Mohon tunggu...
Indra J Piliang
Indra J Piliang Mohon Tunggu... Penulis - Gerilyawan Bersenjatakan Pena

Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara. Artikel bebas kutip, tayang dan muat dengan cantumkan sumber, tanpa perlu izin penulis (**)

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Bangsa Yang Lahir dari Krisis

6 Juni 2020   09:29 Diperbarui: 3 Juli 2020   09:41 464
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dan yang paling penting, krisis membutuhkan saluran. Faktor kepemimpinan, mau tidak mau, menjadi faktor utama untuk mendisain sebuah perubahan akibat krisis. Dipanggilnya pemimpin-pemimpin tua, terutama dari kalangan ekonom, oleh Presiden Soeharto waktu itu menjadi indikasi betapa belum tumbuhnya kepercayaan kepada pemimpin-pemimpin muda. Hal ini adalah suatu kemunduran, mengingat Orde Baru didirikan oleh kaum muda, bersama perwira-perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang juga muda. 

Pemimpin-pemimpin tua, cenderung menggunakan cara-cara atau teori-teori konvensional, untuk masalah-masalah dengan kondisi objektif berbeda. Tapi terserah pemerintah, apakah benar cara-cara itu bisa berjalan efektif. Masyarakat tinggal menunggu. Dan sejarawan, seperti saya, tinggal mencatat keberhasilan, atau kegagalannya.

Lalu, bagaimana sekarang, dalam regenerasi kepemimpinan nasional berupa kehadiran kalangan muda? 

Berulang kegamangan yang sama. Terdapat usaha memberi kepercayaan kepada kalangan muda. Mereka dikenal sebagai staf khusus millenials. Namun, semua tahu, mereka seolah adalah wakil-wakil yang berasal dari dunia usaha, ketimbang terlahir dari pergerakan mahasiswa yang otentik. Jangankan dikenali oleh generasi aktivis mahasiswa era 1970an hingga 1990an, bahkan di dalam generasi mereka sendiri kurang dilihat sebagai representasi. Kita sudah melihat sebagian nasib dari mereka.

Bagaimana dengan krisis akibat COVID 19? 

Kepercayaan yang begitu tinggi kepada kalangan aparatur negara, baik sipil atau militer, justru tak beriringan dengan gelora yang ditransmisikan kepada kalangan muda. Kebebasan berpikir yang berasal dari kaum intelektual, sama sekali tidak mendapatkan saluran yang sebagaimana mestinya. 

Guru besar, dihajar oleh buzzer-buzzer yang sekolahpun tak tamat. Aktivis yang bertahun-tahun hidup melarat, dikerumuni oleh anak-anak kemaren sore yang tiba-tiba keadaan ekonomi mereka melompat-lompat. Lah, masih untung kalau yang disebut itu adalah “anak-anak” dalam artian dikenali nama, alamat, hingga bentuk wajahnya. 

Cilakanya, kerumunan itu adalah akun-akun yang muncul dari sampah-sampah pembuangan electronical collonialism. Mereka bukan pasukan Westerling atau KNIL sisa-sisa tentara kolonial Belanda, tetapi manusia-manusia yang tak berwajah, tapi pandai bermain dalam era teknologi digital.

Akibatnya, seiring dengan pandemi COVID 19, justru aktivisme diluar itu meningkat. Terjadi kanalisasi energi. Percikan-percikan pemikiran. Tantang-menantang di media sosial terjadi dengan para aktivis sebagai pelaku – pun saya melakukannya, secara terbuka mengajukan tantangan berkelahi, misalnya, dengan pihak-pihak yang memberikan tuduhan tanpa data kepada saya --- Energi kaum muda tidak bersatu-padu dalam menghadapi pandemi. Kaum intelektual dikerubuti oleh sengatan-sengatan tawon siang dan malam.

Arif Budiman barangkali sudah menyadari itu. Toh ia tetap bernyanyi, ketika berada di dalam kamar darurat di rumah sakit. Ia tentu sadar, jawaban dari segala sesuatu tak lagi sekadar satu orang. Katakanlah, Sukarno dalam era 1966, dan Soeharto dalam era 1998. 

Ia tahu, jawabannya masih berada pada sekelompok orang, satu generasi, dalam semangat aktivisme yang tak pernah padam. Seperti yang Arif – dan Hok Gie – wariskan kepada saya, pribadi, serta yang lain, lebih dari satu generasi. Gie yang tewas di Puncak Semeru, plus Arif yang tak bisa dikunjungi ketika sakit di puncak pandemi, tak bakal membeku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun