Mohon tunggu...
Gamal Albinsaid
Gamal Albinsaid Mohon Tunggu... Dokter - Wirausaha Sosial dan Inovator Kesehatan

Wirausaha Sosial dan Inovator Kesehatan

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Pergerseran Perilaku Konsumen Menuju The Next Normal Pasca Covid-19

20 Juni 2020   14:00 Diperbarui: 20 Juni 2020   14:07 192
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Faktor yang paling memengaruhi Pengalaman konsumen di toko sejak COVID-19 |Dokumentasi pribadi

Transformasi Psikologis Konsumen
Krisis akan memberikan dampak psikologis yang nyata. Hal tersebut dikarenakan rasa ketakutan tertular COVID-19 dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi mereka. Masyarakat akan berusaha melindungi diri dari penularan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Panic buying adalah salah satu contoh perilaku yang muncul akibat ketakutan dan kekhawatiran tersebut.

Berbagai transformasi psikologis, diantaranya adalah peningkatan sensitivitas harga yang diakibatkan oleh keresahan ekonomi. Sebesar 46% konsumen AS dan 28% konsumen Cina mengatakan mereka berencana untuk mengurangi pengeluaran dalam beberapa minggu mendatang. Contoh lainnya adalah social distancing dan stay at home yang akan mendorong peningkatan keterlibatan digital. 

Selama di rumah, masyarakat akan menggunakan berbagai teknologi digital untuk memenuhi kebutuhan, menjalankan kewajiban, bersosialisasi, hingga hiburan.

Krisis akan memberikan bekas bahkan trauma psikologis yang menetap pada masyarakat. Misalnya ketika krisis mengakibatkan mereka tidak dapat mengambil uang mereka di bank. Hal itu akan memberikan dampak psikologis berupa ketidakpercayaan dengan bank.

 Begitu juga dengan kebiasaan berada di rumah, peningkatan kesadaran pada kesehatan dan kebersihan, peningkatan penggunaan teknologi, dan kebiasaan berhemat selama pandemi akan dipertahankan setelah pandemi ini selesai. Itulah adalah perubahan-perubahan yang terjadi dan bisa dijawab.

Banyak perubahan psikologis yang masih perlu dipelajari dan dijawab. Misalnya, apakah akibat stres, tekanan mental yang terjadi, dan ketidakpastian akan meningkatkan permintaan untuk produk dan jasa yang memberikan kenyamanan? Apakah masyarakat akan memilih untuk menabung akibat pengalaman krisis atau sebaliknya membelanjakan uang untuk kenyamanan sebagai respon atas tekanan krisis?

Penurunan Pendapatan Konsumen
 
Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan krisis global di seluruh negeri. Sebagian masyarakat mengalami penurunan pendapatan. Banyaknya penurunan pendapatan berbeda-beda antar negara.  

Negara-negara yang mengalami keparahan penurunan pendapatan adalah Brazil, Afrika Selatan, dan India. Bahkan di negara Cina, dimana masyarakat sudah kembali bekerja, pendapatan masih mengalami penurunan hingga 57%. Penghasilan konsumen yang lebih stabil terjadi di Jepang dan Jerman. Survei dilakukan antara 15 Maret sampai dengan 3 Mei.

Jerman menjadi negara yang terbaik dalam mengatasi kondisi ekonomi. Kita bisa belajar dari Jerman. Di Jerman, Penduduk yang terdampak COVID-19 tidak perlu membayar sewa. Mengusir masyarakat dari rumah adalah tindakan ilegal. 

Masyarakat bisa membayar uang sewa kembali di tahun 2022 setelah kondisi membaik. Masyarakat juga tidak perlu membayar pajak. Berbagai kewajiban pembayaran ke pemerintah juga bisa ditunda hingga tahun depan. Jerman telah menganggarkan 50 miliar euro untuk membantu warga atau perusahaan yang kesulitan.

 Untuk perusahaan kecil, pemerintah akan membantu membayar gaji karyawan hingga 70% dan memberi bantuan hingga 30.000 euro untuk bertahan selama pandemi. Sedangkan untuk perusahaan besar, pemerintah menganggarkan 600 miliar euro sebagai bentuk pinjaman kepada perusahaan besar yang membutuhkan. Jerman telah membelanjakan 60% PDBnya untuk pemulihan ekonomi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun