Mohon tunggu...
Kang marakara
Kang marakara Mohon Tunggu... Wiraswasta

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi: Ketika Penulis Patah Pena

24 Juni 2020   06:43 Diperbarui: 24 Juni 2020   06:34 50 21 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi: Ketika Penulis Patah Pena
Pixabay.com

Tiba-tiba aku sangat miskin. Aksara menjadi gelandangan tak bermukim, barisan kata compang-camping tak disiplin.

Tiba-tiba aku merana. Daya kritiku menyentuh ambang duka, tutup mata tutup telinga, berani tega menyaksikan ketidak adilan merajalela.

Tiba-tiba aku jadi pengecut. Tak berani menyuarakan keadilan, hanya sembunyi menanti tepuk tangan.

Tiba-tiba aku menjadi tamak. Berpihak kepada sang congkak, memutar balikan fakta sekedar menelan muak.

Tiba-tiba ku sadari. Nuraniku telah mati, berganti serpihan kepentingan duniawi, bersumberkan nafsu hewani.

Tiba-tiba aku heran sendiri. Ini bukan aku, ini bukan hidupku. Tapi semua  makhluk memujiku.

Tiba-tiba sekali, ku dapati hatiku telah di kerubuti ulat putih. Menjijikan.

Bagan batu, juni 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x