Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Sejarah Artikel Utama

Fragmen-fragmen Tragedi Mei 1998 dalam Cerita (1)

21 Mei 2018   10:32 Diperbarui: 22 Mei 2018   10:39 2336 5 1
Fragmen-fragmen Tragedi Mei 1998 dalam Cerita (1)
Mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR. (Foto: Arbain Rambey)

Kami akan menceritakan ulang tragedi Mei 1998 dalam beberapa fragmen secara kronologis berdasarkan kesaksian. Kesaksian yang dihimpun dari sejumlah penuturan dan risalah tertulis yang bermodal ingatan.

Kami sadar, menulis bermodal ingatan dapat begitu rapuh dan mudah disangkal. Namun, begitulah sejarah dibangun: pada awalnya ialah simpang-siur yang melayang dan terbang mengikuti arah angin. Kemudian ada pula layang-layang yang mencuri pandangan mata banyak orang, yang ternyata dikendalikan, oleh pemenang.

Tulisan ini sekadar catatan (tentang) sejarah dari jejak-jejaknya yang terserak, lalu kami pungut kembali. Semoga catatan ini mampu menjadi pengingat sekaligus. Semoga.

***

Jakarta, 1998

Anak perempuan itu tidak bisa keluar dari sekolahnya. Ibu guru hanya membolehkan muridnya pulang jika ada yang menjemput. Anak perempuan itu dan teman sekelas lainnya tidak mengerti ada apa dan kenapa --meski sudah dijelaskan.

Tidak mudah memang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ketika itu kepada anak Sekolah Dasar. Bagaimana bisa menjelaskan ketika ada tank-tank turun ke jalan tanpa menjelaskan sedang ada penjarahan di mana-mana? Bagaimana juga menjelaskan kepada anak Sekolah Dasar ketika ada sekumpulan orang dewasa bergerak bersama menduduki sebuah gedung di Senayan?

Satu per satu murid dijemput pulang. Anak perempuan itu masih duduk di meja. Temannya di belakang menyapu lantai, mungkin menunggu dijemput seperti murid yang lain. Anak perempuan itu merenung, tidak mengerti semuanya, kemudian menangis sambil berseloroh, "Bangsaku kenapa begini?"

***

Bogor, 9 Mei 1998

100 mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Djuanda berkumpul di halaman kampus Universitas Djuanda (Unida).Mereka telah bersiap untuk melakukan long march menuju Tugu Kujang. Rekan-rekan mahasiswa Bogor lainnya akan berkumpul di sana.

La Ode, koordinator mahasiswa, sudah siap dengan segala atributnya memimpin massa: meneriakan yel-yel reformasi. Namun pada saat yang bersamaan sekitar 60 anggota polisi mengawal. Pihak kepolisian menjaga di area Masjid Amaliah yang berada tepat di seberang kampus.

Siang itu, tepat pukul 11.00 mahasiswa mulai bergerak maju. Barikade yang dibuat pihak kepolisian mulai merapat. Kedua pihak itu, mahasiswa dan kepolisian, saling bertemu di lapangan parkir yang lumayan luas. Tidak ada kericuhan ketika itu, sampai akhirnya polisi menambah anggotanya menjadi 100 orang untuk membuat barikade.

Terjadi dialog antara La Ode dengan pihak kepolisian. Polisi bersikukuh tidak memberi izin. Demo tidak boleh di luar kampus. Seruan itu berkembang di seluruh kampus di Indonesia. Mahasiswa mundur, kembali ke kampus.

"Aparat menahan supaya mereka tidak keluar dari kampus," ujar Pembantu Dekan III Fisip, Unida, Dra. R. Akhmad Munjin.

ilustrasi: Bentrok antara Aparat dengan Mahasiswa. (Foto: Arbain Rambey)
ilustrasi: Bentrok antara Aparat dengan Mahasiswa. (Foto: Arbain Rambey)
Akhirnya mahasiswa bertahan. Tidak melakukan apa-apa. Lambat-laun massa bertambah: dari supir angkot, pelajar hingga buruh. Jika ditotal sekitar 800 orang telah bergabung.

Barulah ketika sore, selepas Ashar, terjadi sedikit kericuhan. Ada aparat TNI yang mengaku sebagai mahasiswa dari Jakarta. Ia ditanyai sampai akhirnya terpojok. Orang itu lari menuju ke dalam Masjid.

"Ada intel, ada intel," teriak mahasiwa. Mahasiwa mengejar, berpencar. Aparat tersebut keluar lewat pintu samping. Mahasiwa mengadang. Kali ini ia mengaku sebagai petugas DKM Amaliah. Mahasiswa tidak percaya, sebab bagaimana mungkin seorang petugas DKM menggunakan sepatu dinas TNI?

Ketika hendak diamankan, namun kondisi tidak memungkinkan, TNI itupun jadi sasaran.

Universitas Djuanda sudah dikuasai Polisi. Suasana semakin memanas. Pihak kepolisian merespons aksi mahasiwa dengan lemparan dan sebagainya. Satu di antara polisi menembakkan tembakan peringatan. Mahasiswa berlarian. Masuk ke dalam kampus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4