Ivan Yusuf Faisal
Ivan Yusuf Faisal pelajar/mahasiswa

Bukan jurnalis, hanya sharing. Line: ivanyfaisal|Twitter: @ivan_faisal|FB: Ivan Y. Faisal|Path: Ivan Faisal|instagram: ivanyusuffaisal

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Resolusi Togog

10 Januari 2018   16:48 Diperbarui: 11 Januari 2018   14:51 305 0 0

Ada beberapa hal yang menjadi wajar bagi makhluk seperti Togog, tetapi tidak bagi makhluk kebanyakan lainnya. Beberapa diantaranya adalah kebiasaan tidak merayakan pergantian tahun dengan rencana-rencana yang baru. Bagi makhluk sedower Togog, resolusi selalu ada sebelum mata melototnya merem setiap malam. Kepalanya kadang dipenuhi ke-iri-an dengan adiknya yang bernasib baik; Semar yang menjadi pengasuh Ksatria, dan Bathara Guru yang tetap tinggal di Kayangan. Kadang kepalanya diisi semangat yang jika disuarakan mungkin lebih menakutkan dari genderang perang Kurawa yang sempat membikin gentar Pandhawa.

"Kang Gog, kalo njenengan ditawari hidup sekali lagi, kamu mau tetap kaya sekarang, atau milih jadi kaya adek-adek njenengan?". Tanya Prabu Duryudana dalam pertemuan di Balairung Astina.

"Ndak bakalan ada habisnya, mesti kalopun aku dikasih sembilan nyawa, aku bakal tetap minta satu lagi untuk kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya". Ucap Togog sambil menghadap kaca, njungkati rambutnya.

"Tapi Kang, kalo hidupmu adem ayem nrimo ing pangdum gitu terus, kamu bakal diinjek-injek sama orang yang kamu merasa butuh kepadanya. Njenengan bakal bahaya kalo jadi pemimpin, gampang di stir". Dursasana, adik Duryudana menimpali. Ia tidak terima guru spiritualnya hanya dipermainkan takdir.

"Nah makanya itu aku tidak ikut perang bareng kalian, aku cuma nonton, dan memberi motivasi. Nek koe jadi baik, ya kebaikanmu buat kamu sendiri, aku ndak minta. Tapi dieling-eling le, semua orang punya sangkan paraning dumadi nya sendiri-sendiri. Tugasmu ya nyari itu, kamu itu datang darimana, mau kemana, dan untuk apa. Nashab bapak ibumu cuma lantaran, kamu sendiri yang nentuin arahnya. Dong ra?". Imbuh Togog, Dia duduk bersila, tapi pahanya yang besar terbebani oleh perutnya sehingga akhirnya ia selonjor diantara para petinggi Kurawa itu.

Astina sebenarnya sejuk, pohonnya rindang melebihi rencana tatakota Meikarta. Tetapi suasana disana sedang panas-panasnya menjelang muncul sengketa dengan Pandhawa. Kedua kubu punya backing dari Kayangan. Kalo di Pandhawa dibotohi Semar a.k.a Bathara Ismaya, Kurawa punya botoh Bathara Anthaga alias Togog. HAHA Togog kok jadi Botoh.

"Ora pathek dong kulo Kang Gog". Singkat Prabu Duryudana

"Aku yo ra dong ki kang mas". Lanjut Dursasana sambil melirik ke kakaknya Prabu Duryudana.

"Ngene le, kamu tau kenapa Banowati akhirnya milih Arjuna ketimbang kamu? Karena sejatinya semua orang punya persona. Kamu punya Mayangkara, kalo Banowati punya Mayangsarkara. Semua punya sinarnya masing-masing, tapi pada akhirnya semua akan kembali pada Mayanggasetanya Tuhan. Apalah 'kara' laki-laki dan 'sarkara' perempuan dihadapan 'Gaseta'nya Sang Hyang Gusti Pencipta. Saiki le paling penting, oleh karena kita ndak bisa mengendalikan keadaan, setidaknya kita bisa mengendalikan pikiran kita le". Togog berbicara tanpa koma. Kalo udah gini, sinar ke-Sang Hyang-annya makin menjadi-jadi.

"Yowes aku tak berkelana sik le, aku ndak mau ikut campur sama strategi kalian lawan Pandhawa. Nanti nek butuh apa-apa WA aja". Ucap Togog singkat sambil mengemas barang.

Duryudana dan Dursasana pun salim setelah membantu Togog bangun dari selonjor-nya. Togog melanjutkan perjalanannya ke timur. Dia tidak bilang bakal ke Indraprastra yang notabene basis kekuatan Pandhawa untuk menemui adiknya, Semar.

Di perjalanan Togog pun mikir apa yang ia ucapkan barusan. sebenarnya seperti apa sangkan paran dirinya. Kalo dipikir-pikir, kesaktian apa yang dia punya, diapun bingung. Ada yang bilang kesaktian akan memudar jika kita terlalu juweh atau mudah memberi komentar atas suatu keadaan. Ada baiknya kita jadi pribadi yang sak madyo saja. Fleksibel, tapi tidak mudah hanyut pada keadaan. Sebenarnya Togog pun berprinsip kesaktian tertinggi adalah ketika kita berhasil mengelola diri sedemikian rupa sehingga tak punya musuh; tidak merangsang datangnya musuh; atau puncaknya, ketika diri tidak dapat dimusuhi. Apa salahnya menjadi bagian yang adem dan cenderung kumawula dan tidak pertingsing terhadap kodrat Tuhan. Menjadi satu dengan Tuhan dalam bentuk manunggal kawula lan gusti malah sering diartikan kita punya kehendak seperti Tuhan. Ingin begini begitu tinggal akon-akon ke baturnya. Jadi, sekarang orang tinggi ngelmunya, tapi rendah ngelmu pangawikan pada pencipta.

Sampai di Indraprasta, langit berkabut, orang akan menebak hujan sebentar lagi turun, Togog pun menghentikan pengembaraannya, dia memutuskan menginap di sebuah pondok kecil di pojokan Desa. Bagi Togog tidak afdol dirinya tidak menghampiri saudaranya yang tinggal tak jauh dari penginapannya itu. Di depan rumah yang di ingatnya sebagai rumah saudaranya itu Togog dengan mulut dowernya berteriak-teriak "Mar.. Semar, ini kakakmu datang".

Rumah itu seperti tak berpenghuni. Teriakan Togog berkali-kali tak dijawab oleh empunya rumah.

"Apa Semar sudah pindah ya ?" renungnya dalam hati.

Togog masih setia di depan pintu rumah itu, hingga ada yang menepuk pundaknya dari belakang.

"Plok.." keras pukulannya sampai membuat Togog tersedak. Bibirnya yang panjang menjadi bergelambir kesana kemari karena kaget. "Pak De Togog, to ini ?" seru Petruk.

Menoleh. "Eh...Anakku Petruk" jawab Togog spontan. Sambil mengelus pundaknya "Sakit, Le". 

"Rumah ini sudah lama dijual Pak De" tegas Petruk.

"Hmmm..." gumam Togog.

"Ya sudah, Ayo Pak De saya antar ke rumah Bapak" ajak Petruk.

"Ayo.." barang bawaannya dipanggul di pundak, isinya mungkin seputar perabot pengembaraan. Sebagian Petruk yang bantu membawakan.

Keduanya inipun jalan reruntutan, Petruk menjadi penunjuk arah, Togog dibelakang membututi. Sepanjang jalan Petruk seperti sedang berenergi untuk mencerca pamannya yang sudah bertahun-tahun tidak mampir ke rumahnya. Dari urusan keluarga, pemerintahan hingga perjalanan sunyi menujuujung lahat di tanyakannya seperti tak lelah-lelahnya.

Gubuk itu dari luar nampak kecil. Ukuran minimalisnya meyorong sebuah warna kedamaian, seperti kata orang, pemiliknya bukanpembesar, bukan aktor terkenal, namun kebanyakan orang takdzim pada kesepuhannya.

Dan nampak dari kejauhan, dua orang berperawakan agak tambun besar dan tinggi kerempeng itu menjejakkan kakinya memasuki salah satu pintu rumah, seisi rumah seperti sedang bahagia menyambut kedatangan keduanya.Dari jauh keduanya seperti angka 10 yang bergerak.

Dari dalam, tirai itu terbuka, si gendut berperut lebar yang membukanya. Matanya masih keyip-keyip, rambut yang nampak memutih itu seperti tak siap untuk menerima tamu, acak-acakan tidak tersisir, Semar menguap dan membenarkan posisi sarungnya.Tak disangka, Semar tak merasa ada tamu penting, namun memang mata bening Semar tak salah orang. Tamunya adalah kakaknya sendiri, Sang Tejamaya atau dikenal dengan Ki Lurah Togog.

Sergahnya dengan segera "Ealah,..Kakang to ini tadi, pantesan rame." Hati Semar berbunga, wajahnya sumringah dengan senyum lebar meneduhkan. Dia lantas memeluk kakaknya itu, "Ealah, malah terlihat sama tuanya, mrongos semua"  peluk hangat "Sehat, kan Kang ?".

Acara sambut kangen itu usai. Semar dan anak-anaknya Gareng, Petruk dan Bagong duduk santai di gelaran tikar ruang tamu di temani dering lagu-lagu melodi klasik yang diputar oleh Petruk.

"Aku kesini ini ada perlu sebenarnya Mar" sambil jeda menyalakan korek untuk rokoknya yang sudah terapit bibir lebarnya. "Dirimu kan tahu to, sekarang apa-apa nampak susah. Ini susah, itu susah, semua serba susah, orang-orang tingkahnya susah semua" kepul asap rokok Togog seakan ikut berekspresi.

Giliran Semar membalas kepul asap rokok Togog itu dengan meniup-niup kopi hitam kental di depannya. Dan di sruputlah pada ujung lepeknya.

"Sampeyan kog, malah ikut-ikut susah to Kang, Kang ?", ucap Semar.

Mulut Togog malah nampak makin mancung seperti paruh burung bangau kalau cemberut.

"Pak Dhe ini, pengangguran pasti. Dia berkelana karena susah. Iya to Pak De ?" tanya Bagong yang duduk di sisi kanan Semar sambil ikut mengamati raut wajah tua pamannya itu.

"Ya, ndak to le. Kalau Togog susah, rusak nanti tatanan ini", ucap Semar pada anaknya.

Sela cerita, tingkah Gareng seperti tidak sedang asyik mendengarkan. Dia malah menggores-goreskan kertasnya. Seperti menggambar kedua tokoh di depannya yang tidak segagah dulu, kini dua sosok dihadapannya itu layu dan ompong, keropos dimakan asam garamnya dunia, keok disapu angin yang tak lagi berpihak lagi pada rasa hati keduanya.

"Sedih itu, nggak apa-apa Kang, asal jangan susah" tutur Semar

Mata Togog yang besar itu memancarkan cahayaseolah terus dihantui rahasia "Dulu, kini dan yang akan terjadi, semua harus berubah.Berubah. Semua memang sudah berubah, Mar"

"Sekarang zaman serba canggih Pak De. Internet di mana-mana, orang tambah pinter." sela Bagong lagi.

Mulut Bagong kini ditabok Petruk. "Mingkem o"

Lanjut Gareng "Heeh, yang bodoh dan dungu juga banyak, Su"

Memang begitu tabiat ketiga anak Semar, mereka memang suka ricuh, tapi mereka juga bisa sangat takdzim mendengarkan. Bagong terpaksa diam biar tidak dilanggar haknya lagi oleh saudaranya. Petruk dan Gareng juga terlihat serius kembali memperhatikan percakapan atas kedua mantan Dewa itu.

Togog tenggelam dalam ingatan lalunya. "Dulu, sewaktu kita jadi Dewa, semua serba enak. Tapi semua kayak dibalik sekarang. Wolak-waliking jaman. Hanya sebagai abdi, momong orang. Bawaannya dimarahi, disalahkan. Deritanya setelah jadi manusia biasa itu seperti ini ternyata. Semua dibuat susah. Enakan Bathara Guru, Di. Pasti hidupnya serba kecukupan di Kahyangan" resah Togog.

Gelagak Semar berbeda, sambil membenarkan posisi duduknya dengan nada tinggi ia menyanggah "Kok saged Kang?"

"Pikiren, cobak"

Semar menggeleng-gelengkan kepala pertanda dia tak setuju dengan ungkapan sedikit berputus asanya Togog.

"Begini Kang. Dewa itu belum tentu lho mau dan berani seperti kita ini. Mereka belum tentu bisa sabar seperti kita. Pensiun dari Dewa dan  menjadi pemomong itu mulya, Kang. Tidak semua Dewa bisa lho, melakukan yang kita jalani ini".

"Hmm.." gumam Togog sedikit tersadar. Matanya menerawang.

"Kalau Kakang merasa enak menjadi Dewa, merasa iri dan merasa sengsara menjadi rakyat jelata sekarang ini. Berarti ada yang salah ketika Kakang dulu jadi Dewa. Ingat Kang, sewaktu jadi DewaKakang apa pernah mikirin hidupnya rakyat besok makan apa? Terus raja-raja ini bener atau tidak ? Ndak kan?"

"Salah ya Gong?" bisik Petruk, seolah berfikir sebab tak paham.

"Iya Truk" timbal Bagong tanpa pikir panjang dengan pisang godog yang masih di mulutnya.

"Salahlah, tabiat kita ini kan cuek. Koe rasah melu-melu urusan Bapak sama Pakdhe"cetus Gareng.

"Jangan kedonyan Pakdhe. Iri dan merasa sengsara itu bawaan orang serakah" Bagong menasehati.

"Memang benar semua perkataan kalian" Togog termenung. "Jadi Dewa itu harus bisa jadi rakyat jelata, pun sebaliknya. Kalo nggak siap jadi rakyat jelata, setinggi apapun pangkat Dewanya tentu pasti tak akan mulya. Dewa kan juga sebatas jabatan yang dititipakan. Rak gitu, to Mar? Iya kan Gong?" Togog ganti manggut-manggut.

"Leres, Kangmas", jawab Semar takdzim.

"Pokoke aku Il lam takun 'alayya ghodlobun fala ubali, Mar. Asalkan, Dia, wahai Tuhanku tidak marah padaku, kuterima apapun nasibku di dunoia. Dijunjung po dibanting, laris po tumpur, dianggep radianggep, La Ubali, Ra Patheken", Ucap Togog dengan nada halus, tapi serius.

"Aku tu mau nyambut gawe Mar, Gong, Truk, Reng, di Ibukota. Jadi laden penguasa. Biar bisa cari nafkah. Biar bisa kawin terus punya keturunan yang sakti mandraguna jadi Ksatria dan Panutan kaya Pandhu dan Kunti punya anak Pandhawa." Sambung Togog

"Lak sampeyan sudah punya calon to denger-denger". Ucap Semar halus.

"Wah Truk, kita bakal punya budhe" Ucap Bagong pada Petruk. Lagi-lagi mulutnya ditabok oleh Petruk, "mingkem o,Gong, dengerin Pakdhe" ucap Petruk tegas.

"Tapi aku tu agak minder sama calonku e, Mar. Dia berasal dari keluarga baik-baik, dan aku ndak jelas gini. Aku lagi merayu Tuhan ini biar dia mau sama aku. Nanti aku tak minta izin buat resepsi di Hall Lobby Kayangan. Dia galak sih, tapi kalo dia ndak galak, aku malah kawatir. Aku tu kalo sudah didepannya malah jadi lemah. Kadang ada aja sing bisa di ewakke dari dia. Ada saja hal yang bikin saya cemburu. Hlawong tampilanku mung kaya gini Mar." Kata Togog sambil nyecekbatang rokoknya.

"Tapi Kangmas, adakalanya kita perlu merasa diri menjadi orang tidak baik, agar kita bisa selalu mengusahakan kebaikan. Adakalanya perlu merasa diri menjadi orang jahat, agar tidak ada lagi kejahatan yang mungkin kita timbulkan. Kaya gitu malah lebih baik daripada orang yang merasa dirinya sudah alim banget. Itu bahaya kalau sampeyan sudah merasa jadi orang beres, ndak ada lagi yang dicari ntar. Lagipula Kangmas, merayu Tuhan itu bukan cara yang salah kok. Agama itu esensinya innaddina 'indallah. Kalau sudah begitu, cara tunduk kepada Tuhan itu bukan institusi, bukan nomenklatur. Tapi sistem, program, dan visi misi. Dan ya semoga panjenengan di jodohkan dengan mbak calon kangmas. Ora mikir tumpur po bathi. Sikat semua mas. Tuhan didekati, yang bersangkutan juga jangan dikasih kendor". Semar berkata dengan tatapan tajam ke Togog. Togog mendengarkan setiap detil kata-katanya.

"Selain sama dia, cita-cita saya sekarang itu menjadi semakin 'tidak-ada', Mar. Saya belakangan tidak ada di khalayak, tidak ada di layar kaca, tidak ada dimana-mana, karena saya percaya kalau saya tidak ada, Tuhan akan semakin meridhoi saya. Toh pada akhirnya kita ilaihi rajiun, akan kembali dan menyatu pada Tuhan, Tauhid itu juga bagian dari penyatuan pada Tuhan. Saya kadang takut hidup saya yang sangat sebentar ini, hanya berakhir muspro tanpa daya. Di dunia ini tempat membangun sebenarnya Gong, Truk, Reng. Sekarang kita mencari kayu, mencari batu bata, buat membangun rumah kita kelak di hari pembalasan. Bukan disini tempat sukses. Di hari akhir nanti, kita dihadapkan pada dua keabadian yang susah dibayangkan. Kholidiina fiiha Abadaa. Kholidina itu kekal, tak bisa dibayangkan, dan Abadaa itu abadi. Maka dari itu, calon saya nanti akan saya jadikan penghantar saya kepadaNya. Nyuwun donga lan pangestune aja." Kata Togog mantap.

"Injih Kangmas. Pokoknya kalau butuh bantuan, bilang saja. InsyaAllah kalau bisa, bakal saya bantu". Ucap Semar pendek. Terlihat dari nada bicaranya ia begitu menghormati Kangmasnya, Kangmas Togog.

"Saya juga siap mbantu Pakdhe", ucap Petruk, Gareng dan Bagong nyaris serentak.

Tak terasa haripun sudah semakin gelap. Togog berkemas bersiap kembali ke penginapannya.

Setelah bersalaman, dia pun lantas kembali dan bersiap melanjutkan pengembaraannya.

Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar. Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang memang perlu disesali. Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan?. Masih tersediakah ruang di dalam dada dan kepala kita untuk sesekali berkata kepada diri sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang berdosa bukan hanya ia, tetapi juga kita. Bahwa yang perlu disembuhkan pertama itu bukan apa yang ada diluar diri kita, tapi justru diri kita sendiri dahulu.

Kebanyakan orang kecil adalah orang besar. Mereka bukan hanya berhati tabah bermental baja dan berperasaan terlampau sabar, tapi juga berkemampuan hidup yang luar biasa. Togog melihat orang berjualan mainan anak ditengah pengembaraannya. Dia mbatin, mereka sanggup dan rela berjualan mainan anak yang sudah mulai ditinggalkan dan hampir pasti tidak balik modal. Togog merasa dia mungkin juga sanggup berjualan sepertti itu, tapi tidak rela. Sedang dia merasa dirinya tidak akan mampu dan tidak akan pernah bisa menjadi pembantu atau satpam seumur hidupnya. Mereka ikhlas untuk tidak memikirkan harapan dan masa depan, sedangkan kita selalu memamerkan keduanya, seakan itu untuk mereka, padahal sejatinya itu hanya untuk dirinya sendiri. Togog merasa sebenarnya dirinya sendirilah yang orang kecil. Hanya ikhlas kalau dirinya kaya, sukses dan berkuasa. Kita hanya sanggup menjadi pembesar dan menggantungkan diri pada orang yang kita bisa perintah.

Dari tanah kembali ke tanah. Ada yang tersembunyi padahal bisa kita lihat, begitu pikir Togog.

Ada hal yang tidak biasa hari itu, Togog mengucapkan resolusinya. Segala hal sebenarnya hanya akan kembali pada dirinya, apa yang ia akan perbuat, hanya untuk membawanya kembali pada Tuhannya. Ibukota sudah menanti. Bukan Ibukotanya, tapi calon Ibu dari anak-anaknya kelak.

Langit semakin malam, Ibukota telah menanti.

Tahun yang baru, kehidupan yang baru, dan rencana-rencana yang baru.

Selamat Tahun Baru, Gog.


Yogyakarta, 10 Januari 2018, 16:47 WIB