Mohon tunggu...
Darkim
Darkim Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pengangguran Terselubung

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi: Mengenang Sanubari yang Pernah Tersambung oleh Ikatan Putih

7 Agustus 2022   16:34 Diperbarui: 7 Agustus 2022   16:41 79 14 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Seandainyalah engkau tak mampu membaca puisi ini hingga akhir, pastikan namaku engkau kenang dengan kuat dan tertancap hebat dalam hati. permintaan biasa saja, tidak terlalu berat apalagi bagi hati yang pernah tertancap rindu dan kasih putih.

Ingatan ini tentang rentang waktu kita mengarungi bersama samudera biru dengan perahu kecil berkain layar selembar kertas buku, "nekat" katamu. Tetapi ketika kisah ini kita mulai dengan semangat berkobar bak api Merapi, usia kita masih terlalu dini untuk mengerti tentang jenis gelombang dan pasang-surut lautan kehidupan. "Sangat nekat" katamu sekali lagi.

Dan ingatlah ketika puisi ini ku tuliskan di dinding kapal, di sela gelombang pasang yang katamu sebentuk ujian, Engkau memegang tanganku dengan kuat, wajahmu kemerahan menahan terik mentari dan ejekan burung camar. Aku tak mengerti, engkau lagi belum memahami.

Ternyata kita telah melayari hampir setengah lautan bumi, tak terkira bagaimana rasanya angin laut mencubiti ulu hati, sering menerbangkan mimpi yang kita punya tentang persinggahan terakhir penuh pemandangan indah, keromantisan picisan bagi penghuni laut yang tampak iri, atau sesungguhnya kita tengah mempertontonkan sebuah hubungan lucu tentang kepolosan berpikir dan cara pandang. dan kita benar-benar tak peduli dengan penilaian bintang yang bersinar. Sungguh ini murni tentang hati.

Aku sembunyikan puisi ini di papan buritan kapal, agar ketika engkau tertidur dengan senyum terkembang, ketika laut tenang dan sinar rembulan menyapa dari kejauhan, aku berkesempatan menambahkan diksi baru tentang engkau dan keberuntangan hidupku memiliki sebentuk hatimu. Tiada penyesalan, tiada kemalangan. Hanya syukurku kepada Tuhan sang pencipta bentangan lautan, telah mempertemukan dan memberi kesempatan kepadaku memeluk setiamu.

Hari ini, senja ini, aku ingin mengajakmu berlabuh sebentar kepulau indah tempat anak-cucu menyambut dengan mengadakan pesta tanda bahagia. Pakailah pakaianmu yang terindah, senyumlah dengan senyuman yang pernah menakhlukan tinggi tsunami gelombang. Berjalanlah perlahan, tak usah tergesa-gesa, karena kita telah terbiasa berdiam diri seharian demi sebuah kisah dan cerita.

Dan hingga pada suatu saat nanti, ketika engkau sampai pada bait terakhir dari puisi ini, bacalah seksama dengan menghayati segala apa yang pernah terjadi. Dan ketika saat itu tiba, mungkin aku telah terbaring bahagia dalam alam keabadian yang sempurna, pernah mencintaimu dengan segala cara, pernah menyayangi jiwamu hingga maut berjumpa.

Jangan teteskan air mata, jangan biarkan suara hujan mempengaruhi kelembutan dan keteguhan yang pernah dan selalu kita jaga. jangan pernah lagi menyebut namaku ketika air laut menjilati tapak kaki, karena kerinduanku yang ku bawa hingga ke alam sana, akan mengirimkan sinyal ingin jumpa yang menyiksa.

Berjanjilah kepada apa yang engkau yakini telah menjaga hubungan ini, buanglah gulungan puisi ini ketika kata terakhir telah engkau yakini. campakan kelautan dalam, atau bakarlah bersama perahu kecil yang telah berthun-tahun menjadi tumpangan kemudi. Jangan ada yang tersisa, jangan ada yang tertinggal.

Berjanjilah sepenuh hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan