Mohon tunggu...
Muhamad Iqbal
Muhamad Iqbal Mohon Tunggu... Mahasiswa Komunikasi

Bukan buzzer

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Rambut Gondrong dan Lingkup Persoalan di Sekitarnya

15 November 2020   17:39 Diperbarui: 15 November 2020   17:52 80 0 0 Mohon Tunggu...

Terhitung sudah hampir satu tahun kita menghadapi pandemi bersama-sama, maka terhitung hampir satu tahun pula saya menjalani kuliah secara daring. Yang mana artinya semua kegiatan kuliah dilakukan dari rumah. 

Dan momen seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pria yang sedang bersekolah atau berkuliah untuk memanjangkan rambutnya alias pengin gondrong. Kebetulan dikampus saya memang ada aturan yang mengatur jika mahasiswa dilarang untuk berambut gondong, bahkan ketika ujian tengah semester atau ujian akhir tiba kalian bisa menemukan dosen-dosen yang akan mengecek ketebalan rambut mahasiswanya. 

Jika menurut dosen rambut tersebut dirasa tidak rapi, maka aduhai sudah nasib mahasiswa tersebut tak bisa mengikuti ujian. Namun perkara rambut gondrong ini, didalamnya tidak diatur mengenai ketentuan-ketentun khusus seperti mahasiswa yang berposisii dirumah dan dalam status berkuliah online seperti sekarang ini apakah jadi boleh berambut gondrong ?.Jawabannya kami tidak tahu, dan memang enggan mencari tahu. Sehingga kami atau lebih tepatnya saya seolah-olah melegitimasikan aturan bahwa berambut gondrong ketika kuliah online  tidak apa apa, toh tidak bertemu dengan dosen juga secara langsung.

Lalu singkat cerita gondronglah rambut saya. Saya terakhir memotong rambut di bulan Januari 2020 ketika hendak mengikuti UTS. Setelah UTS selesai, tak lama kemudian kami dihimbau untuk pulang ke kampung halaman masing masing  dan kuliah dilaksanakan secara jarak jauh. Kini ketika tulisan ini ditulis pada 14 November 2020 rambut saya sudah panjang dan sudah bisa dikucir. 

Pertanda jika program gondrongisasi saya berhasil dilakukan. Awalnya menyenangkan sekali ketika memiliki rambut gondrong, merasa menjadi cakep adalah salah satu alasan kenapa menyenangkan. Alasan keduanya banyak teman-teman yang tercengang karena melihat wajah dan bentuk kepala saya dalam variasi yang berbeda, walaupun saya juga yakin banyak teman yang merasa biasa saja sebenarnya.

Tetapi gondrong tidak melulu soal hal-hal menyenangkannya, karena ada hal-hal yang menyebalkananya juga ternyata. Seperti ribet ketika berkendara. Ya, berkendara menggunakan motor dalam kondisi rambut gondrong ternyata cukup riweuh. Saat saya tidak menggunakan helm rambut saya jadi berterbangan tidak karuan. 

Alih-alih membayangkan seperti kumpulan pria macho dalam geng motor yang sedang konvoi dengan rambut melambai-lambai, teman-teman saya malah menganggap saya seperti brokoli yang sedang bawa motor. Giliran saya menggunakan helm seringkali yang ada rambut didepan menutupi mata saya sehingga pandangan menjadi terganggu. Serba susah jadinya.  Ternyata Menjadi pria yang gondrong dan sering berkendara motor  memiliki persoalan krusial tersendiri.

Selain dalam aspek berkendara, gondrong juga kerap menimbulkan masalah pada faktor kebersihan terutama kebersihan rambut. Bagi anda yang jarang dan malas untuk keramas, atau yang keramas pada hari besar thok  kaya pas hari lebaran atau  pas saudara punya hajat saja. Sebaiknya anda jangan pernah sekali-kali berniat untuk memiliki rambut gondrong. 

Mungkin anda merasa tidak masalah dengan rambut anda yang kotor itu, tapi orang-orang disekitar anda yang tersiksa dengan bau apek rambut anda. Apalagi kalau dalam posisi berboncengan. Helm full face saja masih bisa ketembus baunya bos !!!! Jadi jika anda ingin gondrong maka bertanggung jawablah pada kebersihan rambut anda !!!!!

Dan yang terakhir adalah hubungan dengan orang tua, khususnya ibu. Sebagai seorang pria sekaligus anak laki-laki yang selama hampir 19 tahun sebelumnya tidak pernah berambut gondrong dan kini tiba-tiba memiliki rambut gondrong, mungkin ibu saya mengalami semacam ketidaksiapan batin melihat hal tersebut. Pada dasarnya ibu saya memang tidak suka melihat pria atau laki-laki yang berambut gondrong, bahkan sekelas artis yang memiliki muka tampan pun tetap saja dianggap jelek oleh ibu saya karena berambut gondrong. 

Dampaknya kini semua hal selalu dikaitkan dengan akibat rambut gondrong. Beberapa hari yang lalu perut saya merasa mual, dugaan saya masuk angin akibat terlalu sering menggunakan kipas angin sewaktu mengerjakan tugas. Tapi lain halnya dengan hipotesa ibu saya yang menganggap jika  mual itu akibat saya berambut gondrong.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN