Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pelaku Bullying Bisa Jadi Juga "Difabel", Terapkan Pidana Sosial Bagi Pelaku Bullying

17 Juli 2017   08:34 Diperbarui: 17 Juli 2017   09:04 205 0 0
Pelaku Bullying Bisa Jadi Juga "Difabel", Terapkan Pidana Sosial Bagi Pelaku Bullying
Gambar reproduksi dari foto viral di media sosial ketika seorang mahasiswa difabel Universitas Gunadarma, Depok, Jabar, dibully oleh teman-tamannya dengan lemparan tempat sampah (Sumber: detikNews)


Pelaku-pelakubullying baik secara nonverbal (fisik) dan verbal (dengan ujaran atau tulisan di media sosial) juga adalah orang-orang yang masuk kelompok 'difabel'.

Kok bisa?

Pelaku bullying adalah orang yang juga mengalami kekurangan yaitu ketika seseorang atau sekelompok orang hanya berani melawan yang berkekurangan dalam hal fisik dan nonfisik. Lebih parah lagi mereka melakukan bullying dengan berkelompok sebagai komplotan dengan cara kroyokan.

Apalagi yang melalukan pengeroyokan secara fisik dan nonfisik (verbal) juga merupakan orang-orang dengan kebutuhan khusus yaitu mencari teman untuk melakukan kekerasan.

Lihat saja mahasiswa Universitas Gunadarma, Depok, Jabar, ini. Mereka melakukan kekerasan fisik terhadap rekan mereka yang mempunyai kebubutuhan khusus. Secara kasat mata dan dengan akal sehat jangankan bertiga atau berempat seperti yang dilakukan mahasiwa Gunadarma itu, satu orang pun tidak akan bisa dilawan oleh mahasiswa difabel tadi.

Tapi, mengapa mahasiswa itu beramai-ramai menghina dan menyakiti teman mereka yang difabel?

Bisa jadi kalau sendirian tidak punya nyali. Atau bisa saja agar kesalahan dan tanggungjawab dipikul ramai-ramai.

Itu tentu saja ranah psikolog untuk mencari tahu apa alasanan mahasiswa-mahasiswa Gunadarma itu melecehkan rekannya yang sudah ditakdirkan mempnyai kekurangan.

Ilustrasi (Sumber: www.millardk12.org)
Ilustrasi (Sumber: www.millardk12.org)

Kaum difabel dan korban bullying ada pada posisi yang tidak mempunyai kekuatan dan suara (powerless dan voiceless) sedangkan pelaku bullying memegang kendali karena ada kekuatan dan suara (powerfull dan voicefull).

Dari aspek agama (Islam) yang perlu dilakukan mahasiswa pem-bully itu adalah sujud syukur karena Tuhan sudah memberikan mereka tubuh yang sempurnya. Juga berdoa agar rekan yang difabel diberikan kemudahan menyelesaikan kuliah. Sayang, tubuh mahasiswa-mahasisa pem-bully yang sempurna itu rupanya tidak sejalan dengan cara berpikir dan hati nurani mereka karena perilaku mereka justru 'sakit'.

Begitu juga dengan siswa-siswa SD, SMP, SMA, SMK, dll. yang menganiaya dengan mengeroyok temanya juga termasuk siswa yang 'difabel' karena melakukan kejahatan dengan cara berkelompok.

Sayang, penyelesaian selalu dengan musyawarah dan kekeluargaan. Langkah hukum pun tidak akan membuat jera. Maka, perlu dipikirkan sanksi sosial bagi pelaku bullying. Di Singapura, misalnya, remaja yang tertangkap tangan melakukan vandalisme, seperti mencoret-coret mobil, gerbong kerata api, dinding bangunan, dll. dengan cat dihukum cambuk dan kurungan.

Celakanya, di Indonesia pakar-pakar selalu membela dan memberikan panggung dengan mengatakan hal itu sebagai kenakalan remaja. Bahkan, UU melarang proses hukum terhadap anak-anak di bawah umur 18 tahun. Maka, kloplah sudah. Kenakalan remaja yang merugikan dan memberikan mereka pembelajaran untuk berbuat onar dan kriminal karena toh tidak akan dijerat dengan hukum pidana.

Ada baiknya hukuman bagi pelaku bullying dan vandalisme diterapkan hukuman sosial, misalnya, melayani difabel di panti asuhan, menyapu jalan raya, membersihkan toilet  tempat-tempat umum dan ibadah.

Hukuman sosial akan lebih efektif  daripada hukuman disiplin sekolah dan kurungan (penjara). Hukuman sekolah tidak efektif karena siswa yang dihukum bisa saja pindah sekolah. Kurungan pun bisa pula jadi 'sekolah' karena narapidana dari berbagai jenis kejahatan. *