Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Dwikorita, BMKG, dan Kesiapsiagaan Bencana

2 Januari 2019   21:58 Diperbarui: 3 Januari 2019   07:15 1795
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto : Instagram Dwkorita Karnawati (2 Januari 2019)

Dwikorita mencatat adanya erupsi Anak Gunung Krakatau yang terjadi 20 menit sebelum tsunami terjadi. Dwikorita menyebutkan soal 20 menit 'golden time' antara erupsi gunung Anak Krakatau dengan peristiwa Tsunami. Namun, karena deteksi dini erupsi tidak mampu menangkap situasi dan deteksi dini adanya tsunami tidak bekerja, maka terjadilah.

Sayang sekali, mayoritas alat pendeteksi Tsunami yang kita miliki banyak yang rusak. Dan, penyebab kerusakan ini semestinya diteliti. Apakah memang terdapat kerusakan karena usia peralatan. Atau terdapat persoalan lain pada saat pengadaannya. Atau apa? alasan kerusakan kerusakan alat deteksi dini tidak pernah dibicarakan atau dipertanyakan. Ini aneh. 

Walaupun gempa karena gunung berapi secara umum dapat dikelola, tantangan klasik soal evakuasi masyarakat di wilayah gunung berapi juga berbagai. Satu di antaranya adalah keengganan masyarakat untuk berpindah dari rumahnya. 

Keempat, aspek pendidikan masyarakat terkait kesiapsiagaan bencana dicatat oleh BPMG sebagai suatu keterbatasan. Saya setuju soal ini. Ketika beredar beberapa panduan kesiapsiagaan bencana melalui WA dan media sosial, siapa di antara kita yang membacanya dengan cermat? Boleh saya tahu? Apakah kita telah juga mempersiapkan diri? Siapa di antara kita yang merasa perlu adanya literasi kebencanaan? 

Apakah kita siap bila ada bencana di rumah? Apakah kita siap bila ada bencana di tempat kerja? Apakah kita siap bila ada bencana di tempat publik lainnya? Ketika BPMG, melalui bu Dwikorita hari ini menyampaikan kekuatirannya soal situasi Anak Krakatau yang Siaga 3 dan dicatat adanya kemungkinan erupsi dalam waktu dekat, apa yang kita sudah lakukan? 

Persoalan kesiapsiagaan bencana bukan hanya persoalan Dwikorita, atau BMKG atau lembaga pemerintah saja. 

Betul, bahwa kerja dari mereka yang punya tanggung jawab sebagai pemegang mandat urusan kebencanaan haruslah purna. Namun, masyarakatpun perlu pula memiliki literasi dan  kesiapsiagaan bencana.

Bila BMKG menyatakan bahwa terdapat sekitar 100 juta penduduk Indonesia yang rentan dengan bencana, artinya, 2 dari 5 di antara kita adalah mereka. Mestinya kitapun perlu reflektif dan menjadi bagian dari solusi. Semestinya, kitapun  perlu mencari tahu dan mendidik diri terkait kesiapsiagaan bencana.  

Dwikorita baru baru ini sempat menyampaikan melalui media soal kegagalannya. Yaitu, kegagalannya meyakinkan para pihak dan DPR untuk menyetujui usulan pendanaan dan pengadaan alat deteksi dini tsunami. Itu dia sesali sekali. 

Di luar masalah masalah di atas dan  sorotan media soal kesalahan pernyataan Dwikorita terkait gerhana bulan pada 3 Januari 2018 serta tudingan beberapa pihak soal salah prediksi BMKG terkait tsunami Palu dan Selat Sunda, tugas BMKG memang tidak mudah. Tugas BMKG berat, khususnya dalam situasi dan kondisi serta konteks yang ada.   Banyak bencana, miskin anggaran, kontestasi kepentingan, sejarah tata kelola alat deteksi dini tsunami, dan rendahnya literasi. 

Deretan bencana yang terjadi, bahkan berentet sejak hari pertama di tahun 2019, tentu tak membuat Dwikorita dan timnya di BMKG tidur nyenyak. Saya pikir, siapapun yang menjadi Kepala BMKG punya tugas yang tidak mudah. Bahkan sulit.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun