Mohon tunggu...
Kristianto Naku
Kristianto Naku Mohon Tunggu... Penulis Daring

Penulis Daring dan Blogger. Aktif menulis di blog pribadi, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar harian, dan menjadi editor majalah dan jurnal ilmiah.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Kenapa Negara Melegalkan Kawin Campur antara Agama dan Politik?

21 Desember 2020   20:07 Diperbarui: 21 Desember 2020   20:11 129 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenapa Negara Melegalkan Kawin Campur antara Agama dan Politik?
Karikatur perkawinan antara agama dan poltik. Sumber: redaksiindonesia.com

Agama pada awalnya -- khususnya pada awal-awal sejarahnya -- tidak lain adalah sebuah kekuatan perubahan sosial. Hal ini misalnya dapat dilihat dari sejarah Nabi Muhammad dan sejarah nabi-nabi yang lain, seperti nabi Musa serta apa yang disebut dengan Jesus Movement, atau Buddha dan beberapa pemikir Hindu. 

Mereka pada dasarnya ingin melakukan suatu perubahan yang boleh dikatakan radikal dalam arti mendasar, karena sistem-sistem kehidupan di masyarakat pada masa itu -- sosial-politik-ekonomi -- memang betul-betul bisa dikatakan rusak atau korup.

Dan tidak ada prospek dari masyarakat jahiliyah yang dihadapi oleh Nabi Muhammad, misalnya. Pembicaraan mengenai agama memang bukan soal pretensi, tetapi lebih pada soal mengembalikan pada semangat kemunculan awal agama-agama itu dan juga untuk meletakkan peran dan perspektif dari fungsi agama di masyarakat.

Persinggungan antara agama dan politik adalah sebuah permainan yang dilakoni orang-orang yang tidak berkompetensi. Agama disekap dan dijejal hanya untuk mencapai ambisi pribadi atau kelompok. 

Dalam The Social of Reality Religion, Peter L Berger mengatakan bahwa agar bisa tetap eksis, agama harus mampu melaju di kanal global. Mungkin dengan bahasa lain bahwa agama harus mampu bersaing di pasar global, tertutama menjadi rival kapitalisme.

Ketika agama mampu menjadi pesaing kultur kapitalisme, agama mampu menjadi kendali kemudi kebijakan tertentu. Ketika agama turun ke dunia bursa, agama lantas menjadi barang komoditi. 

Maka, agama di sini tidak bedanya dengan membeli kondom. Artinya, seseorang membelinya untuk menikmati kenikmatan sejenak dan memberi keselamatan. Hal ini tentunya meredusir agama dalam fungsinya, mencabut agama dari tempatnya.

Persoalannya adalah bagaimana mengembalikan agama pada tempatnya yang concern pada masyarakat banyak yang sedang sekarat. Dari sana masyarakat kemudian melihat bahwa agama itu memiliki fungsi pada dirinya sendiri. Jika agama tidak memiliki fungsi, maka agama hanya menyisahkan ampas. Agama sekarang adalah produk komoditi yang laris dipajang di etalase iklan.

Kadang-kadang produk komoditi agama bisa berupa barang yang buruk dalam hal kualitasnya. Barang jualannya buruk, akan tetapi banyak orang membelinya demi sebuah pengakuan sosial, integrasi sosial, kekuasaan dan menjaga prestise. Interes ekonomi dari sebuah agama adalah jelas, dan itu bisa dikalkulasi. Agama dalam hal ini bertugas menafkahi para penunggangnya -- elite politik, pemuka agama, teolog dan lain-lain. Dari agama mereka hidup.

Problem agama telah menjadi tesis yang tidak pernah habis diselesaikan. Dari kelahirannya hingga sekarang, agama telah banyak memakan korban. Agama lantas menjadi senjata pemusnah massal dari waktu ke waktu. Senjata beratribut agama, semakin lama semakin diperuncing.

Mohammed Zahid, dalam bukunya The Muslim Brotherhood and Egypt's Succession Crisis (2010), menulis bagaimana Muslim Brotherhood bentukan Hasan al-Banna mampu menguasai arena politik di Mesir. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x