Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Langit Seputih Mutiara] Bekerja dengan Hati

18 Desember 2018   06:00 Diperbarui: 18 Desember 2018   06:19 379
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tiba di ruang rekaman, mereka disambut kejutan tak menyenangkan. Jadd Hamid-ayah Abi Assegaf-menunggu bersama jajaran komisaris Refrain Radio yang kesemuaannya masih termasuk lingkaran keluarga besar. Begitu melihat sang ayah, Abi Assegaf menyalami dan memeluknya. Jadd Hamid dingin-dingin saja menyambut pelukan putra tunggalnya. Adica canggung, dari dulu ia tak pernah dekat dengan sosok yang harus dia panggil Kakek itu.

"Adica anakku, Jadd Hamid datang. Salaman dulu, Sayang."

Seperti menyuruh anak kecil saja. Dengan malu, Adica menyalami Jadd Hamid.

"Sobahul khair, Jadd Hamid." kata Adica ragu. Bahasa Arabnya masih terpatah-patah. Abi Assegaf sedikit mengajarinya.

"Jangan panggil aku Jadd! Cucuku hanya Asyifa!" balas Jadd Hamid kasar.

Adica tertunduk. Abi Assegaf mengusap-usap lembut punggungnya.

"Abi, tolong jangan begitu...Adica cucu Abi juga."

Sedikit aneh rasanya mendengar Abi Assegaf memanggil orang lain dengan sebutan Abi. Jadd Hamid mengepalkan tangan. Wajah keriputnya menahan murka.

"Jangan mengaturku, Zaki! Aku ini ayahmu!"

"Ayah yang meninggalkan anaknya saat anaknya sakit dan lebih memilih bersama istri barunya..."

Suara Abi Assegaf memelan. Hati Adica teriris. Ia sudah tahu masa lalu kelam Abi Assegaf dengan Jadd Hamid. Kakeknya ini telah meninggalkan Abi Assegaf dalam kodisi sakit bertahun-tahun lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun