Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Novelis

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Selamat Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial, Sayang

22 Maret 2019   06:00 Diperbarui: 22 Maret 2019   06:11 254 28 18
Selamat Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial, Sayang
Image by: Wiki Images from Pixabay

-Semesta Dokter Tian-

Atmosfer cafetaria rumah sakit berubah tegang. Berpasang-pasang mata menatap keheranan ke arah meja no. 9. Keluarga pasien, pembesuk, dan paramedis diam-diam menyimak pertengkaran kecil dua dokter senior itu.

"Aku tak mengerti jalan pikiranmu, Tian."

Dokter Anastasia mengepalkan kedua tangan. Dipandangnya wajah Dokter Tian dengan mata menyala.

"Pasien kafir kautolong. Pasien BPJS kausayang-sayang. Dokter Katolik kaugantikan tugasnya, padahal kau sendiri kurang tidur."

"Diam!" sergah Dokter Tian marah. Satu tangannya menggebrak meja. Cake coklat dan pai apel berlompatan ke lantai.

"Apa hakmu mengatur-aturku, Anastasia? Terserah aku mau menolong siapa!"

Gelembung kemarahan pecah. Kedua bahu Dokter Anastasia bergetar. Air mata membasahi pipi putihnya. Sakit, sakit hatinya dibentak kolega yang juga suaminya itu.

"Dan jangan sebut mereka kafir! Aku tidak suka!"

Isakan terlontar dari bibir Dokter Anastasia. Dokter Tian memalingkan wajah. Ia malu punya istri rasis dan intoleran. Terus saja begini tiap kali Dokter Tian menolong pasien non-Muslim dan nonpribumi. Pertengkaran berulang saat Dokter Tian membantu teman seprofesinya yang harus mengikuti Misa Prapaskah. Mengapa kebaikan hatinya selalu disalahpahami?

"Anastasia, mengapa kau benci pasien BPJS? Mengapa kau benci pasien non-Muslim dan nonpribumi? Apa salah mereka?" tanya Dokter Tian interogatif.

"Bagiku, BPJS sama dengan riba. Dan pasien-pasien anehmu itu...hmmmm, mereka tak pantas ditolong. Biar saja mereka mati dan membusuk di neraka."

Sungguh keterlaluan. Sisa warna di wajah Dokter Tian lenyap. Kemarahannya sirna. Tergantikan kesedihan, kesedihan teramat dalam. Selama berumah tangga, dia tidak pernah mengajari istrinya bersikap rasis. Mengapa jadi begini?

Enggan melanjutkan pertengkaran, Dokter Tian bergegas meninggalkan cafetaria. Ia melangkah setengah berlari ke taman rumah sakit. Mengabaikan seruan Dokter Anastasia. Beginilah repotnya beristrikan rekan kerja.

Bangku taman telah menunggu. Dokter Tian mengenyakkan tubuh di atasnya. Ia tuliskan larik-larik puisi di atas sehelai kertas. Tak puas, onkolog itu bangkit. Meraih sesuatu dari dalam tas biolanya. Sekejap kemudian, terdengar alunan musik membelah keheningan taman rumah sakit. Dokter Tian bernyanyi lembut.


Aku memang tak berhati besar

Untuk memahami hatimu di sana

Aku memang tak berlapang dada untuk menyadarii...

Diam-diam Dokter Anastasia menyusul suaminya ke taman. Ia terpana, sempurna terpana mendengar lagu bertempo slow itu. Ah, sulitnya memahami Dokter Anastasia. Ia punya alasan sendiri untuk melarang Dokter Tian terlalu baik pada orang-orang yang berbeda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3