Mohon tunggu...
Jeremi Christian
Jeremi Christian Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Sarjana Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia

Seorang Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Kristen Indonesia yang lahir di bumi Indonesia tepatnya di Jakarta, tanggal 11 bulan 5 tahun 2002 anak ke - 2 dari 2 bersaudara, dan sekarang hanya menjadi mahasiswa semester 2

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Pentingnya Kesehatan Mental dalam Hubungan Internasional

21 Oktober 2021   00:08 Diperbarui: 21 Oktober 2021   00:31 191 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Dunia Internasional sedang mendewakan  konsep Peace, baik perspektif utopia yang digambarkan Imannuel Kant yaitu Perpetual Peace atau tokoh lainnya, dalam hal ini seringkali definisi damai digunakan untuk menggambarkan saat ini, memang secara konvensional sudah tidak ada lagi perang baik di negara konservatif atau progresif dalam kancah global

Negara - Negara saat ini sedang berperan melawan pemikiran rasional mereka demi mencapai konsep perdamaian itu sendiri, akibat hal ini banyak negara mengusahakan mencapai damai itu sendiri dengan banyak aspek, tapi yang ditemukan saat ini adalah fokus mereka terlalu mendewakan beberapa aspek, sering ditemukan bahwa Lembaga dan Global Village di Dunia Internasional terlalu berfokus pada ancaman konvensional dan militer, dan kadang menganaktirikan masalah lainnya, Kajian tentang etika dalam Hubungan Internasional (HI) cenderung terlalu sempit dan  memperhatikan masalah keamanan militer.

Seringkali ditemukan termarginal nya sebuah topik yang berperan penting dalam mencapai yang di idam idamkan semua negara yaitu perdamaian, padahal diketahui definisi damai itu sendiri memiliki beberapa aspek yaitu baik secara ekonomi, politik, sumber daya, lingkungan, personal, dan kesehatan itu sendiri

Oleh sebagian besar sarjana Hubungan Internasional, studi tentang militerisme, diutamakan di atas semua topik lain dalam HI. Apakah peringkat ini menyebabkan kekurangan studi kesehatan mental dalam etika Hubungan Internasional? Meskipun "persimpangan keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan kesehatan telah dieksplorasi di sejumlah arena", dan dilihat dalam literatur etika Hubungan Internasional, dapat diberikan opini bahwa, tidak memiliki fokus khusus pada kesehatan mental dalam kaitannya dengan etika Hubungan Internasional , jika tidak dilakukan inovasi dalam sub- bidang etika Hubungan Internasional untuk memasukkan kerangka etika kesehatan mental, karena jika sejatinya Hubungan Internasional menslogankan Damai adalah bagian dari batang tubuhnya, maka harus dirinci kembali definisi damai yang dikonsumsi

Perdamaian sendiri dapat didefinisi jika ketika suatu entitas mampu menyelesaikan konflik mereka tanpa kekerasan dan dapat bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Ini berarti dalam aspek Kekuatan, Pendapatan dan Aset, Keadilan dan Kesetaraan, Kesejahteraan dan Keamanan, tetapi secara fakta bahwa masalah dalam bidang keadilan dan kesejahteraan seringkali di abaikan seolah tidak menjadi masalah serius dalam Dunia Internasional. 

Walau sebeneranya sudah banyak jurnal dalam area Hubungan Internasional yang memaparkan secara jelas kaitan Mental Health itu sendiri, dalam dunia yang dapat dikatakan Borderless World  masih ada hampir dua juta orang meninggal karena kekerasan setiap tahun (dari bunuh diri hingga kekerasan dalam rumah tangga, hingga kekerasan seksual, hingga kejahatan dan terorisme, hingga perang). Dari  total jumlah itu, hampir satu juta orang meninggal karena bunuh diri saja setiap tahun.  Penyebab utama (lebih dari 90 %) bunuh diri adalah penyakit mental, terutama depresi, tetapi juga skizofrenia dan penyakit mental lainnya

Mental Health sendiri,  Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, adalah "keadaan sejahtera di mana individu menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif dan bermanfaat, dan mampu membuat kontribusi kepada komunitasnya".  

Dalam hal ini dapat dilihat Mental Health adalah hal yang serius dan dapat menjadi Sillent Killer jika dibiarkan berkembang dalam Global Village, walau secara sadar Faktanya, Hubungan Internasional berkembang sebagai tanggapan terhadap Perang Dunia 1 dan 2, di mana kekuatan militer seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Prancis, Jepang, Italia, dll. mengobarkan beberapa perang paling mematikan dalam sejarah manusia. Perang ini dialasankan sebuah konsep realisme yaitu  The balancing of power, artinya pemeliharaan perdamaian dengan cara memeriksa kekuatan dunia dan menyeimbangkan aliansi antar negara, primer setelah Perang Dunia. Jelas, fokus IR pada keamanan, dalam arti sempit, masuk akal, karena konsentrasi yang konsisten, tidak terganggu oleh pertanyaan yang berpotensi kurang penting, adalah pendekatan yang paling aman dan strategis. Oleh karena itu, walau sudah di abad 21, keamanan militer, dalam arti sempit, memiliki landasan yang kokoh dalam HI. Tentu saja, jika kita menganggap serius pendekatan Human Security, kita harus memasukkan diskusi tentang penyakit mental dan bunuh diri dalam studi keamanan

Teori Foucauldian oleh Michael Foucalt, menerapkan pendekatan keamanan manusia secara lebih luas, serta menggunakan wawasan dari disiplin kesehatan mental global, bidang baru yang mencoba membawa kritis ke tingkat internasional. Topik yang cocok untuk interpretasi semacam itu dalam HI adalah masalah gangguan mental dan kaitannya dengan dunia internasional. Isu-isu ini perlu dipelajari secara kritis, karena memang relevan jika kita mengambil pendekatan keamanan manusia secara serius.  

Dan dengan adanya perluasan area pemikiran akan studi dunia internasional dengan fokusnya pada Mental health sendiri kita dapat lebih memprediksi dalam memungkinkan pemahaman yang mendalam dan akurat tentang perilaku suatu entitas terlebih pemangku kekuasaan itu sendiri

Secara Ringkasnya studi tentang etika kesehatan mental sangat penting untuk mendukung prediksi Hubungan Internasional, karena memungkinkan pemahaman yang mendalam dan akurat tentang perilaku. Karena Keamanan manusia menimbulkan tantangan emansipasi individu dari ancaman terhadap kelangsungan hidupnya dan tujuannya untuk pemenuhan kebutuhan, dan darisanalah dapat dilihat pola perilaku para pemangku kekuasaan dan masyarakat global yang seringkali memakai topeng dalam hal mental healthnya. Dan secara nyata seringkali orang dengan gangguan mental tidak di untungkan dalam dunia internasional

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pemerintahan Selengkapnya
Lihat Pemerintahan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan