari 10 panel surya itu enam di antaranya dipasang di pemukiman warga dan empat dipasang di kawasan pantai termasuk jalan setapak menuju pantai. Listrik yang dihasilkan dari solar cell ini bisa digunakan untuk lampu penerangan rumah dan jalan ketika terjadi pemadaman listrik malam hari.

Di desa ini selain Pantai Sendiki ada tiga pantai lain di antaranya Pantai Tamban, Pantai Pasir Panjang dan Pantai Sendang Biru. Pantai tersebut terakhir merupakan pantai penghasil tangkapan ikan terbesar se-Malang Raya. Sebagai nelayan mereka sangat bergantung dengan es balok dalam jumlah besar untuk menyimpan ikan-ikan hasil tangkapan agar tahan lama. Dengan listrik yang tidak stabil mustahil bagi mereka untuk memproduksi es balok.

Ketika musim kemarau seperti saat ini tiba saatnya musim panen ikan. Mereka akhirnya terpaksa membeli es balok berton-ton yang didatangkan menggunakan truk dari Kabupaten Blitar. Setiap hari sedikitnya ada 15 truk pengangkut es balok tiba yang satu truknya mengangkut sampai enam ton es balok. Tentu saja dengan membeli es balok yang didatangkan dari jauh biaya yang harus dikeluarkan lebih mahal.

"Solar cell bisa juga untuk pendingin ikan gantikan formalin atau pengawet es," ucap Eka Maulana.

Sementara itu, solar cell juga sudah dimanfaatkan nelayan-nelayan di Pantai Sendang Biru sebagai sumber listrik untuk penerangan kapal-kapal ketika mencari ikan pada malam hari. Solar cell itu dipasang di kapal-kapal nelayan karena oleh mereka dianggap lebih hemat daripada menggunakan bahan bakar kapal sebagai sumber listrik. Keramba dan warung-warung juga memakainya. Mereka merakitnya sendiri setelah mendapatkan pelatihan dari mahasiswa-mahasiswa.

Bukan perkara mudah sebenarnya bagi Eka Maulana yang mempunyai ide energi terbarukan ini dapat diterima masyarakat. Ia yang suka berpetualang ini harus perlahan masuk ke lingkungan masyarakat setelah menemukan kenyataan kalau masih banyak wilayah di Malang Selatan yang belum teraliri listrik saat berkunjung ke desa tersebut. Bersama Wakil Dekan III Fakultas Teknik, Dr Slamet Wahyudi dan mahasiswa ia mulai masuk dengan melakukan penelitian dan pelatihan kepada warga desa tersebut. Salah satu hasil penelitian di desa tersebut yaitu penemuan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Maulida Aulina tentang tulang ikan yang bisa menghasilkan sumber listrik. Mahasiswa ini kemudian mengolah tulang-tulang ikan menjadi karbon baterai.

"Sama seperti baterai biasa untuk menyimpan energi, cara kerjanya pakai karbon limbah dari tulang ikan, baterai yang sudah tidak terpakai dibongkar diganti karbonnya dengan karbon tulang ikan, kualitasnya hampir sama," kata Eka Maulana.

Baterai berbahan tulang ikan ini bisa menghasilkan 1,47 volt atau lebih rendah sedikit dari baterai biasa 1,5 volt. Tulang ikan bisa dimanfaatkan menjadi baterai karena banyak mengandung kalsium, enzim dan mineral-mineral. Dalam pengolahannya menjadi baterai tulang ikan ini dicampur dengan garam sebagai reaksi pemicunya. Tulang ikan ini dengan mudah dapat ditemui di Pantai Sendang Biru sampai berkarung-karung karena pembeli cukup membawa pulang daging ikan saja. Pemanfaatan tulang ikan sebagai baterai ini cukup efisien karena bahannya limbah dan lebih ramah lingkungan.

Mereka kemudian melatih warga membuat baterai berbahan tulang ikan. Sembari melatih membuat lampu untuk souvenir sehingga baterai bisa untuk sumber listrik lampu souvenir. Namun penemuan mahasiswa ini masih belum maksimal. "Untuk pengembangannya masih butuh proses panjang. Sebenarnya butuh anak kimia untuk mengetahui kandungan-kandungan di dalamnya. Yang saya gunakan sementara hanya tulang ikan tongkol saja," kata Maulida.

Sementara Eka Maulana berencana mengembangkan penemuan energi listrik tulang ikan itu untuk menambah daya panel surya. Bisa saja tulang ikan untuk baterai solar cell sehingga daya listrik yang dihasilkan akan lebih besar. Namun itu bukanlah sesuatu yang mudah dan butuh proses panjang. "Baterai tulang ikan ini sebenarnya bisa dikombinasikan dengan solar cell tapi butuh riset lagi gak bisa instan dan butuh waktu beberapa tahun untuk wujudkan itu," ucap Eka.

Solar cell sesuai digunakan di kawasan pesisir Malang Selatan karena panas mataharinya cukup besar. "Panasnya matahari melimpah tidak usah beli bandingkan dengan pembangkit listrik yang selama ini pakai batu bara dari fosil. Kita berprinsip mengajak mahasiswa karena pembelajaran tidak hanya di kelas tapi bisa di laboratorium, lapangan lihat potensi di lingkungan sekitar sambil langsung action," ujarnya.

Solar cell juga bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar kapal nelayan. Kini nelayan masih menggunakan bahan bakar minyak pertalite/solar untuk bahan bakar yang sekali melaut saja bisa menghabiskan sampai 30 liter. Kalau solar cell bisa digunakan sebagaj alternatif maka nelayan bisa lebih efisien. "Siang charger bisa malamnya pakai melaut sampai tiga hari tahan," katanya.

Menurut Eka cukup banyak potensi alam di pesisir Malang Selatan yang bisa digunakan sebagai energi alternatif terbarukan. Mulai dari sinar matahari, angin yang cukup kencang, deburan ombak sampai garam semua bisa jadi sumber energi. Hanya saja perlu proses untuk mengembangkannya. "Kita memang bertahap melakukannya gak bisa langsung semuanya meskipun ide banyak. Dalam waktu dekat minggu depan kita akan coba angin di pantai yang lumayan keras pakai kincir angin bisa jadi energi listrik," pungkasnya. (lugas wicaksono)