Sosial Budaya

Petarung Cilik dari Pulau Sumbawa

1 Oktober 2014   02:26 Diperbarui: 17 Juni 2015   22:52 1374 0 0
Petarung Cilik dari Pulau Sumbawa
1412074295485549345

[caption id="attachment_326521" align="aligncenter" width="505" caption="Dok. Pribadi Jibeng Ismono"][/caption]

Ada tradisi unik yang masih dipertahankan masyarakat yang tinggal di desa-desa yang tersebar di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Salah satunya adalah tradisi pacuan kuda. Uniknya, pacuan kuda di Pulau Sumbawa ini tidak menggunakan joki dewasa. Tapi joki anak-anak berumur sekitar 6-12 tahun, yang lebih dikenal dengan sebutan Joki Cilik.

Hebatnya, anak-anak berusia belia ini sangat berani dan mahir menunggangi kuda-kuda pacu mereka. Menjadi joki cilik adalah sebuah kebanggaan bagi anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar ini. Meski bertubuh mungil, mereka tak gentar menunggangi kuda bertubuh tinggi besar dan sedikit liar. Para joki cilik ini tak pernah berpikir akan cidera atau celaka. Yang terpenting bagi mereka adalah bisa ikut berlaga, memacu kuda sekencang-kencangnya dan menjadi sang juara.




[caption id="attachment_326893" align="aligncenter" width="504" caption="Dok. Pribadi Jibeng Ismono"]

14122295581973298748
14122295581973298748
[/caption]

Tradisi pacuan kuda sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat yang tinggal di Pulau Sumbawa. Selain menjadi atraksi hiburan, pacuan kuda ini juga menjadi arena untuk menguji nyali para joki. Sekaligus, untuk mengetahui apakah para peternak telah berhasil merawat kuda-kuda mereka dengan baik.

Melalui tradisi pacuan kuda juga dapat mendongkrak harga jual kuda. Sebab, kuda-kuda yang dipertandingkan terbukti tangguh dan kerap menjadi juara tak ayal harganya akan naik berlipat. Fantastis! Harga jual kuda-kuda juara itu bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Pulau Sumbawa adalah salah satu dari dua pulau besar yang berada di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau satunya bernama Pulau Lombok. Selain terdiri dari dua pulau besar, Provinsi Nusa Tenggara Barat juga memiliki 278 pulau-pulau kecil yang akrab disebut Gili. Sementara, untuk luas Pulau Sumbawa hampir tiga kali dari luas Pulau Lombok.




[caption id="attachment_326895" align="aligncenter" width="512" caption="Dok. Pribadi Jibeng Ismono"]

1412229647729824490
1412229647729824490
[/caption]

Ada dua suku utama yang mendiami Pulau Sumbawa. Yaitu Suku Samawa dan Suku Mbojo (Dompu-Bima). Suku Samawa dikenal dengan sebutan “Tau Samawa”. Mereka tinggal di belahan barat pulau. Sementara, Suku Mbojo mendiami belahan sebaliknya. Meski berbeda suku dan bahasa, namun mereka saling menghormati dan hidup rukun berdampingan. Banyak kemiripan budaya dan tradisi antara kedua suku ini. Salah satunya adalah tradisi pacuan kuda.

Masyarakat Samawa (Sumbawa) mengenal tradisi pacuan kuda dengan istilah "Main Jaran". Sementara dalam tradisi masyarakat Mbojo (Dompu-Bima) disebut "Pacoa Jara". Keduanya sama-sama tidak menggunakan orang dewasa sebagai joki. Tapi anak-anak yang masih berumur belasan tahun.

Meski tidak ada yang tahu secara pasti kapan tradisi ini resmi dimulai, tapi rata-rata para joki cilik ini sudah dilatih keahlian menunggang kuda secara turun temurun. Mereka begitu mahir dan berani karena terus ditempa lingkungan dan keluarga. Para leluhur mereka adalah mantan-mantan joki cilik yang juga kerap menjadi juara.

Joki cilik adalah anak-anak bernyali besar. Joki cilik adalah anak-anak tangguh, berani dan bermental juara. Mereka memiliki keberanian dan keahlian yang jarang dimiliki oleh anak-anak sebaya mereka di daerah lain. Karena bagi mereka, kuda adalah sahabat. Kuda adalah teman dan kuda adalah kebanggaan. Kuda bagi joki cilik adalah teman bermain, teman bergembira dan teman yang bisa dipacu berlari sekencang-kencangnya. Joki Cilik adalah para petarung yang lahir dan dibesarkan di luasnya sabana, di Pulau Sumbawa.




[caption id="attachment_326897" align="aligncenter" width="512" caption="Dok. Pribadi Jibeng Ismono"]

14122297191869851335
14122297191869851335
[/caption]

Minggu (27/9/2014), Arena Pacuan Kuda “Kerato Angin Laut” yang berada di Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mendadak ramai. Orang-orang terlihat hilir mudik keluar masuk pintu arena. Tak peduli panas yang begitu terik. Sorak sorai penonton tetap terdengar membahana. Bagi sebagian dari mereka, panas matahari dan debu adalah hal biasa. Karena mereka adalah para peternak dan petani yang lahir dan dibesarkan di daerah sabana.

Hari itu adalah final dari perlombaan pacuan kuda tradisional yang biasa disebut “Main Jaran” oleh masyarakat Sumbawa. Tak pelak, tribun yang menjadi tempat paling teduh di arena pacuan kuda tersebut penuh sesak ratusan penonton. Sebagian dari mereka, bahkan rela berpanas-panas di luar pagar pembatas arena.

Tradisi Main Jaran adalah tradisi turun menurun masyarakat Sumbawa yang digelar pada tiap musim kemarau. Dalam perkembangannya, tradisi ini menjadi salah satu wisata menarik untuk menggenjot pembangunan sektor pariwisata di Kabupaten Sumbawa. Tahun  ini, tradisi main jaran menjadi rangkaian kegiatan Festival Moyo tahun 2014 yang digelar Pemerintah Kabupaten Sumbawa.




[caption id="attachment_326898" align="aligncenter" width="598" caption="Dok. Pribadi Jibeng Ismono"]

1412229783378825542
1412229783378825542
[/caption]

Siang itu, di tengah sorak sorai membahana, sejumlah joki cilik terus berlaga memacu kuda tunggangannya. Meski raut mukanya tampak sedikit tegang, tapi mereka tidak menunjukkan rasa gentar. Harus diakui para joki cilik ini memiliki nyali dan keberanian yang sangat besar. Padahal, mereka berlaga tanpa perlengkapan standar perlombaan pacuan kuda. Mereka hanya mengenakan helm sebagai pelindung kepala, baju dan celana panjang berbahan kaos dan pecut dari rotan yang menjadi senjata andalan utama. Diatas punggung kuda mereka melarikan kuda tanpa beralaskan pelana.

Hari mulai siang dan matahari semakin meninggi. Teriknya terasa membakar pori-pori. Tapi kuda-kuda pacu itu malah kian kencang berlari. Menghamburkan lapisan debu memenuhi arena pacuan kuda Kerato Angin Laut hingga membumbung tinggi. Di atas punggung kuda, tangan-tangan mungil para joki cilik berupaya sekuat tenaga menggenggam tali kekang. Mengendalikan laju kuda-kuda pacu yang seakan tak mau berhenti. Tak terhitung, entah sudah berapa kali sabetan pecut dari rotan para joki ini memukuli bagian tubuh kuda pacu tunggangan. Mereka berlari laksana angin. Berkejaran saling mendahului. Berharap bisa menjadi yang pertama mencapai garis finish. Dan, merebut posisi sang juara.




[caption id="attachment_326900" align="aligncenter" width="640" caption="Dok. Pribadi Jibeng Ismono"]

14122298561689977695
14122298561689977695
[/caption]

Namun, terkadang di tengah berlaga para joki cilik ini juga harus bernasib celaka. Tidak sedikit, para joki yang kemudian harus terlempar dari atas punggung kuda. Hentakan keras kuda-kuda pacu, melempar tubuh mungil para joki di atas tanah lintasan pacu yang keras berdebu.

Meski begitu, pertandingan tidak serta merta berhenti. Seakan cidera yang dialami para joki cilik ini adalah hal lumrah dan biasa terjadi. Para pawang kuda bersama panitia dan tim medis sigap memberikan pertolongan kepada sang joki. Mengejar dan menjinakkan kuda-kuda yang terkadang lepas kendali.

Di atas tribun, hingar bingar penonton terdengar seru menyemangati. Termasuk para pemilik kuda dan orang tua joki. Semua berharap, jagoan-jagoan merekalah yang nantinya memenangkan lomba, dan berhasil menjadi sang juara. Apalagi hadiah yang ditawarkan pada event ini sangat menggiurkan. Juara pertama di masing-masing kelas berhak atas satu sepeda motor berjenis matic. Juara berikutnya berhak atas kulkas, TV dan mesin cuci.




[caption id="attachment_326530" align="aligncenter" width="504" caption="Dok. Pribadi Jibeng Ismono"]

14120766981346919995
14120766981346919995
[/caption]

Dalam tradisi “Main Jaran”, kuda yang akan ditampilkan harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Para Joki Cilik harus mengambil nomor ban (kotak pelepasan). Setelah diperiksa juri terkait kesiapan kuda dan joki, baru mereka diperbolehkan mengikuti pertandingan. Sedikitnya 5-6 ekor kuda dilepas melalui kotak pelepasan sekali balap. Biasanya mereka harus bertanding dua kali putaran mengelilingi lintasan pacu.

Dikutip dari artikel di website resmi www.sumbawakab.go.id, kuda-kuda pacu ini harus disesuaikan berdasar klasifikasi. Yaitu Teka Saru, yakni kelas untuk kuda pemula dan baru pertama kali mengikuti perlombaan. Kemudian Teka Pas untuk kelas yang telah mengikuti perlombaan sebanyak 2-3 kali. Teka A, untuk kuda yang berpengalaman yang tingginya 117 cm sampai dengan 120 cm. Teka B untuk untuk kuda yang memiliki tinggi diatas 121 cm. Kemudian kelas OA untuk kuda yang sudah berpengalaman dan telah nyepo (giginya telah tanggal sebanyak 4 buah) dan tingginya sekitar 126 cm.




[caption id="attachment_326903" align="alignleft" width="300" caption="Dok. Pribadi Jibeng Ismono"]

14122299241017303424
14122299241017303424
[/caption]

Kelas selanjutnya adalah OB yang merupakan kelas diatas OA. Kuda-kuda yang dipertandingkan disini memiliki tinggi 127 hingga 129 cm. Pada kelas Harapan, untuk kuda yang memiliki tinggi 129 cm ke atas dan telah nyepo. Untuk kelas Tunas, kuda pacu memiliki tinggi 129 cm ke atas dan gigi taringnya telah tumbuh. Kelas terakhir adalah kelas dewasa.

Tradisi “Main Jaran” juga menggunakan sistem gugur dalam menentukan sang juara. Babak pertama dinamakan babak guger (gugur). Pada babak ini kuda berusaha memenangkan pertandingan untuk menuju babak penentu sehingga  bisa mencapai babak final.

Sejumlah joki cilik yang berhasil menjadi juara bersorak gembira. Ada yang sengaja melempar helm pelindung ke udara sesaat melalui garis finish. Ini menggambarkan kebanggaan mereka. Turun dari kuda, para joki cilik sontak disambut para orang tua. Dipeluk dan diciumi penuh cinta. Lalu digendong di punggung sang ayah sembari berlari melewati lintasan pacuan kuda. Di belakangnya mengejar sang ibunda sembari meneriakkan rasa syukur dalam bahasa Tau Samawa. “Horeeee....tode kaku ka juaraaa!”